
“Seperti bulan tersangkut tiang listrik ngak sih?”
Selepas subuh aku membalas pesan Pengelana tentang foto lampu jalan yang dikirim semalam.
“Centang satu.” Gumamku.
Aku meneruskan kegiatan pagiku. Membaca beberapa halaman, dan mengetik artikel mingguan sambil menikmati sarapan sepiring buah pepaya.
Hari ini, aku tidak ada jadwal dinas alias libur. Semalam aku memang memutuskan untuk pergi ke perpustakaan yang terlatak di jalan Brawijaya, bersama dengan beberapa kawan literasiku. Mungkin akan sedikit sibuk, karena
aku memang sedang mencari bahan untuk dijadikan sebuah novel pesanan dari sebuah penerbit. Ini pengalaman ke empatku, diminta untuk menulis oleh penerbit. Jauh sebelumnya, karya-karyaku selalu tidak direspon oleh pihak mereka.
Di grup literasi, mulai banyak notifikasi tentang kepenulisan. Ada juga beberapa hanya menulis kata ‘nyimak’. Itu sudah biasa dalam ruang lingkup kepenulisan. Aku hanya tersenyum membaca beberapa isi dari percakapan mereka.
Kembali pada pesan yang kukirim ke Pengelana, yang masih terlihat centang satu. Akupun memutuskan untuk bersiap-siap pergi ke perpustakaan umum, sembari menunggu kawan menjemputku. Dari jendela aku melongok keluar. Langit nampak biru. Semoga hari ini tidak turun hujan. Karena aku sedang malas untuk membawa payung kesayangku.
Pengelana baru saja mengirim sebuah pesan lima menit yang lalu. Tetapi dia telah menghapusnya, sebelum aku sempat membacanya. Aku menimbang untuk bertanya, kenapa dihapus? Tetapi aku mengurungkan niatku tersebut.
*****
Sepulang dari perpustakaan kepalaku terasa pusing. Karena takut jatuh sakit. Akhirnya aku memutuskan untuk minum obat dan beristirahat. Namun, mataku sepertinya tidak bisa diajak kompromi. Aku sudah mencoba untuk
memejamkannya, namun pikiranku melanglang buana entah kemana. Aku tidak bisa tidur barang semenit. Akhirnya aku putuskan untuk membuka media sosial sembari berbaring diatas tempat tidur.
Memberi beberapa jempol pada status teman yang memang aku kenal. Memberi ucapan selamat kepada seorang penulis, karena baru saja menelurkan noverl terbarunya. Agak lama berhenti di kolom komentarnya yang sedang obral buku baru, melihat barangkali ada yang cocok.
Aku pun menggeser layar, hingga sampai pada status Pengelana.
‘Lelaki itu menatap sekeliling. Berusaha nyaman dengan aroma dan suasana khas. Dia menangkap berbagai wajah dengan ekspresinya
masing-masing. Lelaki itu berdiri begitu namanya disebut. Seorang petugas membukakan pintu dan tersenyum padanya. Diapun menyerahkan map kepada lelaki tua ber jas putih, yang kemudian dengan seksama memeriksa kertas-kertas dalam
map itu.”Sudah siap operasi besok?” lelaki itu hanya tersenyum dan mengangguk dengan pelan.’
“Siapa yang mau operasi?”
Pengelana online. Aku berdebar menunggu balasannya. Selama lima menit menatap layar. Kemudia dia mengirim gambar mawar dengan emoticon senyum. “Ini bunga asli, bukan imitasi.”
Tentu saja itu canda yang tidak lucu. Karena aku bertanya serius.
“Siapa yang sakit?” aku butuh jawaban.
“Tenang, saya masih bisa bangun. Memegang bunga bahkakn memotretnya untuk kamu.”
Itu artinya, Pengelana yang sakit?
“Sakit apa?” dadagu seketika berdegup kencang. Sakit apa hingga dia harus operasi?
Pengelana membalas dua menit kemudian. Ia mengirim sebuah foto sambil mengatakan, “ini rahasia, kita.”
Aku mencoba meneliti hasil pemeriksaan CT-Scan. Oh Tuhan, tidak mungkin dia mengidap penyakit itu?
__ADS_1
“Serius kamu sakit itu?”
“Memangnya saya sakit apa?”
“Kamu yang sakit?” akupun mengulang pertanyaan.
“Saya tanya, memang kamu paham saya sakit apa?”
Aku tercekat. Sebenarnya ingin sekali mengatakan jika aku adalah seorang dokter, dan paham jika saat ini dia sedang mengidap penyakit yang berbahaya.
“Kamu mau operasi, kan?” aku tahu pertanyaanku terlihat bodoh. Tapi aku tengah disergap rasa khawatir.
“Kata dokter begitu, tapi tenang. Bahkan sekarang saya masih bisa menikmati kopi,” balasnya. Tapi aku tahu dia tengah berbohong jika saat ini sedang menikmati kopi.
“Kamu…” aku tidak tahu harus mengatakan apa. “Kapan operasinya?”
“Insya Allah besok habis duhur. Doakan yang terbaik ya?”
Tentu saja aku akan mendoakan yang terbaik untuknya. Tetapi habis duhur itu artinya aku masih di rumah sakit.
