
Jika boleh, aku ingin bertanya kepada Tuhan, kenapa menjemput ayah secepat itu? Aku bahkan belum mampu untuk mengeja kenangan, tapi ayah sudah pergi.
Setelah kejadian tadi pagi dirumah Daffa. Aku menghabiskan waktu didalam kamar. Mengurung diri, agar tak terlihat raut kesedihan oleh ibu. Sebenarnya ada rasa ingin bertanya kepada ibu. Mengapa ibu Daffa sampai semurka itu terhadapku? Apakah memang, keluargaku dan keluarga Daffa pernah berbincang perihal masadepan kami?
Karena, selama ini yang aku tahu. Ibu dan almarhun ayah hanya mengingatkanku saja, agar aku tidak terlalu dekat dengan Daffa karena kami lawan jenis. Mengenai pertengkaran kami tempo waktu. Almarhum ayah hanya memberi wejangan terhadapku. Agar aku tidak bersikap demikian kepada Daffa, semua itu karena kami memang tumbuh bersama dari kecil hingga dewasa ini.
Tapi, memang tak dapat dipungkiri, jika kedekatanku dengan Daffa, dulu begitu banyak di gadang-gadang oleh penduduk kampung. Jika kami akan mengakhiri persahabatan itu di pelaminan, kelak. Bahkan, akupun sempat menaruh harap, jauh sebelum pertengkaran antara kami terjadi. Begitu juga dengan Daffa,mungkin.
Namun, manusia hanya bisa berencanakan 'kan? Lalu, yang menentukan semua rencana itu hanya Tuhan. Jika aku dan Daffa saat ini tidak bersama. Bukan berarti kami juga harus saling menghindar, bermusuhan, bahkan harus saling membenci. Aku bukan tipe orang yang seperti itu.
perihal sikap ibu Daffa yang mendadak berubah padaku. Aku akan mencoba untuk memahaminya. Namun, yang aku takutkan. Ibu Daffa akan sama hal nya bersikap sedemikian pula terhadap ibuku.
******
"Mheta... Aku sungguh minta maaf atas perlakuan ibuku tadi padamu."
Sebuah pesan dari Daffa masuk. Aku menganjur napas, memejamkan mata beberapa menit. Berfikir, balasan apa yang harus ku kirim kepada Daffa.
Aku belum bisa berpaling dari nama Daffa, di antara deretan nama-nama dalam pesan whatsapp. Namun, pesan lain tiba-tiba masuk. Sebuah pesan yang begitu tak disangka-sangka.
Pengelana tiba-tiba mengirim sebuah pesan. Bukan, ini sebenarnya bukan pesan. Ya, karena dia hanya mengirimiku sebuah emoticon senyum.
Lalu, belum sempat aku membalas emoticon tersebut. Pengelana kembali mengirim sebuah pesan disertai gambar.
"Senja kali ini benar-benar berbeda. Saya merasa sedang bermain ditengah-tengah senja yang sebentar lagi akan lenyap termakan gelap malam."
Sebuah kalimat disisipkan oleh Pengelana dibawah sebuah gambar langit yang mulai temaram.
Dadaku benar-benar berdegub kencang tak beraturan. tangan kiriku membungkam mulut. Jemariku terasa begitu kikuk, ketika hendak menulis pesan.
Tidak... kali ini aku harus bisa menahan keinginan untuk melayani pesan Pengelana. Kami bukan sepasang kekasih, kami hanya sebatas teman baik. Itupun aku yang pertama memanggilnya teman baik.
Aku meninggalkan nama Pengelana, lalu berpindah kepada nama Daffa.
"Nggak apa-apa. Aku paham, perasaan Bibi mungkin syok. Karena kamu harus pergi." Aku membaca berulang kali, menimbang kalimat yang akan ku kirim kepada Daffa. Aku benar-benar takut salah bicara padanya.
"Makasih Mheta... makasih kamu sudah mau menjadi teman baikku selama ini. Aku doakan semoga kamu bahagia bersama Rasyid."
__ADS_1
Ada yang memanas dikedua sisi mataku. Saat membaca kembali pesan Daffa barusan.
"Aamiin..." mungkin hanya kata itu yang pantas aku kirimkan untuk membalas pesan Daffa.
Lima menit berlalu. Aku belum melihat Daffa akan membalas pesan singkat dariku.
Aku menganjur napas. Mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan jari-jemari, sembari menunggu balasan dari Daffa.
Lima belas menit berlalu. Nama Daffa mulai tenggelam oleh beberapa pesan masuk.
*****
"Mheta..." seruan Ibu terdengar sedikit keras dari arah belakang rumah.
