
''Akhhh...akhhh....'' erangan nikmat memenuhi seisi kamar hotel bintang 5 itu. Seorang gadis kini sedang berpacu dengan kenikmatan di atas tubuh seorang laki-laki tampan. Pria itu terlihat membantunya bergerak naik turun dengan berpegangan pada pinggang ramping itu.
''Kenapa rasanya sangat nikmat? Bukankah dia terlalu ahli mengendalikan tubuhnya di atas tubuhku?'' gumam laki-laki bermata biru itu.
Rambutnya tergerai tak beraturan, buah d*danya mengayun mengikuti pergerakaannya, terkadang ia tersentak saat laki-laki yang ada di bawahnya meremas dan meng*lum d*da ranumnya.
''Emmmhhh....hah...hah'' Lira terus saja mendes*h saat ia menikmati benda keras milik Allen. ''I-ini sangat besar, rasanya sangat penuh memenuhi tubuhku. Lebih, aku ingin lebih.'' gumamnya dalam hati.
''Sekarang giliranku yang bekerja.'' Allen membalik posisi mereka saat ini. Ia menaikkan satu kaki Lira dan menyandarkannya di pundaknya.
''Emmmm...'' Rintih Lira saat Allen menggesekkan benda miliknya ke atas tubuh tersensitifnya yang semakin basah.
''Apa yang kamu lakukan, Kak? Cepat masukkan.'' protesnya.
''Tunggu, Sayang. Malam masih panjang. Jangan terburu-buru.''
''Akkhhh!!!'' rintihnya lagi saat Allen menghentakkan miliknya dengan keras.
Keringat membasahi seluruh tubuh karena usaha keras yang di lakukan, keduanya terus berpacu dan mengejar kenikmatan, ''Cepat! Lebih cepat lagi?''
''Kamu yakin menginginkannya? Maka aku akan melakukannya.'' ucap Alen.
__ADS_1
Detik berikutnya, hanya erangan yang terus saja terdengar sampai keduanya menyerah dan tertidur pulas karena kelelahan.
''Tubuhmu baik-baik saja, Lira? Aku rasa semalam sudah berlebihan.'' tanya Allen saat ia menyapa pagi di atas ranjang yang sama dengan Lira.
''Aku baik-baik saja, Kak.'' gadis itu mendekatkan wajahnya ke telinga Allen dan berbisik, ''Tadi malam sungguh menyenangkan. Aku sangat puas.''
Allen tersenyum puas dan bangga, ''Baguslah jika aku bisa memberikanmu kepuasan, tapi kamu tak kalah hebatnya, Lira. Kamu sungguh liar.''
''Itu memang keahlianku.''
''Hm? Kamu sudah sering melakukannya?'' Allen mencoba memastikan.
''Maka dari itu kamu begitu liar.''
''Ini adalah hidupku, hidup yang singkat. Aku tak mau menyia-nyiakannya.''
''Emm...apa Tama tahu jika kamu gadis nakal seperti ini?''
''Ya, Kak Tama tahu. Aku bahkan pernah menggodanya dulu.''
''Benarkah? Bukannya kalian masih sepupu?''
__ADS_1
''Kami sepupu jauh, jadi tak akan masalah misalkan aku menjadi menantu Syahreza. Tapi Kak Tama dengan tekadnya yang kuat terus menolakku. Memangnya apa kurangku, Kak?'' Lira berdiri menghadap Allen dengan masih tanpa mengenakan kain sehelaipun. Menunjukkan kelebihan yang ada pada dirinya.
''Kamu sungguh sempurna. Wajah cantik, tubuh yang indah, dan pandai menempatkan diri.''
''Lalu kenapa Kak Tama tak mau denganku?''
''Mungkin dia tidak mau menyentuh keluarganya yang berharga. Dan jika Tama dulu menyentuhmu, belum tentu kamu menghangatkan ranjangku seperti malam kemarin.''
''Kamu benar, Kak.'' Lira menghambur memeluk Allen. ''Lalu, apa yang harus kita lakukan pagi ini? Terlalu cepat untuk memakai baju dan keluar kamar.''
''Kamu punya ide yang bagus?'' Allen pura-pura bertanya.
''Tentu saja aku punya ide yang bagus. Bagaimana dengan ini? Ini sudah begitu keras sejak tadi.'' Lira menyentuh benda yang sudah menegang kuat.
''Bagaimana dia tidak tegang? Mataku melihat sesuatu yang indah dan mempesona seperti ini.'' Allen memandangi tubuh Lira dari atas sampai bawah.
''Jadi . . . Mau kita lanjutkan?'' tanya Lira dengan menggoda.
''Tawaran yang tidak bisa di lewatkan.''
Akhirnya Lira dan Allen melanjutkan sesi kerja keras mereka berdua, merasakan nikmatnya surga dunia.
__ADS_1