“Semoga lancar semuanya, semoga segera sembuh. Sekarang istirahatlah.”
Lututku rasanya gemetar. Membaca hasil CT-Scan yang ia perlihatkan tadi. Mataku memanas, aku menggigit bibir, tak terasa buliran airmataku jatuh begitu saja. Dalam hati kecilku, aku tidak ingin kehilangan seoarang Pengelana. Andai dia dekat, aku pasti akan menjumpainya, dan aku akan menghiburnya, walau mungkin dia tidak meminta untuk kuhibur.
***
“Mheta?” sapa teman kost ku. “Kenapa pucat gitu?”
“Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Jadi selama ini kami ngobrol dia sedang menahan rasa kesakitan?” aku memikirkan semua itu, sambil menata baju yang baru kuambil dari tempat laundry.
Keganasan Sinus Pranasal merupakan tumor yang jarang
ditemukan. Hanya merupakan satu persen dari seluruh tumor ganas di tubuh, dan
tiga persen dari keganasan di kepala dan leher.
“Tuhan, semoga saja Pengelana baik-baik saja.”
Setelah mengemasi baju-baju yang kuambil dari laundry, aku memutuskan untuk mengunci pintu kamarku. Aku mulai mengecek whatsapp dan melihat Pengelana online. Tapi aku tidak berani menyapanya. Aku berdoa dan
beralih melakukan hal lain.
****
Aku masih terjaga hingga jam tiga dini hari. Rasanya malam begitu panjang. Aku berjingakt dengan perasaan yang tidak nyaman. Aku berwudhu dan berdiam lama sekali diatas sajadah. Kubisikkan kepada Rabb.ku tentang
kekhawatiranku. Aku memohon dan mengemis padaNya untuk kesehatan Pengelana.
Tidak pernah kau rasakan seberat hari ini untuk pergi bekerja. Rasanya aku ingin izin biar bisa menunggu detik-detik menjelang operasi Pengelana, ya, walaupun aku tidak tahu, saat ini Pengelana ada dimana. Karena
sejak awal percakapan kita, kami tidak pernah bertanya sedang berada diwilayah mana. Beda wilayahkah atau… entahlah.
__ADS_1
Aku sarapan dengan rasa mual. Rini mengatakan kalau aku terlihat begitu pucat. Jadi aku memutuskan menjawab kalau aku habis sakit kepala.
Kusapa Pengelana, “nanti berapa lama operasinya?”
Pengelana membalas setelah sepuluh menit kemudian. “Nggak tahu.”
Ya Tuhan. Harusnya dokter memberitahu dia? Kalau proses operasinya memakan waktu dua hingga tiga jam-man.
“Dibius, ya?” pertanyaan terbodoh yang pernah aku lontarkan. Aku seorang dokter, harusnya tidak menanyakan hal sereceh itu.
“Pastinya!” jawab Pengelana.
“Insya Allah baik-baik semua, kamu pasti akan segera sembuh.” Jawabku kusertai emoticon senyum. Padahal hatiku serasa dihujani anak peluru. Sakit.
Tak lama kemudian, dia mengirimiku sebuah video alat-alat yang terpampang didalam kamarnya. Ada sebuah tabung oksigen berukuran besar. Tapi aku tidak mau bertanya, nanti pertanyaanku akan terlihat aku semakin merasa bodoh.
Hari ini aku bekerja tanpa semangat. Jarum jam bergeser seperti siput, sangat lambat. Tetapi menjadi seorang dokter memang tidaklah mudah. Tidak peduli apa yang terjadi dalam hidupmu. Tak peduli apa yang kau
hadapi, didepan pasien, harus tetap tersenyum dan ceria.
****
“Hai.”
Jam dua, aku mngecek ponsel. Pengelana mengirimkan pesan tiga puluh menit yang lalu. Dahiku mengernyit, “bukannya dia harusnya sedang berada diruang operasi?”
“Operasinya sudah selesai?” aku berdebar, kenapa secepat itu?
“Operasinya ditunda besok pagi jam sembilan.”
Aku yang semula berdiri bersandar tembok, pelan-pelan merosot, terduduk. Artinya aku belum bisa bernapas dengan lega.
“Kenapa?”
“Nggak tahu.”
Kali ini, mataku benar-benar panas. Kemungkinan apakah yang membuat dokter menunda operasi Pengelana.
“Ini dikasih hadiah.” Pengelana mengirim foto tangannya yang terhubung dengan selang infus.
“Dikasih siapa?” sumpah ini pertanyaan gila.
“Dikasih saya, buat kamu. kamu tahu tidak, M?” tanya Pengelana.
“Tahu apa?” tanyaku balik.
“Saya ingin sembuh, karena ingin menikmati kopi bersama kamu. Menagih janji yang sempat kamu lontarkan kepada saya. Bahkan saya ingin mengulang hari dimana kita berbagi bangku kosong ditengah lebatnnya hujan.”
Aku tersenyum. Senyum pertama spontan yang kulakukan sejak mengenalnya. Aku menyimpan foto itu, tetapi aku tahu, ketegangan belum reakhir.
“Rabb. Mudahkanlah…”
__ADS_1