
Selepas dari kamar mandi, segera kutengadahkan kedua tangan. Memohon petunjuk kepada sang pemilik cinta.
Aku menggigit bibir, tak tahu harus membalas pesan Rasyid seperti apa. Pesan itu belum sempat kubalas. Satu pesan dari Pengelan masuk lagi.
“Kamu baik-baik saja kan, M?”
Aku memijat-mijat kepalaku yang tidak pusing.
“Kamu apa kabar?” aku mengetik balasan dan segera ku kirim kepada Pengelana.
Sedangkang nomor tanpa identitas yang mengaku sebagai Rasyid, tidak kupedulikan.
“Alhamdulillah. Maaf ya, M. beberapa bulan ini saya sibuk. Sampai tidak ada waktu untuk berkabar denganmu.” Pesan Pengelana masuk. Padahalselama ini, di tengah waktunya yang begitu sibuk. Dia selalu meluangkan waktu
untuk mengirim kabar padaku. Tapi, kali ini… alasan Pengelana sungguh tidak masuk akal.
Namun, bagimanapun juga. Aku dan Pengelana hanya sebatas teman, bukan siapa-siapa. Jadi, sah-sah saja jika dia tidak memberiku kabar.
“Tidak apa-apa. Saya juga sibuk.” Balasku disertai emoticon senyum.
“Bagaimana kabar Ibu? Sudah sehat?”
Sambil mengetik, aku menganjur napas panjang, “Alhamdulillah, sudah bisa ke sawah.”
“Lalu..”
Kalimat Pengelana menggantung. “lalu, apa?” alisku bertautan sembari menunggu balasan.
“Tidak…”
“Kok tidak?”
“Ya tidak saja.”
Aku membalasnya dengan emoticon marah. Pengelana membalas dengan emoticon tertawa.
Begitulah Pengelana, sampai saat ini. Dia selalu membuatku berdebar, dengan segala tingkahnya.
“Jadi, kapan nikah?” pesan macam apa itu? Berani-beraninya, aku mengirim pesan tersebut kepada Pengelana. Tadinya, pesan itu ingin segera kuhapus. Namun, sudah terlanjur dibacanya.
Pengelana hanya membalas dengan emoticon senyum.
Belum sempat kubalas pesan Pengelana. Panggilan telepon dari nomor yang mengaku sebagai Rasyid masuk.
Sekonyong-konyong aku melempar ponselku keatas kasur. Mendapat sebuah panggilan telepon darinya, seperti sedang berhadapan dengan ratusan bala tentara. Ada rasa takut, marah, benci dan ingin memaki. Tapi tentunya itu hanya ada dalam angan-angan saja.
Kubiarkan panggilan itu sampai berhenti melengking. Sesegera mungkin aku membalas pesan yang ku abaikan dari tadi. “Ada apa? Jangan menelpon saya.”
“Maaf, saya hanya ingin memastikan kalau berkas itu sudah kamu isi.”
“Kalau saya tidak mau mengisi… memangnya kenapa?”
“Bagaimana kita bisa menikah? Minggu depan saya libur. Saya harap kamu bisa ke Jakarta, untuk menemui saya di Batalyon.”
Menemuinya di Batalyon? Dia pikir aku ini perempuan apa? Seenaknya saja menyuruhku untuk menemuinya. Dimana-mana yang ada pihak laki-laki lah yang harusnya datang kerumah perempuan.
“Tidak…”
“Kenapa tidak?” jawaban macam apa itu? Apakah Rasyid tidak mengerti soal unggah-ungguh orang jawa?
“Yang menginginkan saya untuk menjadi istri kan, kamu.
Harusnya kamu yang datang kerumah. Bukan malah menyuruh saya untuk ke Jakarta menemuimu.” Aku mengetik dengan rasa kesal. Beberapa saat kemudian, dia membalas pesanku.
“Bukan begitu… saya sedang sekolah di Bogor. Libur sabtu-minggu. Dan minggu depan saya bisa pesiar sehari. Biasanya tidak boleh keluar.”
“Lalu..”
“Saya harap kamu bisa ke Jakarta.”
Aku tidak membalas pesan Rasyid.
Menemukan cinta, menikah dengan orang yang kita inginkan, adalah dambaan setiap insan, bukan? Bagi kaum hawa, memiliki calon suami yang mampu menjadi qowwam dan imam dalam segala kriteria, adalah impian. Namun,
bagiku. Mempunyai calon suami seorang Rasyid, bukanlah impian. Kami tidak saling kenal, disisi lain aku juga tidak mencintainya. Seperti apa kesehariannya, bagaimana wataknya, aku sama sekali tidak tahu.
