
“Risa? Apa kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya Mega pada menantunya yang terlihat sedikit lelah. Ia sengaja menunggu Allen, Carissa dan Tama menjemput ke kamarnya agar bisa bersama-sama menuju ke gedung yang telah disewa untuk makan malam keluarga sebelum acara yang akan di adakan besok.
“Risa baik-baik saja, Mam.”
“Tunggu sebentar! Apa ini?” Mega menyentuh leher Carissa yang menampakkan bekas memerah. “Apa kamu punya alergi?”
Carissa baru menyadarinya dan menutupi lehernya dengan canggung, “Bu-bukan, Mam. Ini bukan alergi. Mungkin saja tadi tergigit oleh nyamuk.” Carissa beralasan.
“Nyamuk jantan, Tante.” Seloroh Allen.
“Apa! Ka-kalian! Tama!” Mega memandang anak laki-lakinya dengan sengit. “Kamu! Apa yang kamu lakukan pada istrimu!”
“Tama tidak melakukan hal yang aneh, Mam.”
“Iya, itu memang bukan hal aneh. Tapi kamu harus melihat kondisi Risa. Ia sedang mengandung dan pasti kelelahan karena perjalanan panjang, kenapa kamu harus menyerangnya sampai kelelahan seperti ini.” Mega menarik menantunya dan memeluknya. “Kasihan sekali kamu, Risa. Pasti Tama memaksamu, ya?” Carissa bingung bagaimana ia harus bereaksi, karena pada awalnya dialah yang dengan sengaja merayu Tama, walaupun akhirnya Tama tidak bisa mengendalikan dirinya setelah pelepasan yang pertama dan berlanjut pada sesi berikutnya.
“Kenapa Mam selalu berpikiran yang baik tentang Risa dan berpikiran buruk tentangku, sih? Sebenarnya siapa anak kandung Mam?”
“Kamu cemburu sekarang?” tanya Mega dengan tak percaya.
__ADS_1
“Andai saja Mam tau jika Risa yang . . .emm emm emm.” Tama tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Carissa menutup mulutnya segera.
“Em, Mam, Risa baik-baik saja, kok. Jadi bagaimana jika kita langsung saja ke lantai atas? Risa sudah lapar.” Cepat-cepat Risa memberikan alasan.
“Oh, baik-baiklah. Ayo kita cepat ke atas. Mereka juga pasti sudah menunggu kita.” Mega masuk sebentar kedalam kamarnya dan keluar bersama bu Yanti yang mendorong kursi roda nenek Lita. Mega menggandeng menantunya dengan sayang dan memberikan beberapa nasihat untuk calon ibu muda. Sedangkan di barisan tengah ada nenek Lita dan bu Yanti. Di barisan paling akhir, ada Tama dan Allen.
“Kamu sungguh luar biasa, Tama. Bukannya dokter sudah menyuruhmu untuk mengurangi kegiatan kalian yang satu itu?”
“Aku bukan hanya menguranginya, aku bahkan tidak melakukannya. Tapi asal kamu tahu, ternyata perempuan hamil bukan hanya memiliki pasang surut perasaan, namun juga nafsu yang cukup besar. Rasanya sangat tersiksa setiap kali Risa menggoda dan merayuku, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyentuhnya.”
“Apa kamu sedang pamer padaku, hah?”
“Aku hanya sedang membanggakan diri tentang kemampuanku menahan hasrat burukku itu.”
Tama terlihat salah tingkah, “A-aku tidak bisa selamanya menang melawan godaan sedasyat itu.”
“Apakah menikah begitu menyenangkan, Tama?”
“Jika dengan orang yang tepat, maka jawabannya adalah ‘Ya’. Sangat membahagiakan.”
__ADS_1
“Dan Carissa bukan hanya pendamping yang tepat untukmu, dia bahkan bisa menjinakkan binatang sepertimu.”
“Ya, kamu benar. Kamu harus cepat-cepat bertemu dengan ‘Tuanmu’, agar bisa sembuh dari penyakit bebasmu itu.”
“Aku sudah lama menantikannya, tapi . . . belum ada yang pas di hatiku.”
“Saranku, sudahi saja kelakuanmu yang bebas itu selama ini, nanti jika kamu bertemu dengan orang yang tepat, kamu akan stress saat di mana harus menutupi masa lalumu.”
“Seperti kamu?”
“Ya, seperti aku. Tapi aku sudah berjanji, aku tak akan berbohong lagi padanya.”
“Inilah Tama yang telah berubah berkat istrinya. Dia memang pendamping tepat untukmu.” Allen menepuk pundak sahabatnya itu.
Mereka ber-enam memasuki ruangan yang akan di gunakan untuk makan malam keluarga. Di sana Mega mengenalkan Carissa kepada semua keluarga dari pihak suaminya. Semua orang bersemangat saat mengetahui jika Carissa saat ini telah hamil muda. Mereka juga tak henti-hentinya memberikan selamat.
Sedangkan beberapa gadis muda, perhatian mereka tertuju kepada seseorang yang berdiri di sisi nenek Lita. Dengan kedua bola mata yang berwarna biru, cukup membuat Allen menjadi pusat perhatian para gadis muda. Wajah tampannya itu memang cukup mendominasi karena mata birunya.
“Jangan mengacau di sini, semua yang ada di sini adalah keluarga dari ayahku.” Bisik Tama pada Allen saat mengetahui jika temannya itu menjadi incaran beberapa gadis muda di ruangan itu.
__ADS_1
“Jika mereka yang menyerangku terlebih dahulu, kamu kira aku bisa apa, selain menyerahkan diriku tanpa perlawanan.” Jawabnya dengan suara sepelan mungkin.
“Dasar brengsek!” itu adalah pujian yang keluar dari mulut Tama kepada sahabatnya yang masih belum menemukan pawangnya.