PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
APA YANG KAMU TAU DARIKU?


__ADS_3

“Balik ke Malang?”


Balasan Pengelana kuterima setelah aku didalam kereta. Aku mengatakan padanya kalau hanya ingin mengambil barang-barang.


“Sampai kapan?”


“Mungkin sekitar seminggu. Ada urusan yang harus aku selesaikan.”


“Memang kamu di Malang kerja apa?”


Balasan Pengelana saat ini membutku membungkam mulut. Tidak mungkin aku memberitahunya, jika sebenarnya aku adalah seorang dokter.


“Kan, sudah saya bilang. Saya seoarang penulis?”


Pengelana tidak membalas lagi. Aku kembali ingat mimpiku. Jadi, aku menuju akun Pengelana. Kupandangi foto pantai yang sama dengan yang pernah dikirimkan kepadaku. Hanya saja, dia mengambil dari sudut yang berbeda. Aku memberi tanda suka tanpa komentar apapun.


Aku masih takjub dengan mimpiku. Aku memimpikan dia dipantai, lalu saat bangun, dia mengunggah foto pantai.


Apakah ada yang kebetulan di dunia ini?


****


Kedatanganku disambut heboh oleh teman-teman, terutama Rini.


“Lama amat? Nggak kangen botol bekas?”


Aku menoleh ke meja. Botol itu masih bertengger di sana.


Kuceritakan pada Rini, perihal kedatanganku yang ingin berkemas.


“Kamu serius?” mata Rini berkaca-kaca.


Aku mengangguk. Kujelaskan padanya bahwa saat ini, begitulah pilihan terbaik. Rini memelukku erat. Kemudian dia membantu menyiapkan beberapa perlengkapan packing yang kubutuhkan.


Aku tidak punya banyak barang. Dilemari kecil, pakaianku hanya menempati satu kotak. Selebihnya buku-buku. Namun, tetap saja perlu waktu untuk membereskan semuanya. Sebagian barang-barang itu aku kemas di kedua kardus dan mengirimnya lewat paket.


Keesokan harinya aku segera pergi ke rumah sakit tempatku berdinas. Mengajukan surat pengunduran diri, serta menjelaskan alasan kenapa aku sampai memilih untuk mengundurkan diri. Semua teman-teman dan rekan sejawat banyak yang menyayangkan atas pilihanku. Namun, mereka juga kasihan kepada ibu yang saat ini masih dalam keadaan sakit.


Sepulang dari rumah sakit, aku langsung menuju toko material tempatku bekerja dulu. Pamit ke pemilik toko, dan beberapa teman-temanku. Sekali lagi aku menerima pelukan pelukan perpisahan. Mataku berkaca-kaca, tak bisa kucegah pipiku basah. Mereka semua orang-orang baik, teman-teman disaat aku masih susah dan masih menyandang status mahasiswi di UIN.


Aku kemudian pergi ke kampus UIN. Duduk di taman, mengenang kembali pertama kali menapakkan kaki d tempat ini.


“Hai M.”


Pesan Pengelana masuk.


“Hei..”


“Sudah beres?”


“Sudah..."


“Jadi, kamu pulang kapan?”


“Mungkin lusa.”


“Pastikan kalau kamu benar-benar pulang lusa.”


Aku memicingkan alis, mencerna pesan Pengalana barusan. Memastikan kepulanganku lusa. Untuk apa?


“Sekarang dimana?” sambung Pengelana.


“Di kampus, duduk-duduk mengenang. :D” kataku diikuti emoticon tertawa.


“M..”


“Apaa?”


“Apa yang kamu tahu tentang saya?”


Aku diam, kenapa Pengelana tiba-tiba bertanya begitu?

__ADS_1


Apa yang aku tahu tentangnya? “Hmmm…” aku tahu masalalunya, tentu saja hanya yang diceritakan kepadaku. Dia pernah bercerita gadis pertama yang berjalan dengannya. Yang katanya mirip Kimberly Ryder.


Kemudian gadis lain yang membuatnya patah hati, dan melarikan diri itu. Dia berkisah bagaimana proses pergi dari rumah. Pernah mengatakan arti seorang ibu baginya, cerita bagaimana dia mendapati keajaiban doa.


