PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 68


__ADS_3

“Mas! Geli! Jangan begini, ah. Nanti kalau di lihat orang.”


“Tak akan ada yang berani masuk ke sini, ini area privat, Sayang. Kita bisa melakukan apa saja dan dimana saja.” Jawabnya sambil tetap mengecup setiap bagian leher yang mulai meremang.


“Mas!” protes Carissa. Namun percuma saja, protesnya sama sekali tidak didengarkan oleh Tama, kini suaminya itu justru sudah fokus memberikan sentuhan-sentuhan panas kepada tubuh yang mulai merespon dengan gelisah. “Jangan begini, ini masih sore.”


“Hm? Tidak ada waktu khusus untuk melakukannya, Sayang.”


Kruyuuukk . . . Tama bengong saat mendengar suara dari dalam perut istrinya, “Kamu lapar, Risa?”


Carissa merasa malu dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, “Apa kamu ingat sudah mengajakku makan, Mas?”


Tama tertawa terbahak-bahak, “Jangan ketawa, ih!”


“Maaf, Sayang. Maafkan aku. Aku sungguh lupa untuk mengajakmu makan siang, aku terlalu fokus untuk menghabiskan waktu berdua denganmu. Sekarang ayo kita bersiap dan mencari makan sekitar hotel saja.” Ajaknya sambil menahan tawa.


“Sudah, Mas. Jangan ketawa lagi.”


“Iya, iya, maaf. Ayo kita siap-siap.”


Setelah Carissa mengganti bajunya, mereka berdua memilih berjalan untuk menuju resto yang disediakan oleh hotel. “Hm? Itu bukannya Vian, ya?” Carissa menunjuk ke arah dimana kepala pengawal milik Tama berada tak jauh dari tempatnya dan Tama makan siang.


“Ya, itu Vian dan juga anak buahnya.”


“Kenapa Vian ada disini, Mas?”


“Tentu saja untuk mengawal kita. Orang yang tidak suka padaku banyak, Sayang. Jaga-jaga saja. Apalagi sekarang ada kamu, jadi aku harus menempatkan mereka disekitar kita. Keselamatanmu adalah yang utama.”

__ADS_1


“Tapi kapan mereka berangkat kesini?”


“Mereka satu pesawat dengan kita kok tadi, hanya saja mereka sengaja menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok.”


“Aku sempat pangling karena baru kali ini melihat Vian dan juga lainnya bekerja mengenakan pakaian santai. Lihatlah mereka, mereka sudah seperti turis lokal.” Carissa terus saja memandang dan tersenyum melihat Vian dan juga anak buahnya yang sedang duduk sambil minum kopi di sudut resto tak jauh dari tempatnya duduk. Sesekali anak buah Vian melambaikan tangannya pada Carissa saat tahu jika gadis itu melihat ke arah mereka dengan tersenyum.


Tama turut mengalihkan pandangannya kepada sekelompok pengawal pribadinya itu saat melihat Carissa membalas lambaian tangan dari sekelompok laki-laki muda itu. Mereka semua langsung menunduk saat tahu jika Tama memandang mereka dengan tatapan sengit.


“Lihatlah, Mas. Tatapanmu sangat menakutkan.” Protes Carissa.


“Mereka harus tahu diri. Sejak kapan pengawal bisa kurang ajar dengan tuannya.”


“Itu namanya hubungan baik antara atasan dan bawahan, Mas. Lagi pula apa salahnya jika aku berteman dengan mereka? Mereka rata-rata lebih tua dariku hanya selisih beberapa tahun saja.”


“Justru itu, karena usia mereka tak beda jauh darimu, mereka harus tahu batasannya. Jangan perdulikan mereka, cepat makan makananmu, keburu dingin.”


“Ada lagi yang kamu inginkan?”


“Tidak, Mas. Rasanya sangat kenyang.”


“Kalau begitu tunggu aku disini sebentar. Aku akan berbicara dengan Vian.” Tama pergi meninggalkan Carissa namun tetap menjaga jarak agar tak terlalu jauh. Tama tak tenang jika Carissa tidak dalam jangkauan pandangannya.


“Ya, Tuan.”


“Bagaimana keadaannya? Apakah aman-aman saja?”


“Sementara ini semua baik-baik saja, Tuan. Mereka juga sudah menyisir area hotel, dan tidak ditemukan tanda-tanda orang yang mencurigakan.”

__ADS_1


“Ada kabar dari Rangga?”


“Semuanya aman, Tuan. Rangga baru saja mengabari satu jam yang lalu, jika perempuan itu masih tenang berada di tempatnya dan tidak terlihat ada pergerakan yang mencurigakan.”


“Pastikan Rangga selalu mengawasi Amelia, jangan sampai dia kehilangan jejak perempuan gila itu.”


“Baik, Tuan.”


Disisi lain, ada seorang gadis yang terlihat bekerja seperti biasanya, namun tanpa disadari, gadis itu sebenarnya mengerti jika ia sedang di ikuti.


“Apa dia masih mengikutiku?”


“Masih, Nona.”


“Bersikaplah seperti biasanya, jangan sampai dia mencurigai kita. Untungnya kita cukup cepat mengetahui kecurigaan dari pihak mereka, bukankah beberapa bulan lalu anak buahmu juga ketahuan saat mengikutinya?”


“Benar, Nona. Saat saya sadar, saya langsung menarik mobil sedan itu agar tidak melanjutkan pengintaian.”


“Lalu, sekarang ada dimana dia sekarang?”


“Yang Anda maksud tuan Adhitama?”


“Ya, kamu benar Kris.”


“Tuan Adhitama menurut informan kita, saat ini sedang berada di Bali. Di hotelnya yang baru saja opening beberapa minggu yang lalu.”


“Jadi, dia sedang bulan madu, hah?” Amelia menggeram dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.

__ADS_1


“Betul, Nona.” Jawab Kris Dian dengan yakin.


__ADS_2