
“Mheta…”
Aku menegakkan punggung, waspada. Suara di seberang sebelumnya tidak pernah terdengar di ponselku.
“Ini Pak Lek..”
Dadaku tersirap.
“Ayah dan Ibumu kecelakaan. Sekarang Ibumu di rumah sakit….”
Kalimat yang membuat sendi-sendiku lemas. Paman dengan suara bergetar menceritakan kalau ayah dan ibu mengalami kecelakaan tunggal. Dan kata-kata selanjutnya mendegam-degam ditelingaku.
Aku menggenggam ponsel kuat-kuat. Mencari pegangan dari ketakuatan yang seketika mencengkeramku. Berkali-kali aku mengusap mata. Pandanganku burum menatap sekeliling kamar kost.
Tanpa berlama-lama kusambar ransel di gantungan. Mengisinya dengan dua setel baju. Kuraih buku acak dari tumpukan, kemudian menyelipkan juga ke dalamnya.
Aku menekan-nekan dahi, mencoba berfikir jernih. Tetapi yang memenuhi kepalaku adalah wajah ayah dan ibu, dan cerita Pak Lek yang kemudian menjelma gelungan kecemasan.
Kuraih botol minum diatas meja. Kuteguk paksa, “apa ya? Apa? Apa lagi?” lalu pandanganku jatuh pada laptop dan charger. Kujejalkan semua ke dalam ransel. Kutambahkan dompet, ponsel dan Alquran saku. Kemudian mencangklongnya setelah memakai jaket.
Kost terlihat sangat sepi sekali. Aku memang pulang dinas pagi hari ini.
Aku menyusuri lorong mencari kamar yang ada penghuninya.
“Mey?” aku mengetuk pintu kamar Mey, anak kampus Brawijaya yang tengah mengerjakan skripsi.
“Iya, Mbak Mhet. Ada apa?”
__ADS_1
“Aku pulang. Orangtuaku mengalami kecelakaan.”
“Innalillahi. Dimana Mbak Mhet? Terus gimana sekarang keadaannya?” Mey melompat dari atas kasur, membuka pintu lebih lebar, lalu memelukku. “Semoga nggak ada apa-apa ya, Mbak?”
“Tolong bilang ke Rini juga, ya. Maaf aku nggak sempat pamit sama dia?”
“Iya Mbak, iya. Yang sabar ya Mbak Mhet.. Ya Allah…”
“Makasih ya, Mey.”
“Sama-sama Mbak. Gimana kalau aku antar sampai stasiun, Mbak?” Mey menatapku dengan raut cemas.
“Nggak usah. Aku naik angkot saja.”
“Nggak apa-apa, Mbak. Bentar aku pakai jilbab dulu.”
Aku mengucap terimakasih kepada Mey. Setelah sampai di stasiun, aku segera berlari keloket. Mecari kereta jurusan Jogjakarta. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya kulafalkan doa serta istigfar. Aku berharap semua akan baik-baik saja. “semua akan baik-baik saja, Allah…kumohon.”
di terminal Magelang, kini aku mencari ojek untuk menuju rumah sakit Islam tempat Ibu di rawat. Kusabar-sabarkan duduk di boncengan motor yang dikemudikan dengan sedikit lambat. Meski rasanya ingin sekali kugas saja sendiri. Tetapi kemudian, aroma minyak kampak dari jaket bapak tukang ojek menyentakku. Mungkin saja dia sedang
sakit? Tapi ia harus tetap bekerja.
Begitu sampai tujuan, aku langsung menghambur melewati gerbang rumah sakit. Setengah berlari menyeberangi halaman, sebelum akhirnya berhenti sejenak, memindai sekeliling. Aku melangkah lagi melewati beberapa orang, mencari jalan ke bagian informasi.