Akupun tahu, rokok adalah kesukaannya. Katanya kepada apapun dia mencoba, ya kepada merek itu dia akan kembali. Dia tidak betah tanpa kopi. Tidak cukup hanya minum secangkir sehari. Dia suka kwaci. Sering makan mie malam-malam. Aku tahu dia suka hujan. Sebenar-benar suka, karena dia bahkan suka berjalan dibawah hujan. Dia suka senja, tak peduli kelabu atau jingga. Suka pantai. Apa saja tentang alam. Dia suka tempat-tempat baru. Aku tahu cerita-ceritanya.


Kami pernah ngobrol sepanjang sore di telepon dan aku bertanya perihal Rosa. Dia bercerita bagaimana pertama bertemu gadis pulau seberang itu. Bagaimana perjuangan Rosa di Jakarta. Dan dari cara Pengelana berkisah tentang Rosa, aku tahu, Pengelana mencintainya. Bahkan Pengelana sudah pernah bertemu keluarga Rosa.


Itulah sebabnya, kenapa aku sering menegaskan pada diriku sendiri, Pengelana sudah punya kekasih. Dia temanku. Aku memanggilnya teman baik. Tentu saja hal itu pula yang kuucapkan saat Daffa membahas Pengelana. Begitulah, kadang apa yang kau ucapkan pada orang lain adalah penegasan untuk hatimu sendiri.


Aku juga tahu adik Pengelana. Keakraban keduanya. Kami pernah membahas itu di suatu malam.


Di saat lain, Pengelana pernah cerita perihal ketampanan masa muda ayahnya. Tentang foto-foto lama. Waktu itu, aku bercerita perihal perjuangan almarhum ayahku.


Kadang kalau kami lama tidak berbincang, aku meminta Pengelana untuk bercerita sesuatu.


Selebihnya…


“Apa yang saya tahu tentangmu? Apa yang pernah saya tanyakan dan kamu ceritakan tentang dirimu?” Pesan Pengelana kembali masuk.


Sekonyong-konyong aku merasa pertanyaan itu begitu perih.


“Saya percaya kamu tak perah bohong pada saya, M. tapi, saya juga sadar hal-hal diantara kita yang sengaja tidak pernah saling kita ceritakan.”


Aku diam, mencoba memahami ke arah mana pembicaraan ini. Pengelana jarang bicara serius begini.


“M, nggak usah dijawab kalau sulit.”


“Iya, bingung nih.”


“Maaf ya, M.”


“Kenapa minta maaf?”


Hingga kembali ke kost, percakapan kami tidak berlanjut.


Malam harinya setelah berbincang lama dengan teman-teman, aku masuk kamar. Sebelum tidur aku membaca kembali percakapan dengan Pengelana. Kemudian iseng melihat facebooknya.


Satu jam yang lalu, dia baru mengunggah sebuah lagu ‘tergantung sepi’nya Haqiem Rusli. Aku segera memasang headset


Tapi lagu ini? saat kudengar sekarang, seusai percakapan siang tadi, rasanya begitu menusuk.


Aku jarang terbawa perasaan saat mendengar lagu. Tetapi kali ini, entah kenapa, air mataku tidak bisa kucegah. Ada yang seolah terkelupas dan menimbulkan rasa perih. Tetapi aku tidak tahu, luka itu di mana?


Aku masih ingat, suatu siang dia mengirim tulisan tangannya di tisu.


“Mheta.”


“Dalam setiap perjalanan. Seringkali terjadi sebuah pertemuan yang tak pernah kita harapkan. Lalu, tanpa kita sadari, menjelma satu ikatan yang sangat erat.”


Aku termangu, lama membaca tulisan itu. Aku tidak tahu jawaban apa yang diharapkan Pengeana. Tetapi, kemudian aku membalas dengan tulisan tangan juga.


“Pengelana.”


“Apa ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini?”


Pengelana membalas.


“Ya… mungkin kebetulan atau keberuntungan itu ada buat mererka yang tidak percaya takdir.”


Lalu, aku membalas lagi.


“Kalau kamu, percaya pada apa?”


Pengelana membalas dengan empat huruf.


“KAMU :).”


Saat itu aku tidak membalas lagi. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kemudian, setelahnya kami tidak pernah membahasnya. Tetapi, aku masih menyimpan foto-foto percakapan tulisan tangan di tisu itu.


