PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
MENJELANG PERNIKAHAN


__ADS_3

Dua hari berlalu, kini aku dan Ibu serta keluarga besar bersiap-siap menuju kota Jakarta. Untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum acara resepsi pernikahanku dengan Rasyid di gelar.


Aku menyandarkan kepala di atas pangkuan ibu. Mendengarkan saja dengan seksama pesan dari beliau. Enggan menyela. Meski dalam hatiku berbagai pertanyaan tumpang tindih.


"Mhet... kenapa sepertinya kamu sedang sedih? Sebentar lagi, kita akan berangkat ke Jakarta lho, Nduk?" Ibu yang menyadari keheningan, memulai percakapan.


Aku tersenyum lembut.


"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"


Aku hanya diam. Merenung. Sebentar lagi kami akan berangkat ke Jakarta. Bukannya memberi kesan terbaik untuk Ibu. Aku malah membiarkan hatinya berkecamuk dengan sikapku yang terlihat merundung.


Dan lagi-lagi aku hanya bisa bengong ketika ibu bercerita dengan mata gemerlap, soal dirinya dengan almarhum Ayah, ketika akan menikah dulu.


"Daffa gimana? Sudah berkabar denganmu?"


Kenapa juga Ibu jadi peduli dengan Daffa? Bukankah beberapa waktu lalu, Ibu sempat bersitegang dengan Ibu Daffa? Runtuk ku terlambat, pertanyaan itu sudah meluncur dari mulutku. Sudah begitu, aku masih penasaran menunggu jawaban Ibu.


Tanpa meninggalkan kesibukannya memasukkan beberapa baju kedalam koper, Ibu menerangkan dengan panjang lebar.


"Ya... karena bagaimanapun juga kalian pernah tumbuh bersama, walau nggak satu rumah... Dan waktu itu..."


Aku mengikuti tiap patah kata yang keluar dari bibir Ibu. Tapi, Ibu tidak mengucapkan apa-apa lagi.


"Terus apa lagi, Bu?" Aku menyentuh lembut pundak Ibu.


"Oh, ya, Daffa pernah bilang sama Ibu, salut sama kegigihan kamu yang tetap pengen jadi seorang penulis terkenal, padahal kamu 'kan dokter. Terus, dia juga berpesan sama Ibu. Kalau kamu jangan sampai meninggalkan cita-cita yang sudah kamu rintis dari nol."


"Terus?"


Ibu terlihat mengingat-ngingat. Mukutnya membulat, "dan dia bilangnya, waktu pas mau pamit kapan hari itu."


Mendengarnya, aku tersenyum lembut.


"Kok malah senyum?"


Ibu menyolek pipiku.


"Nggak, Bu. Ingat waktu Mheta sama Daffa bertengkar gara-gara keinginan Mheta yang pengen jadi penulis."


"Ooh... terus gimana? Dia sudah memberi kabar sama kamu, kalau empat hari lagi kamu akan nikah sama Rasyid?"


"Bu!"


Aku bangkit, tangan kananku memilin-milin ujung jilbab.


"Bu!"


"Iya, Nduk."

__ADS_1


"Kenapa Ibu Daffa bisa semarah itu kepada kita? Ketika tahu, jika Mheta akan menikah dengan pemuda lain. Apa benar, kalau almarhum Ayah pernah menginginkan kami bersama?"


Ibu tersentak. Sejak kepergian Ayah untuk selama-lamanya, Ibu lebih banyak melamun walau sedang beraktifitas, yang mengakibatkan dirinya lebih sering kaget. Terutama jika menyinggung almarhum Ayah. Wajah Ibu akan berubah seratus delapan puluh derajat.


Ibu terlihat menggelengkan kepala dengan pelan.


"Serius?"


Seperti tidak cukup dengan jawaban yang hanya berupa gelengan kepala. Aku berusaha mengejar jawaban Ibu terus. Ibu menerawang, seperti sedang memikirkan sesuatu, mengingat-ingat kejadian lalu, mungkin?


"Kalian itu hanya sebatas teman. Bahkan dari dulu, almarhum Ayahmu saja sering menitipkanmu kepada Daffa kalau kalian sedang bepergian. Bukan karena ingin menjadikan Daffa sebagai menantu Ibu. Bukan. Tapi, karena kami menginginkan anak laki-laki dikeluarga ini." Ibu terlihat menerangkan dengan pelan.


"Ibu yakin?"


"Kenapa kamu meragukan Ibumu sendiri? Bahkan, kemarahan Bi Sum sama Ibu, Ibu anggap sebuah kesalah pahaman. Dan setelah acara pernikahanmu digelar dengan Rasyid. Ibu akan menemuinya dan minta maaf."


Aku melihat raut Ibu seperti terhisap ke dalam lubang masa lalu. Masa yang menyimpan keluarga Daffa sebagai saudara tak sedarah.


Sepertinya Ibu tidak akan lupa semua tentang keluarga Daffa. Juga hari itu.


"Maafin Mheta, Bu... Mheta hanya ingin memastikan saja. Kalau Ibu tidak sedang mengingkari janji dengan keluarga Daffa."