*****
Pagi menyapa, suara burung-burung tak bertuan bersiul saling bersahutan.
Biasanya setiap pagi, Daffa melintasi pematang untuk menuju sawah yang terletak disamping kiri rumahku. Namun, semenjak percakapan kami dua hari lalu. Aku tidak pernah lagi melihatnya.
Sebelum berangkat kerja. Aku mulai membereskan rumah, dan menyiapkan sarapan untuk ibu. Hari ini, ibu ingin makan sayur sop dan ikan tongkol goreng kesukaannya. Ditengah kesibukanku memasak. Aku memutar lagu-lagu
yang dikirim Pengelana lewat whatsapp. Ada sesuatu yang baru ku ingat. Pengelana kamarin kirim pesan. Namun, setelah kubalas pesan itu. Dia tiba-tiba offline. Hingga saat ini, aku belum menerima kembali balasan darinya.
“Apakabar kamu hari ini…” diriku seketika memikirkan Pengelana. Apakah dia sudah menikah? Setelah tiga bulan lamanya kami tidak ada komunikasi?
Tiba-tiba saja aku meraih ponsel yang berjejer dengan ricecooker. Melihat apakah Pengelana tengah online pagi ini. ternyata dia belum juga online. Terakhir kulihat dia online di pukul 21.38 wib.
“Mheta…” ibu memanggilku.
“Iya, Bu..” aku segera berjalan menuju suara. “ada apa?”
“Barusan Bu Hari telpon ibu. Dia nyuruh kamu ke Jakarta untuk menghadap Komandannya Rasyid.”
Aku menganjur napas dalam. Memikirkan kata-kata ibu barusan. “Kenapa mesti Mheta yang kesana? Kenapa bukan Rasyid saja kesini, Bu?”
“Lha Rasyid kan sekolah? Mana bisa kesini. Lagian kamu kan diminta untuk menghadap komandannya.” Ibu diam sejenak. “kalau dia nggak sibuk dan bisa pulang pasti dia jemput kamu, Mhet?”
Aku terdiam. Memikirkan jawaban yang pas untuk ibu.
__ADS_1
“Rasyid itu anak baik. Ibu nggak mau menyia-nyiakannya.” Ibu berkata lagi.
“Tapi, Bu… bukan masalah dia baik atau tidak. Mheta nggak kenal Rasyid. Ibu juga, kenapa begitu percaya sama keluarga dia? Ibu hanya ketemu mereka sekali, kan?”
“Ibu percaya, karena Rasyid begitu sayang kepada ibunya.”
“Bukan karena dia punya pangkat? Bu… lbu lupa, jika dulu lbu begitu suka kepada Daffa?”
Ibu dan almarhum ayah memang begitu suka kepada Daffa. Beliau berdua selalu berpesan kepadaku, agar mencari sosok laki-laki seperti Daffa. Apalagi waktu kami berdebat tempo waktu, ibu dan almarhum ayah selalu berpesan kepadaku untuk segera baikan.
“Lho.. ya beda tha. Lawong si Daffa itu Ibu anggap sebagai mas kamu sendiri, nggak lebih. Mana mungkin Ibu menikahkan kamu sama sodara sendiri? Daffa itu sudah Ibu anggap seperti anak sendiri. Dan kalian tumbuh
bersama layaknya kakak beradik. Lagian, ibu Daffa kemaren juga bilang sama ibu, kalau Daffa akan menikah dengan gadis yang bernama Nadia.”
Nadia? Jadi, Bibi sudah menyampaikan tentang siapa Nadia kepada ibuku?
“Sudah, pokoknya lusa kamu berangkat ke Jakarta. Biar nanti sore ibu minta Daffa untuk membelikan tiket kereta untukmu.”
“Tapi, Bu..”
“Udah nggak usah banyak alesan.”
“Mheta beli tiket sendiri aja, Bu. Nggak usah nyuruh Daffa.” Kataku dengan wajah masam.
“Biar Daffa yang beli, soalnya semalam Ibu juga sudah berpesan kepada ibu Daffa. Supaya membelikan tiket untukmu.”
*****
Hari jumat ini, tidak begitu ramai puskesmas. Hanya ada beberapa orang berobat. Pukul dua siang aku sudah pulang.
Sesampai dirumah, terlihat Daffa sedang duduk di bale teras.