Sekarang beberapa saat aku merenung. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengembuskan pelan. Sampai pandanganku jernih.

__ADS_1


Kubuka pintu kamar, memastikan tidak ada yang terjaga. Aku tidak mau ada yang memergokiku kelihatan habis menangis. Jadi, aku berjalan mengendap-endap ke kamar mandi.


Segala hal di dunia ini mempunya tujuan bekan? Beberapa hal bicara sebagai tanda, sebagai peringatan. Tidak ada kebetulan yang terjadi, bukan?


Aku merenung lama. Kemudian berdoa. Setelahnya, aku membongkar koper. Mencari buku Reclaim Your Heart. Aku membacanya, dan berhenti di halaman 110, Kita tidak bisa menghindari semua kepedihan. Tetapi, dengan menyesuaikan harapan, respon dan fokus, kita dapat menghidari banyak luka.


Aku menutup wajahku dengan buku. Memikirkan kalimat itu. Hingga aku tertidur.


****


Dua hari berlalu, surat balasan dari pihak rumah sakit telah kuterima. Balasan yang membuat salah satu bebanku serasa lepas. Aku telah resmi mengundurkan diri dari rumah sakit. Akupun bersipa untuk pulang. Aku kembali mendapat pelukan perpisahan dari teman-teman kost. Kami meminta maaf dan saling mendoakan. Jeleknya aku, selalu meleleh dengan situasi begini.


Rini memelukku lama sekali. “Semoga Allah selalu memberkahimu,” ucapnya.


“Aamiin, kamu juga. Maafkan untuk semuanya ya? Aku pasti merindukanmu.”


“Botol itu kamu bawa?”


Aku tersenyum sambil menunjuk ransel.


“Semoga kalian bisa bertemu kembali.”


“Aku tidak tahu.”


“Aku mendoakan kamu, Mheta.”


“Aku bilang, aku nggak tahu apakah aku ingin bertemu atau nggak. Sebab, ibuku juga sepertinya akan menikahkanku dengan seseorang, dan aku nggak tahu mana yang lebih baik.”


“Menikah? Jadi, kepulanganmu dari sini, untuk menikah?”


“Nggak juga, Rin. Kan aku bilang sama kamu, kalau aku pulang karena aku ingin merawat ibu.”


“Terus? Katamu tadi menikah?”


“Entahlah, itu masih aku pikirin.”


“Nggak usah baper gitu.” Rini menepuk bahuku, kemudian meraih koperku dan berjalan mendahului. Dia mengantarku sampai jalan Gajayana.


Sekali lagi, kami berpelukan. Aku mengucapkan salam sebelum naik angkot, dan untuk terakhir kali melambai padanya. Mataku kembali berkaca-kaca.


****


Aku naik kereta pagi dari stasiun Malang. Perjalanan menuju Jogja perlu waktu sekitar enam jam setengah. Selamat tinggal Malang.


Kereta berjalan. Potongan-potongan adegan berkelebatan di kepalaku. Pertemuan dengan teman-teman baru. Interaksi dengan mereka selama di perantauan. Dan bulan-bulan akhir yang lebih berwarna sejak aku mengenal Pengelana.


Mungkin kelak ia akan meuncul bersama aroma pewangi pakaian. Atau, dalam serakan-serakan kulit kwaci, atau


saat aku menyetrika dan gosong.


****


Pukul 16.59, kereta berhenti di  stasiun Jogja. Aku mengedarkan pandangan ke emplasement. Entah kapan aku akan naik kereta lagi, jadi aku ingin duduk-duduk sebentar. Kuseret koper menuju kursi kosong.


“Mheta!”


Aku menajamkan pandangan, mencari asal suara.


“Mheta!”


Aku menghentikan langkah.


“M,”


Aku menoleh kebelakang. Lalu membeku seketika. Ya Allah. Tidak mungkin dia di sini. Tidak mungkin. Aku pasti


berhalusinasi. Efek baru saja naik kereta.


Aku kembali berbalik.


“Hei? Ini saya.”

__ADS_1


Sosok itu kini didepanku. Dia tersenyum. Aku mengamati ranselnya. Jam tangannya. Lalu kakinya, kepastikan menapak lantai.


Sekonyong-konyong aku ingat mimpi kemarin. Mirip seperti ini adegannya. Apakah sekarang aku juga sedang mimpi?


__ADS_2