PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
MENGGANGGU PIKIRANKU


__ADS_3

Setelah kutemukan akun dengan foto profil ransel yang kusangka milik Pengelana, aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk memegang ponsel. Waktuku benar-benar untuk bekerja. Pelanggan-pelanggan hilir mudik


memasuki toko material. Menyusul yang lain dan yang lain lagi.


Bekerja di toko material meskipun terlihat santai, nyatanya berat juga. Apalgi kalau pesanan para pelanggan yang menumpuk. Tetapi bukan itu yang dipermasalahkan. Kadang-kadang debu dari pasir yang bertumpuk didepan toko


sampai menyusup kedalam tenggorokanku. Apalagi pas musim panas seperti ini dan disertai angin. Alamat itu debu bukan hanya masuk kerongkongan, tapi juga suka menciumi kedua pipiku. Sepertinya wajahku sudah ternodai oleh debu-debu yang beterbangan di area toko material.


Kami menutup toko material lima belas menit dari jam resmi. Akupun segera pulang dengan kepala berat, serta punggung dan tangan pegal-pegal. Melewati penjual angsle yang aromanya harum mencuat menggelitik bulu hidungku, serta membuat air liurku seakan menetes tanpa ampun. Aku memang gemar menyeruput angsle. Tapi karena hari ini tanggalnya masih kembang kempis, akupun tak berniat untuk berbelok ke tukang angsle. Bagiku menghirup aromanya sudah cukup membuat perut sedikit kenyang, kenyang makan angin angsle. Setelah melewati tukang angsle, kini aku melewati sebuah kios tahu telur yang penjualnya sedangsibuk mengulek bumbu.  Serta melewati gerobak jagung bakar dengan beberapa orang bergerombol mengelilingi arang yang panas membara.


“Mheta, kripik pisangnya enak sekali.” Teman-teman kost ku masih duduk-duduk di lorong kamar sambil makan kripik pisang.


“Habisin saja.”


“Serius?”


“Sagitarius, seriuslah! Malah, andai saja tuh kripik pisang yang nganter kesini langsung anak dari ibu yang membuat kripik, pasti sudah aku suruh makan juga sama kalian.”


“Hah? Maksudnya!”


“Nggak ada maksud, sudah habiskan saja, jangan lupa bekasnya dibersihkan biar tidak dimarahin Mbak Atun.” Aku menunjuk bebarapa rontokan kripik pisang yang terlihat berserak di lantai, kemudian aku masuk kamar.


Ku keluarkan ponsel dari saku, ternyata batrenya tinggal tiga persen. Segera kubuhungkan dengan charger. Aku ingin menyalakan laptop, tetapi mataku terasa berat sekali.


****


Dini hari aku bangun, membuka jendela, membiarkan aroma udara pagi yang berbaur dengan sisa gerimis semalam. Aku menyalakan laptop,  membaca kembali cerpen perihal Pengelana.

__ADS_1


Kuhapus beberapa bagian yang terkesan banyak kata pengulangan. Kuhapus bagian yang terlalu bertele-tele. Dan kuamati satu paragraf yang menurutku terlalu panjang. Lalu aku ingat kata Stephen King di bukunya On


Writing: dalam fiksi, paragrafnya tidak terlalu terstruktur –yang penting


adalah iramanya, bukan melodinya.


On Writing-nya Mamas Stephen memang salah satu buku yang selalu ada disamping laptopku. Membacanya saat ide mulai buntu, rasanya seperti membaca nasehat seorang guru. Aku bahkan sering menyarankan ke sebagian teman-teman literasiku, untuk punya buku itu.


Jadi, kembali ke cerpenku. Tidak seperti kenyataan bahwa Pengelana meninggalakan nomor ponselnya. Aku justru mengakhiri cerita bahwa tokoh Pengelana berpisah begitu saja tanpa tahu identitas masing-masing.


Bukankah dalam hidup ini, kebanyakan kita menemui hal-hal yang begitu? Bertukar senyum di jalan. Saling mengangguk di loket. Bersisian di bus kota tanpa perlu saling kenal? Setiap orang memang adalah tokoh utama untuk dirinya sendiri, tetapi bagi orang lain bisa jadi hanya tokoh figuran atau sekilas bayangan samar yang saling berpapasan tetapi tidak saling berpandangan.