“Kamu nyari ibu?” aku bertanya kepadanya. Ada rasa sedikit kaku ketika berhadapan dengan Daffa.
“Nggak.”
Aku menautkan kedua alis. “terus?”
Dia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas pinggangnya. “ini, tiketmu.”
Aku meraih kertas warna putih dipadukan dengan warna biru. “tiket kereta jurusan Gambir.”
“Lho kok ke Gambir? Bukannya Senen ya?” kataku sembari melihat isi tiket tersebut.
“Kata Bibi, kamu berangkat hari ini. kebetulan Senen adanya
malam. Aku nggak mungkin belikan kamu tiket malam.”
“Lha… ini aku berangkat sore ini?” aku terbelalak sewaktu melihat tanggal keberangkatan.
“Bersiap-siaplah, aku akan mengantarkanmu. Kalau kamu naik bus ke stasiun, nggak akan kekejar. Kamu bisa telat dan ketinggalan kereta.”
“Mheta, harusnya kamu senang. Karena akan bertemu dengan calon suamimu.”
“Tahu apa kamu tentang aku.” Aku melenggang masuk rumah. Mencari keberadaa ibu.
Aku melihat ibu sedang tidur siang. Ku urungakn niatku untuk bertanya kenapa aku harus berangkat hari ini.
Ya Tuhan… sial sekali hidupku. Harusnya masa-masa mudaku tidak seperti ini.
****
Sore ini stasiun Jogja begitu padat. Mungkin karena akhir pekan. Kutatap sebuah bangku yang pernah kududuki lima bulan lalu.
Lalu, aku memandang sebuah caffe shop yang sempat menjadi pertemuan keduaku dengan Pengelana.
Ku foto caffe shop itu. Lalu ku unggah ke akun facebook dengan disertai kata-kata.
Banyak hal terjadi diluar kendaliku…
Jatuh hati kepadamu adalah salah satunya…
Kamu mengajariku melawan ketakutan-ketakutan dalam diriku…
Namun…
Kamu lupa mengajariku melawan hal yang penting…
Bagaimana caranya agar aku tidak takut kehilanganmu?
Beberapa menit setelah ku unggah foto tersebut. Banyak emoticon bertaburan di statusku. Ada yang berdesir dalam hati, Pengelana memberi emoticon berbentuk hati.
Ponselku berpedar. Sebuah panggilan masuk dari Pengelana.
Aku tercekat, pasti dia akan membahas mengenai status di facebook ku barusan. Harusnya aku tahu, jika Pengelana berteman denganku di facebook. Harusnya aku bisa menguasai diri.
Mataku memanas. Aku mencoba untuk menahan benteng pertahananku. Aku tidak sedang jatuh cinta kepada Pengelana, bukan?
“Hei..” suara terdengar dibelakangku.
Aku segera menoleh. Wajahku berubah kaget. Melihat sosok yang sedang berdiri tepat dihadapanku.
“Pengelana?”
“Iya ini saya…” Pengelana tersenyum.
“Kok…” aku berhenti berkata. Menutup mulut rapat-rapat dengan kedua tanganku. Bulir-bulir kristal sudah memenuhi kedua pipiku. Dengan segera, aku menyekanya.
“Kenapa nangis?”
Aku menggeleng. Tenggororkanku rasanya tersumbat. Dadaku sesak, hatiku nyeri. Bukan sebuah kebahagiaan yang kudapati ketika bertemu dengan Pengelana saat ini.
__ADS_1
“Kamu tidak sedang melarikan diri lagi, kan?” Pengelana meraih ransel yang sedang kupegang.
Aku terenyak. Tak tahu harus menjawab apa.
“Hei, M. Saya sedang bertanya padamu… kamu tidak sedang melarikan diri, kan?”
“Ti-tidak.” Astaga… suaraku tersendak. Tak seharusnya aku bersikap kaku kepada Pengelana. Dan… untuk apa pula aku menangis?
Pengelana menatapku lekat. “maafkan saya.”katanya.
Aku diam membisu.
“Kamu mau kemana? Kamu lebih terlihat berantakan dibandingkan awal kita bertemu dulu.” Sambungnya menatap kereta yang berlalu lalang di hadapan kami.
Astaga… benarkah jika aku lebih terlihat berantakan? “ke Jakarta.” Aku menjawab sekenanya.
“Oh, jadi kamu melarikan diri ke Jakarta? Mana tiketmu?” Pengelana bertanya.
