PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 91


__ADS_3

Bulan madu penuh kemesraan tanpa terasa telah berakhir. Siang itu Tama menuju bandara dengan lemas dan cemberut. Ia sudah membayangkan akan kembali ke rutinitasnya dan berkutat pada pekerjaannya lagi.


“Kenapa dari pagi tadi wajahmu ditekuk seperti itu, Mas?”


“Rasanya berat sekali meninggalkan Bali. Apa aku keluar saja dari pekerjaanku, jadi kita bisa menetap di Bali selamanya.”


“Lalu, yang pegang perusahaan siapa?”


“Aku akan memberikannya pada Allen. Dia sudah membuktikan kalau mampu mengelolanya. Bagaimana?” tanyanya dengan semangat.


“Jangan aneh-aneh, ih!” geramnya sambil mencubit perut suaminya. “Itu perusahaan keluargamu, Mas. Mana bisa kamu memberikannya pada orang lain.”


“Tidak masalah. Toh, sahamku juga besar di perusahaan. Kita bisa menggunakan hasil pembagian keuntungan dari sahamku saja. Itu cukup membiayai kehidupan kita sampai kita tua nanti.”


“Lalu, kamu mau bermalas-malasan? Aku tidak suka laki-laki yang bermalas-malasan.”


“Kamu tidak menyukai itu?”


“Tidak! Aku sangat benci laki-laki seperti itu.”


“Kalau begitu, aku akan bekerja keras tanpa istirahat demi kamu.”


“Bukan begitu, Mas. Bekerjalah seperti biasanya, sama dengan saat aku mengenalmu pertama kali. Aku jatuh cinta padamu karena tekad kuatmu.”


Tama memandangi istrinya dengan haru, “Terima kasih, Sayang. Kamu telah melengkapi hidupku.”

__ADS_1


“Jadi, sekarang sudah bersemangat?”


“Tentu saja.”


“Baguslah, ayo kita kembali ke Jakarta!” seru Carissa.


Mereka sampai ke Jakarta dengan selamat, dan langsung menuju rumah utama keluarga Syahreza. Carissa bahagia karena disambut oleh semua asisten rumah tangga di rumah itu dengan ramah, mereka mengaku turut bahagia karena Carissa yang akan menjadi nyonya di rumah ini.


“Lalu, dimana Kak Allen? Kenapa dia tidak ke sini?”


“Dia langsung kabur saat mendengar kepulangan kita.”


“Kabur?”


“Biarkan saja, Mas. Maklumi Kak Allen, ia pasti sangat kesusahan karena tidak pernah menanggung tanggung jawab besar sendirian selama ini.”


“Tapi kenapa ia harus menon-aktivkan handphonenya? membuatku kesal saja.”


“Sudah, jangan marah-marah, ah. Kita istirahat dulu aja, yuk. Kan baru sampai.”


Tama menunjukkan wajah penyesalannya, “Maaf, Sayang. Kelihatannya aku harus ke kantor sebentar. Aku harus tahu pekerjaan apa saja yang Allen tinggalkan untukku.”


“Sore-sore begini?”


“Hmm. Tim yang membantu Allen selama aku cuti ternyata masih ada di kantor, jadi sekalian saja aku mengambil alih kembali. Istirahatlah dulu, maaf ya, aku harus meninggalkanmu dirumah.”

__ADS_1


“Mau aku temani?”


“Tidak, tidak. Jangan, beristirahatlah. Oh, iya. Masukkan semua barang kita ke kamarku, itu sudah menjadi kamar kita, kemarin sudah di renovasi dan di dekorasi ulang oleh kepala asisten rumah tangga yang menggantikan Bu Yanti, tapi jika kamu merasa tidak suka dengan interiornya, kamu bebas mengubahnya.”


“Aku tidak memakai kamarku yang dulu lagi?”


“Mana mungkin!” jawab Tama dengan cepat, “Mana bisa kamu ada di kamar yang berbeda dengan suamimu ini.”


Carissa tertawa dengan manis, “Baiklah. Kalau begitu hati-hati dijalan ya.”


“Aku pergi dulu.” Tama mengecup kening dan juga mengecup bibir merah itu dan menahannya untuk beberapa detik, seakan tak rela melepaskan kecupan itu.


“Sudah, ah. Takut ada yang melihat.”


“Aku akan segera pulang.”


“Hati-hati di jalan.” Carissa melambaikan tangan kepada Tama yang kini sudah berjalan keluar rumah.


Setelah memastikan Tama telah pergi, ia menaiki tangga dan membuka pintu kamar Tama yang kini menjadi kamar mereka berdua. Kamar yang sebelumnya terlihat dingin dengan furniture standar seorang pria, kini terlihat semakin hangat. Tama mengganti semua furniturenya menjadi berwarna putih, ruangan yang biasanya hanya terisi dengan ranjang, nakas dan sofa, kini lengkap dengan ranjang besar yang di ujungnya terdapat sofa bed, lalu tepat di dinding yang menghadap ke ranjang, terpasang smart-tv berukuran 40”, ada meja rias yang terpajang di sisi kiri ruangan. Sofa berukuran sedang yang sebelumnya berada di ruangan itu kini berubah menjadi dua sofa kecil yang di percantik dengan meja bulat.


Carissa tersenyum hangat saat memasuki ruangan wardrobe, dimana biasanya tergantung kemeja kerja dan juga pakaian lengkap kerja Tama, kini telah diperlebar dimana sisi kiri merupakan milik Tama, dan di sisi kanannya menjadi miliknya. Carissa berjalan perlahan sembari melihat-lihat. Ditengah-tengah sisi, ia menemukan kotak pajang yang berisikan dasi dan juga barisan koleksi jam tangan.


“Ternyata Mas Tama suka mengkoleksi jam tangan.” Ucapnya perlahan.


Setelah puas melihat-lihat kamar barunya, ia memutuskan untuk menata barangnya dengan rapi, lalu mandi dan beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2