Apakah sesungguhnya aku berharap antara tokoh dan Pengelana juga begitu? Bagaimana jika Pengelana  menemukan cerpenku suatu hari  dan membacanya? Apakah dia masih ingat pertemuan kami? Bagaimana perasaannya? Apakah merasa kumanfaatkan? Aku rasa tidak, sebab dia sendiri yang memutuskan untuk membuka cerita kepadaku. Bahkan sudah jelas aku tidak menanggapinya, namun dia masih dengan PD nya bercerita tentang kepatahan hatinya.


Tapi, aku memang harus mencarinya. Setidaknya Pengelana perlu tahu. dan kalau dia tidak terima kujadikan cerpen, aku akan ganti sebotol mizone dihari hujan itu.


Aku memejam mata, merapal doa, “Ya Allah, berikan yang terbaik untuk naskah ini,” selanjutnya menekan tombol send.


Berikutnya aku mengirim enam buah puisi dan satu resensi ke media lain. Aku juga mengirim satu artikel untuk konten berbayar. Meskipun aku membatasi hanya mengirim satu artikel perminggu, tapi cukup untuk membeli paket internet selama sebulan.


Aku mulai meregangkan kedua tangan. Subuh masih lama. Jadi aku kembali membuka media sosial. Ada sesuatu yang belum kutuntaskan. Sebuah akun dengan foto ransel itu.


Yang pertama kubuka adalah informasi diri: tidak ada yang dibagi ke publik . persinggahan ada beberapa pantai, kesukaan: film Kolosal, ada buku puisi Aku manusia Mustofa Bisri. Dia juga menyukai web-web berita dan


surat kabar.


Aku mulai beralih melihat pertemanan, sayangnya tidak ada satupun yang diperlihatkan. Ya Tuhan, orang ini benar-benar tertutup. Lantas akupun menuju berandanya, satu postingan dengan pengaturan publik.

__ADS_1


“kenangan hanya tentang bagaimana seseorang memilih apa yang ingin diingatnya.”


Tulisan itu diunggah sekitar lima hari yang lalu. Ada dua puluh tujuh nama yang menyukai dan tujuh komentar. Tiga stiker jempol tidak dibalas, satu komentar, “tidak ada waktu yang bisa diulang,” juga tidak dibalas. Satu komentar


“Gas bro,” tidak dibalas. Satu komentar, “sabar Bro,” tidak dibalas. Dan satu komentar


“ngopi bro,” yang dia balas “OTW!”


Aku mencari unggahan lain diberandanya, tapi tidak ada. Aku mencoba membuka album foto profil yang diatur publik. Hanya ada sebuah foto ransel, pantai, kereta api dan sebuah sandal jepit merk swallow yang penuh pasir.


Apa dia benar-benar Pengelana? Jangan-jangan hanya aku yang menganggap begitu. “Oh Tuhan, kenapa aku jadi repot-repot mencari tahu siapa Pengelana. Apa yang sebenarnya merasuki jiwaku.” Tetapi sisi hatiku yang lain


juga bersuara, “bukankah setidaknya untuk meminta izin atau mengucapkan terima kasih?” suara hati macam apa itu!


“Mheta?” temanku melongok dari pintu.


Aku mengangkat wajah dari depan layar.


“Jangan lupa, hari ini berangkat pagi-pagi.”


“Oh, iya, makasih udah diingatkan, San.”


Aku mendapat panggilan wawancara dari salah satu rumah sakit, tidak jauh dari tempatku tinggal. Kalau diterima, rencana aku akan berhenti bekerja di toko material dan akan menjalani pengalaman di dunia medis


untuk pertama kalinya. Kulirik baju digantungan yang belum disetrika.


Suara adzan sudah mulai menggema. Sekali lagi, aku menyentuh

__ADS_1


layar ponsel menuju nama itu. Cukup sudah orang ini benar-benar mengganngu pikiranku.


__ADS_2