Aku melihatnya curiga. Jangan bilang kalau dia juga hendak ke Jakarta. Tapi, bisa jadi dia ke Jakarta juga. Sebab, dia memang bekerja di kota tersebut. Namun, tidak mungkin kan? Kalau kita akan duduk di satu kereta,
dengan satu tujuan yang sama. “Untuk apa?”
“Siapa tahu, kita menaiki kereta yang sama.” Jawabnya sembari tersenyum padaku.
Aku menganjur napas, “sok tahu kamu.”
“Aku melarikan diri untuk yang kesekian kalinya, M. rasanya sakit disini.” Pengelana memegang dadanya.
Aku tersenyum pias, tak menjawab.
“Kamu tahu, kenapa aku melarikan diri?”
Aku menggeleng sambil melihat kearahnya.
“Karena saya tidak bisa melupakan seseorang. Sama seperti potongan puisi yang kamu unggah di facebook tadi.”
Mataku melotot. Jadi, Pengelana melarikan diri dari seseorang yang selama ini, membuatnya nyaman?
“Tidak usah sok kaget gitu.”
“Bukan gitu… saya hanya bingung.” Kataku sedikit tegas.
“Bingung?”
Aku mengangguk, “iya.” Aku diam sejenak. “apa kamu melarikan diri untuk seorang Rosa?”
Pengelana tersenyum. Aku tahu, senyumnya kali ini, begitu mengandung kepedihan.
“Itu keretaku, aku berangkat duluan. Jaga diri kamu baik-baik.” Ucap Pengelana.
“Eh… kamu juga naik kereta itu? Ini bukan sesuatu yang kebetulan, kan?”
“Entahlah, yang jelas aku di gerbong 2.” Katanya sembari menyerahkan ransel dan berlalu dari hadapanku.
Tidak biasanya seorang Pengelan bersikap seperti itu padaku.
Namun semenjak kami tidak saling berkabar selama tiga bulan lebih, kini Pengelana begitu berubah.
****
Kereta mulai berangkat. Aku yang tidak satu gerbong dengan Pengelana masih terus memikirkan ucapannya. Dia sedang melarikan diri? Dia bahkan mengatakan jika tidak bisa melupakan seseorang seperti potongan bait
puisiku.
“Rosa..” gumamku. "jangan-jangan Pengelana tidak bisa melupakan, Rosa."
Tiba-tiba ponselku berpedar. Satu pesan dari Rasyid masuk.
“Kamu sudah berangkat? Sampai Gambir jam berapa? Biar di jemput sama junior saya dan istrinya.”
Apa…? Dijemput juniornya? Kenapa dia menyuruhku ke Jakarta jika dirinya saja tidak ada waktu untukku? Aku membiarkan pesan itu tanpa balasan. Rasanya aku ingin ikut dengan Pengelana, kabur dari takdir.
Ponselku kembali berpedar. Pengelana.
“Kamu turun Gambir, kan?” pesan Pengelana.
“Iya.” Aku menjawab singkat.
“Coba lihat, senja sore ini begitu cantik. Saya ingin sekali menikmati senja dengan seseorang.” Pesan Pengelana masuk lagi. Akupun segera menoleh kearah kanan, kebetulan aku duduk di samping jendela. sore ini senja memang terlihat begitu menawan. Warna merahnya begitu cantik.
“Iya… bagus sekali.” Aku mengetik dengan tersenyum.
“Kamu tidak ingin menikmati senja?”
“Sudah… saya sedang menikmati senja dari dalam kereta.” Pesanku,kusertai sebuah emoticon tertawa sampai menangis.
“Kereta senja..” balasnya.
Aku membalas dengan emoticon senyum. Aku membacca pesan Pengelana berulang kali. Hingga akhirnya sebuah panggilan masuk. Nama Rasyid bertengger dilayar ponselku. “Untuk apa kamu nelpon?” gerutuku, sembari
menganjur napas dalam-dalam. Lalu menggeser tombol berwarna hiajau.
“Ada apa?” tanyaku setelah memberi salam.
Rasyid bertanya padaku. Lebih menegaskan kembali pertanyaannya tentang kereta yang kutumpangi, dan sampai Jakarta pukul berapa?
“Turun Gambir. Pukul setengah satu malam.” Aku menjawab dengan nada malas.
Rasyid bertanya kembali, apakah aku sudah makan? Dan dia menyuruhku untuk tetap hati-hati dan waspada.
Aku menjawabnya, sudah makan dan terimakasih. Lalu, kami menyudahi obrolan singkat itu.
__ADS_1