*****


Mentari pagi mulai mengintip dari langit timur. Hiruk pikuk orang-orang berlalu-lalang ingin memulai aktifitas. Hari ini, aku, Ibu beserta keluarga Rasyid tengah bersiap-siap menuju sebuah gedung di kawasan Cijantung. Tepatnya di gedung Nanggala Grup tiga Kopassus.


Hatiku benar-benar merasa takut, kedua sisi lututku serasa berat ketika mulai melangkah memasuki mobil untuk menuju ke gedung tersebut.


Aku tersenyum pias. Hatiku panik tak karuan.


"Jangan takut... ini 'kan masih gladi. Lusa, kamu baru sah menjadi Nyonya Rasyid. Serta akan menjadi menantu pertama perempuan Ibu." imbuh ibu Rasyid sembari memegang jemariku dengan lembut.


Lagi-lagi aku hanya bisa melempar senyum ke arah calon mertuaku tersebut.


Dalam hati, aku mencoba untuk membaca beberapa ayat suci, mulai dari Al-fatihah, An-nas, Al-Falaq, hingga Al-Ikhlas.


Aku tidak boleh terlihat grogi, apalagi takut.


****


Sesampainya di depan gedung, aku segera bergegas turun dari dalam mobil. Mengedar pandang kesegala penjuru. Terihat asri. Hijau. Namun bukan itu yang sedang aku cari. Melainkan mencari sebuah toilet. Entah karena disebabkan oleh rasa panik yang berlebihan, hingga menjadikanku seperti ingin terkencing-kencing.


"Cah Ayu, mau kemana?" sergah Ibu Rasyid.


"Saya mau ke toilet sebentar, Bu?"


Ibu Rasyid tertawa gelak-gelak.


*****

__ADS_1


Senja diufuk barat mulai terlihat kuning tembaga. Entah, sejak mengenal sosok Pengelana, aku menyukai awan merah disore hari itu.


Omong-omong masalah Pengelana, dia tak berkabar denganku sejak pertemuan kami di depan masjid Al-Mubarrok tempo waktu.


Bahkan, terlihat profil wa Pengelana kosong. Entah dia memblokirku atau memang sengaja tak dikasih gambar? Entahlah.


*****


"Mheta... Selamat ya, lusa kamu sudah sah menjadi Nyonya Rasyid." sebuah pesan dikirim oleh Daffa, terlihat ia menyelipkan sebuah emoticon senyum manis di akhir kalimat.


Aku tercekat, memahami kata demi kata yang dikirimnya untukku.


"Kamu ngelamunin apa tha Nduk... Cah Ayu?"


Ternyata tanpa kusadari, Ibu Rasyid telah berdiri cukup lama dihadapanku. Bahkan beliau sempat bertanya beberapa pertanyaan yang memang tak ku sadari.


"Eh... Ibu sejak kapan disini?" Aku tergagap, melihat Ibu Rasyid yang mengambil posisi duduk disampingku.


"Sejak kamu melamun... Ada apa? Kenapa ngelamun?"


"Ng-gak kok, Bu... Ibu tadi tanya apa?"


"Malam ini akan diadakan Yasinan disini, sebelum kamu dan Rasyid menikah." tukas Ibu Rasyid.


Aku tersenyum sembari mengangguk pelan.


"Ponsel kamu nyala tuh... Sepertinya ada yang telepon. Ibu keluar dulu, kamu siap-siap ya?" selorohnya, lalu berlalu dari kamar.


"Daffa?" aku menganjur napas sebelum pada akhirnya menyentuh tombol hijau. "Ada apa?" tanyaku, setelah mengucap salam.


Daffa bertanya padaku, apa aku sudah siap untuk menjadi bagian dari hidup Rasyid. Lalu, akupun menjawab. Siap tidak siap, aku memang diwajibkan untuk selalu siap.


Lalu, Daffa berpesan padaku. Jika aku tak boleh menyia-nyiakan Rasyid. Baginya, Rasyid adalah sosok yang pas untuk menjagaku setelah kepergian Ayah.


Aku menganjur napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara liar. Aku bertanya kepada Daffa, darimana dia tahu, jika Rasyid memang lelaki baik untukku?


Daffa menjawab dari ujung ponsel. Jika ternyata, selama ini Rasyid banyak menanyakam kabar tentangku kepada teman masa kecilku itu.


"Lalu, jika memang kalian sudah dekat. Kenapa kamu tega, pergi ke Korea sebelum pernikahan kami digelar?" kataku parau.


Entah kenapa, ada yang memanas dikedua sisi mataku. Dadaku bergetar. Mengingat semua kejadian yang menimpaku sebelum berpijak di tanah Jakarta ini.


Daffa diam, lima menit, tujuh menit, sembilan menit kami masih saling diam tanpa suara.


Sekali lagi aku menegaskan pertanyaan kepadanya. Masih berharap jika Daffa akan menjawab pertanyaanku.


Daffa hanya menjawab, jika dia ada urusan penting yang tidak bisa di tinggalkan.


Omong kosong macam apa itu? klise sekali bukan? Sejak kapan Daffa punya kesibukan diluar ladang dan kebun?

__ADS_1


Namun, aku hanya bilang. Semoga Daffa selalu baik-baik saja. Dan berharap jika suatu saat nanti kita masih bisa dipertemukan lagi.


__ADS_2