
“Tuan Adhitama menurut informan kita, saat ini sedang berada di Bali. Di hotelnya yang baru saja opening beberapa minggu yang lalu.”
“Jadi, dia sedang bulan madu, hah?” Amelia menggeram dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
“Betul, Nona.” Jawab Kris Dian dengan yakin.
“Kris, kemari.”
Asisten pribadi Amelia itu menuruti perintah atasannya, ia mendekati kursi dimana Amelia sedang duduk, dan betapa terkejutnya dia saat Amelia mendorongnya sampai terjatuh dan duduk di kursi yang gadis itu sebelumnya duduki.
“No-nona, apa yang Anda lakukan?”
“Aku saat ini sedang marah karena cemburu, Kris. Dan kamu tahu bagaimana jika aku sedang stres, hm? Aku perlu pelampiasan, Kris. Dan aku ingin kamu yang menjadi pelampiasanku.”
“Ta-tapi, Nona. Sa-saat ini kita sedang dikantor.”
“Aku tidak peduli.” Amelia berjongkok di hadapan Kris Danu. Laki-laki itu tidak bisa melawan atasannya dan pasrah saat melihat Amelia membuka sabuknya dan menurunkan ritsletingnya, lalu mengeluarkan isi yang tersimpan di dalam ****** ******** itu.
“Tu-tunggu, Nona. Ini, ini, akkhhhhh . . . !” Kris menahan suaranya agar tak keluar dengan keras saat Amelia memasukkan miliknya yang sudah menegang kedalam mulut. Gadis berusia 25 tahun itu dengan kasar memainkan milik asisten pribadinya itu, memainkannya dengan lidahnya, lalu memasukkan lalu mengeluarkannya dengan cepat, dibantu tangannya yang ikut memijat area sensitif itu.
__ADS_1
“Nona Amel! Aarggghh!!!” Kris tak mampu menahannya terlalu lama karena konfrontasi dari atasannya itu.
“Sekarang waktunya kamu yang memberikan kepuasan padaku, Kris. Jangan membuatku marah, dan lakukan dengan benar.” Ancam Amelia. Lalu ia duduk di pangkuan Kris dan memasukkan benda tumpul yang sudah kembali menegang itu kedalam miliknya. Dengan gerakan naik turun, Amelia mendominasi permainan panas mereka berdua dari atas.
***
Kehidupan pengantin baru itu penuh akan warna, begitulah yang dikatakan kebanyakan orang-orang. Dan itu juga lah yang dirasakan oleh Tama, tidak dengan Carissa. Tama yang tetap bersemangat dengan staminanya yang kuat, bahkan untuk beberapa kali dalam semalam, Tama terlihat tanpa kelelahan, sedangkan Carissa yang terus mendapatkan gempuran dari suaminya itu, terlihat kelelahan saat tubuhnya sudah mencapai ambang batasnya.
“Cukup, Mas. Jangan lagi. Seharian ini kita sudah melakukannya lebih dari cukup. Dari pagi, sampai menjelang pagi lagi, kamu sama sekali tidak membiarkanku beristirahat kecuali saat makan dan ke toilet.”
“Tentu saja makan itu penting, Sayang. Terutama untuk tenaga tubuh kita.”
“Kasihan cleaning servisnya, Mas. Satu hari saja, mereka harus mengganti seprai sampai berkali-kali. Aku malu, tahu. Tatapan dan senyuman mereka seperti sedang mentertawakanku.”
“Siapa yang berani mentertawakanmu, hm? Biar aku pecat mereka sekarang juga.”
“Bukan begitu, Mas. Iihhh . . . lepas.” Carissa memindahkan tangan Tama yang sudah berusaha menyusup kebawah perutnya. “Apa kamu tidak punya rasa malu, hah?”
“Kenapa aku harus malu? Biarkan saja mereka menggantinya berkali-kali, aku menggaji mereka untuk itu. Dan aku pemilik hotel ini, tentu saja aku bisa melakukan apapun sesuka hatiku.”
__ADS_1
“Ahhh! Mas Tama!!!” teriaknya saat Tama berhasil masuk dan menjelajah di area sensitifnya.
“Lihat, Sayang. Kamu sudah sebasah ini.”
“Ini gara-gara siapa, hah?”
“Tentu saja karena aku, kan.”
“Tunggu, Mas! Aaahhhhh!!!” akhirnya teriakan itu lolos dari bibir bengkak Carissa saat Tama berhasil memasukkan benda besar miliknya.
“Mas, ini . . . emmmm!”
“Kenapa, Sayang. Kamu menyukainya?”
“Tunggu, Mas! Posisi ini! Arggghhh!” Carissa merasakan sensasi baru saat Tama memasukkan benda besar itu sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
“Arrrgghh! Kenapa rasanya begitu candu tiap kali menyentuhmu!” geram Tama sambil terus berkonsentrasi menggerakkan pinggulnya.
Carissa tak mampu berkata-kata lagi karena hanya des*han nikmat yang keluar dari bibirnya saat Tama mulai mempercepat gerakannya. Dan untuk yang kesekian kalinya, Carissa harus meladeni suaminya yang tak mempunyai batas dalam bercinta.
__ADS_1