PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
DIA SUDAH PERGI


__ADS_3

“Daffa ke Korea.”


Aku baru saja selesai berdinas ketika ayah telepon. Aku pamit kepada kepala ruangan UGD dan beberapa perawat serta dokter jaga, mengucapkan salam dan segera keluar dari ruangan. Di luar gerimis.


“Halo, Ayah…” aku memperbaiki hansfree, mengembangkan payung dan mulai menyusuri jalan diluar gerbang rumah sakit. Jalanan nampak begitu padat.


“Dia bilang ke kamu?”


“Nggak…” aku bahkan belum komunikasi sama sekali dengan Daffa sejak telepon tempo waktu.


“Kalian masih marahan?” tanya Ayah.


Aku hanya menatap ujung sepatuku yang warnanya lebih gelap akibat terkena tetesan air hujan.


“Mungkin hanya salah faham. Ngapain dia ke Korea?”


“Jadi kalian masih saling diam?”


“Dia pamit apa, ke Ayah?”


“Mau coba merantau katanya.”


Merantau ke Korea?


Aku memikirkan kata itu sambil berbelok ke minimarket. Menutup payung dan menaruh dipojokan pintu. Aku berjalan ke kios minuman di sisi yang lain.


“Mizone, Mbak,” kataku sambil melepas handsfree. Menggulung kabelnya dan memasukkan kedalam saku.


Aku segera membayar dan mengucapkan terimakasih, membawa sebotol mizone ke sebuah bangku yang tersedia.


“Apa yang membuat Daffa memutuskan untuk pergi?” aku meneguk mizone, tapi pikiranku bertanya-tanya untuk apa Daffa pergi ke Korea?


Aku masih ingat, suatu hari pernah mengomel karena Daffa memutuskan untuk keluar dari kampus di tahun pertama kuliahnya. Dia bilang, “belajar bisa dimana saja. Tidak harus di bangku-bangku dalam sebuah kelas. Lagi pula, sejauh apapun aku pergi. Kembaliku pasti tetap ke sini. Aku tidak akan kemana-mana, karena masadepanku ada disini.”


“Tapi kepergianmu memberi banyak hal.”


“Tapi artinya, aku membiarkan bapak mencangkul sendiri.”


“Ya, karena itulah, kamu harus sungguh-sungguh belajar, bukan malah pulang begini padahal orang tuamu sudah banyak berkorban.”


Tapi perihal keputusan yang berhubungan dengan dirinya sendiri, Daffa memang keras kepala. Tidak seperti kepadaku yang pada akhirnya mengiyakan. Dia tetap tidak mau kembali ke kampus.


Daffa bekerja keras setelah itu. Pergi ke ladang pagi buta. Mencoba berbagai jenis tanaman. Mencari berbagai bibit unggul. Meracik pupuk. Bahkan kami semua takjub melihat semangat Daffa.


“Jangan memandangku begitu, aku memang tampan.” Waktu itu aku mengomentari kulitnya yang berubah tembaga karena lama terpanggang matahari.


Dia mengatakan padaku, harus mengembalikan biaya awal masuk kuliah. Orangtuanya menggadaikan separuh kebun dan menjual sepetak tanah kala itu.


Musim pertama Daffa berhasil, menanam melon yang suburnya membuat orang sekampung berdecak kagum. Aku ikut bangga ketika akhirnya melon-melon itu mulai berbuah.


“Aku akan menjadi petani melon pertama di kampung kita ini, Mhet.”


Tetapi, apapun bisa terjadi, bukan? Cuaca tidak bisa ditebak. Curah hujan yang banyak, membuat anak-anak melon itu membusuk. Hampir semua orang menghiburnya.


“Aku ikut sedih…” hanya itu yang bisa kuucapkan kala itu. Selebihnya, aku menemani Daffa yang seharian termangu di pematang, menatap melon-melon yang gagal panen.


Keesokan harinya, Daffa mencabuti semua melon-melonnya. Hatiku ikut perih.


“Setiap orang punya jatah gagal, Mheta Ayuandira. Aku sedang mencicil jatahku, sedih nggak akan bikin melon-melon ini membaik.”


