PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
PENGELANA dan DAFFA


__ADS_3

Kulangkahkan kaki ke kamar dengan perasaan bercampur aduk,. Jika Rasyid sampai membuka kotak kecil itu dan mendapati sebuah cinci serta sebuah tulisan di secarik kertas. Bisa habis aku dimaki-maki olehnya, mungkin?


“Tuhan… lindungi aku, untuk kali ini…” gerutuku, setelah itu aku mengembuskan napas dan membuangnya secara liar.


“A-da..apa?” tubuhku gemetar. Ada sesuatu yang basah di kedua telapak tanganku.


“Nggak… ini lho baju-bajumu? Kamu simpan saja dilemari. Jangan ditaruh diatas kasur.” Katanya seambil mengamati bajuku diatas kasurnya.  “Oh ya, sekalian, besok ada yang bantu-bantu kamu dirumah. Jadi kamu nggak perlu khawatir.”


Aku menganjur napas lagi. Terasa lega, karena Rasyid tidak melihat kotak pemberian Pengelana. Segera ku masukkan kotak tersebut ke dalam ranselku diatas meja tv, “Nggak usah. Biar aja pakaian saya disitu. Toh saya


juga nggak tidur dikamar ini. saya tidur di sofa.” Aku berkilah. Meskipun sebenarnya aku merebahkan tubuhku diatas kasur Rasyid.


“Lho kok gitu? Ini kan kamar kamu juga?” terlihat alis laki-laki itu saling bertautan.


“Bukan, kita kan bukan suami istri.”


Rasyid tersenyum renyah. Dia mendekatiku yang berdiri disamping pintu kamar. “Tidak lama lagi, kamu akan sah menjadi milik saya.” Katanya tepat disamping telingaku. Lalu, dia berlenggang keluar kamar. Berpamitan untuk segera kembali ke Bogor.


*****


jam dua dini hari, aku belum memejamkan mata. Kulihat ponsel dan melihat nama Pengelana. Belum juga ada tanda-tanda online. Aku masih penasaran dengan pemberiannya yang berupa cincin dan tulisan pada secarik


kertas itu.


Aku segera menyalakan laptop. Membuka beberapa balasan email dari beberapa penerbit mayor. Ada sebuah notifikasi, jika salah satu novel yang ku kiirim beberapa minggu lalu, ada yang diterima dan akan segera di terbitkan. Senyum sumringah tersungging di sudut bibirku.


Ku ucapkan rasa Syukur akan segala nikmat dan karunia yang tak terhingga, ini.


Andai ayah masih ada. Betapa bahagianya beliau, menerima kabar jika putri semata wayangnya ini telah berhasil menembuas sebuah meja penerbit impian.


Aku meraih ponsel. Menuju sebuah galeri, kulihat disana ada beberapa foto ayah dan ibu. Tak terasa butiran air mata menerobos benteng pertahananku. Aku tersedu, mengingat segala kebaikan ayah serta ibu. Saat ini,


sudah tidak ada yang kumiliki selain ibu. Sepertinya, aku tidak akan pernah sanggup untuk menyakiti hati ibu.


Saat aku sedang mengingat kenangan-kenangan bersama almarhum ayah, tiba-tiba ponselku berpedar.


Daffa mengirim pesan.

__ADS_1


“Mheta… kapan kamu balik dari Jakarta?” dia terlihat online.


Aku membungkam mulut. Tidak seperti biasanya, Daffa mengirim pesan tengah malam. Bahkan aku mengingat beberapa hari lalu, aku sempat membuatnya atah hati.


“Kenapa…”? aku mengirim balasan tersebut.


“Ada yang ingin ku sampaikan padamu..”


“Apa? Bukannya kamu sudah menyampaikan semua?”


“Bukan… ini bukan perkara hatiku lagi…”


Aku menautkan alis. Membaca beberapa kali pesan Daffa barusan. Apa maksudny? Bukan perkara hatinya lagi? “Mengenai apa, Daffa?” aku menunggu balasan Daffa.


“Aku tidak bisa memberitahumu lewat wa. Aku akan menunggumu sampai kembali ke Magelang saja.”


Lihatlah, jawaban Daffa tidak jauh berbeda dengan Pengelana, bukan? Apa memang semua lelaki suka mengantungkan sebuah pertanyaan? Tanpa sebuah jawaban? Kenapa laki-laki begitu suka membuat hati wanita kacau?


“Apa bedanya lewat wa, daffa? Kalau memang kamu tidak mau lewat wa. Aku akan telepon kamu sekarang juga.”


“Nggak usah. Ini sudah larut malam. Nggak baik seorang perempuan telepon dengan lawan jenis tengah malam begini. Apalagi kamu calon istri orang.”


demikian.


Aku menaruh ponsel disamping laptop. Aku segera menuju ke kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat malam.


Selapas menunaikan sholat malam, aku meraih ponsel kembali. Ingin melihat ada pesan dari Daffa lagi atau tidak.


Bukan sebuah pesan yang masuk. Malah, aku menemukan sebuah status Daffa.


‘Pada akhirnya, kita akan mengetahui. Bahwa mengiklaskan adalah tentang menerima. Dan semua bermula ketika kecewa serta sakit menjadi hilang karena sebuah rasa maaf. Semua dimulai dengan memafkan, lalu menerima


tentang semua yang terlah terjadi.’


Tidak seperti biasanya, teman masa kecilku itu membuat sebuah status yang begitu menyayat hati. Bahkan dia mengunggah status di story wa itu tiga menit yang lalu.


Aku ingin sekali mengomentarinya. Namun, segera ku urungkan niatku tersebut. Karena status itu juga belum tentu ia tujukan kapadaku. Bisa jadi, dia menulis status itu untuk Nadia, kan?

__ADS_1


Baru saja aku ingin mematikan ponsel. Tiba-tiba sebuah pesan dari Pengelana masuk.


“Belum tidur?”


Akupun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. “Belum..” aku mengetik dan segera mengirim pada Pengelana.


“Kenapa?”


Tuhan… bahkan dia tidak menjawab isi dari pesanku kemarin siang.


“Saya ingin tahu. untuk apa kamu memberiku sebuah cincin dan secarik kertas?” akupun mengirim pesan itu dan menunggu balasan.


Pengelana membaca pesanku sepuluh menit setelah kukirim padanya. Aku meliaht, dia sedang menulis sebuah pesan. Lama. Lama sekali. Bahkan dia sepertinya mengurungkan keinginannya untuk mengirim pesan padaku.


“Kenapa tidak jadi kirim pesan?” aku kembali menunggu jawaban.


Pengelana membalas dengan emoticon tersenyum.


“Saya tidak bisa mengartikan dari emoticon kamu. Lebih baik, jika kamu terus terang saja.”


“M…” dia hanya mengirim pesan satu huruf saja.


“Apa? Kenapa tidak menjawab pertanyaan saya?”


“Jika ada seseoarang menyukaimu? Apa yang akan kamu lakukan?”


Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah balik bertanya padaku. Bahkan pertanyaannya sangat tidak masuk akal bagiku.


“Maksud kamu?”


“Jawab saja dulu…”


“Ya nggak apa-apa. Saya nggak punya hak untuk melarang seseorang untuk tidak menyukai saya.”


Pengelana membalas dengan emoticon tersenyum lagi.


Dengan rasa kesal aku membalas lagi. “Kan sudah saya jawab. Sakarang jawab pertanyaan saya tadi?”

__ADS_1


“Saya mencintaimu, M. saya tidak bisa mencabuti semua kenangan dari awal mengenalmu.”


__ADS_2