Aku berusaha setenang mungkin. Saat duduk dan mendengar perawat mengaatkan kalau ibu baru saja masuk kamar. Katanya lama menunggu di UGD, karena kamar penuh. Aku segera menanyakan keberadaan ayahku. Tapi, perawat itu tidak menemukan pasien atas nama ayah.
Akupun segera mengucapkan terimakasih. Dengan mengikuti petunjuk perawat, segera kucari tempat ibu dirawat.
__ADS_1
Menyusuri lorong dengan aroma khas rumah sakit yang sudah biasa aku hirup. Berpapasan dengan wajah-wajah murung, orang-orang yang duduk terkantuk-kantuk, seorang ibu yang berdiri gelisah memeluk tas gemuk, petugas
yang berjalan tergesa-gesa dengan map di tangan. Sebetulnya itu pemandangan yang sudah biasa aku temui setiap hari. Namun, entah mengapa aku begitu panik saat menyusuri lorong-lorong rumah sakit islam ini.
Aku berbelok ke lorong yang lebih sepi. Mencari tangga, namun tak kutemukan. Aku terus berjalan lurus, dan seketika kaki terpaku di lantai saat membaca tulisan di depanku, ‘Kamar jenazah.’
Sadar jika sebenarnya salah jalan, akupun segera berbalik. Tidak membuang waktu. Bertanya pada orang-orang yang kutemui. Ternyata kamar ibu di lantai dua. Menghadap ke barat. Aku menarik napas panjang begitu mengenali
grombolan orang yang duduk di luar kamar.
“Mheta…” Bibi, adik dari ibu, memelukku. Lalu bergantian para tetangga, menepuk-nepuk, mengucapkan kata-kata supaya aku bersabar. Mereka memberi jalan, agar aku masuk kamar.
Terlihat, ibu terbaring lemah. Kutahan sekuat tenaga agar air mataku tidak jatuh. Kugenggam tangannya, “Ibu… Ini Ayu…”
Kelopak mata ibu bergerak, segera matanya pelan-pelan terbuka. Kemudian menutup kembali. “Ayuandira…” ucapnya lirih, membuat pertahananku jebol juga. Aku menciumi punggung tangannya.
“Kamu yang sabar ya, Nduk.”
Aku menoleh pada bibi. Lalu bertanya kenapa ayah tidak ikut di bawa ke rumah sakit. Bibi termangu, airmatanya menerjang dengan kuat kedua kelopak matanya. Bibi menceritakan bagaimana proses kecelakaan itu. Ibu yang
seketika tidak sadarkan diri langsung dibawa ke puskesmas terdekat, kemudian di rujuk ke sini.
“Lalu… bagaimana keadaan Ayah, Bi? Dimana sekarang?”
“Ayahmu dirumah, Nduk… pulanglah, segera temui ayahmu. Biar ibumu Bibi yang jaga.”
Aku agak kecewa kepada Bibi, kenapa dia tak mau bercerita perihal keadaan ayah, malah menyuruhku untuk pulang dan melihat keadaan ayah sendiri. Firasatku mengatakan telah terjadi sesuatu terhadap ayah. Segera aku pulang, meminjam kendaraan kepada salah satu tetangga yang menunggui ibu. Ku tancap gas diatas kecepatan maksimal, menyusuri jalanan yang tidak begitu padat.
__ADS_1
Sesampai gang depan rumah, aku melihat banyak tetangga hilir-mudik dengan membawa tentengan, persis seperti orang yang sedang ingin melayat kerumah tetangga yang meninggal dunia. Mataku pun segera menyergap
sebuah bendera kuning, yang terbuat dari kertas dan terpasang persis disamping kananku, “Abdul Latif.” Ada letupan-letupan hangat yang menyundul ditengah dadaku. Aliran darahku seketika seperti terhenti, jantungku berpacu cepat. Tubuhku gemetar hebat. Motor yang kutunggangi tadi masih dalam keadaan menyala, langsung aku banting kesebalah kiriku, “Ayah…”