Aku mengepal tangan. Setuju dengan yang dia katakan dan memberinya semangat.

__ADS_1


“Daff, tumben kamu ngasih embel-embel nama asliku?” kataku tersenyum.


“Ya biar nggak lupa, kalau sebenarnya nama kamu itu Ayuandira.” Katanya sembari tersenyum padaku.


“Tapi, bukannya kamu dulu yang bilang padaku, kalau panggilanku ganti saja dengan sebutan Mheta? Kamu bilang nama itu bagus untukku. Sampai semua orang dikampung ikut-ikutan manggil aku dengan nama Mheta!” kataku cemberut.


“Hei, bagaimanapun juga, Ayuandira L. itu tetap nama asli kamu, Mheta. Dan panggilan Mheta itu tetap hanya sebuah panggilan, yang nggak sengaja aku kasih buat kamu pas nyolong jambu Bu Sri. Ingat nggak?” katanya


tertawa.


Akupun mengembungkan pipi, mengingat tragedi nyolong jambu milik Bu Sri.


Beberapa hari kemudian, Daffa menabur benih sayuran. Sawi, lobak, selada, dan ternyata dia berhasil. Hingga kini, jenis sayuran yang ditanam sudah beragam. Kalau dulu dia yang pergi mencari pembeli. Sekarang para tengkulak justru yang datang untuk membawa ke daerah-daerah lain.


Lalu sekarang, dia tiba-tiba memutuskan pergi ke Korea? Meninggalkan ladang sayur yang selama ini dirawatnya?  Dan dia tidak bilang padaku?


Tidak bilang padaku.


Aku kembali meneguk mizone, menelannya. Berharap nyeri direlung dadaku ikut tertelan.


Hujan mulai sedikit reda. Dua orang bergandengan menyeberang jalan sambil tertawa-tawa. Mungkin mereka sepasang kekasih. Keduanya lalu memesan cokelat dan duduk tidak jauh dariku.


Daffa juga pernah menggandengku, dulu. Waktu kami masih kecil dan aku ketakutan lewat pematang baru yang begtu licin. Aku takut terjatuh kelumpur dan tenggelam. Untuk meyakinkanku, kalau sawahnya tidak dalam, Daffa bahkan rela masuk lumpur, mengotori hampir separuh badannya.


Lalu aku berjalan miring sambil jongkok, menyusuri pematang. Daffa tidak menertawakanku, dia hanya bilang, “suatu hari, kamu pasti berani.” Selalu begitu yang dia katakan tiap aku dalam posisi ketakutan.


Aku mengambil ponsel dari saku, dan menuju nama Daffa. Baiklah, kurasa, dia pun bebas pergi kemana saja, seperti dia yang kini telah membebaskanku. Tapi, kami harusnya tak saling diam, bukan? Setidaknya, tidak


apa aku mengalah, menyapanya lebih dulu.


“Daffa.”


Aku mulai mengetik namanya seperti biasa. Pesanku masuk, centang dua tapi masih terlihat abu-abu.


Sampai disini, aku bingung juga harus melanjutkan. Apakah aku harus bertanya kenapa dia tidak memberi tahu aku? Bukankah nanti dikira aku menuntut atau mencampuri urusannya? Atau cukup mendoakan saja agar semuanya lancar? Hmm… begitu akan lebih terlihat biasa, bukan?


“Semoga lancar dan baik-baik semua ya, Daff.”


Akhirnya, aku mengirim kalimat itu dan kusertakan emoticon senyum. Aku membiarkan Whatsapp terbuka. Berharap Daffa segera online. Harapanku terwujud. Aku melihat Daffa sedang mengetik.


“Aamiin, terimakasih.”


Hanya begitu? Aku membungkam mulut. Aku tahu Daffa tidak banyak bicara saat kami chatting. Tetapi, untuk pesan sepanjang itu dan hanya dibalas dua kata? Setelah selama beberapa minggu kami saling diam?


“Ya Tuhan… dia masih marah sama aku?” aku menghabiskan sisa mizone dalam botol, yang tiba-tiba rasanya berubah pahit. Untuk pengalihan, kurekam hujan turun selama beberapa detik, kemudian mengunggahnya ke status


whatsapp. Tanpa caption apapun.


Aku berdiri, membuang botol bekas mizone ke tempat sampah dan masuk minimarket. Aku melihat daftar belanjaan yang tertera di note ponsel, menyusuri rak dan memasukkan barang-barang kedalam keranjang.


Saat aku kembali melihat layar ponsel, satu pesan masuk. Dari Pengelana.


“Ternyata kita sedikit sama. Suka hujan.”


Dia tengah mengomentari video hujan yang beberapa saat tadi ku unggah. Tetapi dia tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya. Apa aku harus menagih jawaban? Atau menurutnya itu pertanyaan yang tidak perlu untuk dijawab?


Biarlah kalau begitu.


Jadi, akhirnya aku memberi balasan satu kata, “(((sedikit.)))” sengaja mengapit kata itu dengan tanda tiga kurung dan menambah emoticon tertawa.


“Seharusnya bagaimana?” katanya.

__ADS_1


Aku tersenyum. Kurasa dia benar-benar mengabaikan pertanyaanku kemarin siang.


“Tidak bagaimana-bagaimana.”


Aku menatap keranjang dan mengecek daftar belanja, sudah semua.


“Kwaci, M.”


Dan kali ini aku benar-benar tertawa. Dia memanggilku ‘M’ dan mengirim sebuah gambar.


“Ini sih kulit kwaci, bercampur abu rokok pula.” Balasku.


“Cobain deh sama kopi.”


“Saya lebih suka bunganya, bunga matahari maksudnya.”


Aku tidak bohong. Aku memang suka bunga matahari, bunga dahlia dan bunga mawar. Tapi aku tidak membalas begitu kepada Pengelana. Aku berjalan ke kasir, dan saat melewati rak makanan, mataku menangkap jajaran kwaci. Akupun berhenti sejenak.


Sudah lama aku tidak makan kwaci. Terakhir makan sepertinya tiga atau empat tahun yang lalu, saat ada acara bedah buku dan teman dudukku menawariku kwaci. Seprtinya tidak ada salahnya ambil sebungkus kwaci.


Hujan sedah reda sewaktu aku keluar dari minimarket. Meski jalanan masih basah dan penuh genangan, tetapi aku tak perlu mengembangkan payung lagi.


****


“Tumben beli kwaci?” Tanya Rini saat melewati kamarku dan aku tengah mengupas kwaci sambil menghadap laptop.


“Beneran enak, kok. Cobain!”


Rini menolak dengan alasan sudah gosok gigi, “aku hanya tanya, tumben kamu beli kwaci? Dapat ilham dari mana, Mheta? Dari botol mizone kah?”


Aku tertawa gelak. Harusnya aku bilang ‘iya’ pada Rini. Tapi sudahlah. Aku tak mau menjadi bahan bullyan dia lagi.


Tanganku kembali ke keyboard, tetapi mataku terpaku pada satu pesan masuk di layar ponsel.


“Seseorang yang tidak ingin kamu sebut namanya dalam cerpenmu itu, sekarang di mana?”


Astaga Pengelana? Pertanyaaan macam apa itu? Dia membahas kembali cerpenku dan tetap tidak menjawab pertanyaanku kemaren siang.


“Itu hanya fiksi,” balasku.


“Bohong!”


Orang ini? aku menekuk bibir sambil mengetik balasan, “itu hanya cerpen,” kilahku.


“Cerpen yang kamu tulis dari kisah saya dan kisah kamu sendiri,” balasnya.


Akupun tertegun, tidak tahu harus membalas apa.


“Di mana dia sekarang?”


“Siapa?”


“Seseorang yang tidak ingin kamu sebut namanya?”


“Mmmm..”


“Ikhlas? Nggak mau ngasih tahu?”


Lalu aku ingat jawaban Daffa yang singkat. Kepergiannya yang bukan tak mengabariku, kemudian ingat telepon ayah tadi. Pelan aku mengetik balasan.


“Dia sudah pergi..”

__ADS_1


Ya Tuhan, ini pertama kalinya aku berbagi masalah pribadi dengan seseorang. Aku ingin menghapus pesanku barusan. Tapi terlambat, di layar Pengelana typing…


__ADS_2