Aku segera berjingkat, menelusuri ruangan, berjalan kearah datangnya suara Ibu. "Iya, ada apa, Bu?"
"Ini lho... Kamu belum beli rumput buat pakan kambing, ya?" Ibu terlihat sedang sibuk memberi pakan kambing-kambing dengan sisa rumput yang terlihat sudah mulai mengering.
Hari ini, aku memang benar-benar lupa membeli rumput untuk kambing-kambing almarhum ayah. "Maaf Bu, Mheta kelupaan," selorohku dengan senyum datar.
"Alah Nduk...Nduk, kamu tuh kebiasaan." Tukas Ibu dengan menggelengkan kepala. "Yawis, kamu cepet beli rumput dulu. Mumpung belum terlalu sore." Sambungnya.
******
Sebotol mizone berwarna biru yang sedari tadi hanya kupandangi tanpa sedikit pun bernafsu meneguknya, telah kutenggak habis. Kendati aku tak ada niat untuk meminumnya, tapi apa boleh buat. Kerongkonganku benar-benar sudah kering kerontang.
Kuseka butiran air mata yang sedikit mengalir dari kedua sudut mata.
Aku belum bisa meninggalkan ingatan tentang kejadian dikediam Daffa kemarin pagi. Hingga saat ini, hatiku masih bertanya-tanya, mungkinkah ibu Daffa juga bersikap demian terhadap ibu?
Angin malam yang menyeruak dibalik jendela kamar, seakan memanggil-manggil untuk ikut bersenandung lirih dengannya. Suara jangkrik dari persawahan belakang rumah terdengar nyaring dan saling bersahutan.
"Mheta..." ternyata tanpa ku sadari, ibu sudah berdiri dihadapanku. Aku berusaha menyeka air mata yang terus saja mengucur dibagian kedua pipi.
Aku mencoba tersenyum, lalu menjawab ketika ibu memandangiku dengan menautkan kedua alisnya. "Ibu udah lama dikamar, Mheta?" suaraku begitu parau.
Ibu tersenyum, lalu mengambil posisi duduk disamping kananku. Terdengar helaan napas ibu begitu berat terdengar di kedua telingaku. "Kamu kenapa nangis? Hari pernikahanmu tinggal enam hari lagi." Seloroh ibu dengan tersenyum, namun tak dapat dipungkiri, jika wajah ibu terlihat begitu sendu.
__ADS_1
Aku tak bisa menjawab pertanyaan ibu. Aku segera memeluk dan menumpahkan tangis dipundaknya. Ya, kali ini aku tidak bisa lagi menahan segerombol kesedihan yang berjubel dalam hati.
"Kamu ada masalah dengan Daffa?"
Sebuah pertanyaan yang membuatku semakin menangis.
Aku menggelengkan kepala, tak mau ibu tahu jika ibu Daffa sempat mengumpatku kemarin pagi.
"Bi Sum, marah sama Ibu. Katanya... nggak seharusnya ibu menikahkan kamu sama Rasyid." terlihat ibu menunduk. Sesekali terdengar menganjur napas berat. "Kamu ada rasa sama Daffa?"
"Kenapa ibu bisa bilang begitu?" kataku dengan suara lirih.
"Ibu tidak pernah mengajarimu untuk berbohong kan, Mhet?" Ibu menganjur napas kembali. "Bahkan, saat ibu menyuruhmu untuk menikah dengan Rasyid. Sebelumnya ibu sudah bilang sama kamu, jika ibu tidak memaksamu." Kali ini, kedua bola mata yang mulai menua itu memandangiku dengan tajam.
"Ibu...."
"Kamu harus jujur sama ibu. Apa kamu sayang dan cinta sama Daffa? Apa dia pernah menyatakan perasaannya sama kamu? Apa kepergiannya kali ini, benar-benar disebabkan karena kamu akan menikah dengan Rasyid?" Ibu memberondolku dengan berbagai macam pertanyaan. Pertanyaan yang jawabnya belum sempat ku pikirkan.
Aku tercekat. Ada yang menyumbat dikerongkonganku. Sakit, sakit sekali.
"Jujurlah, Mhet... Jika memang kalian saling jatuh cinta. Ibu akan pastikan, jika pernikahanmu dengan Rasyid akan ibu gagalkan."
"Jangan, Bu..." buru-buru aku mengucapkan kalimat tersebut. Aku tidak boleh bodoh dalam menyikapi masalah ini.
Aku dengan Rasyid akan menggelar pernikahan. Bahkan pernikahan kami akan segera di gelar beberapa hari lagi. Tidak mungkin bagiku menghancurkan semua. Siapa aku? Hingga dengan bangganya akan menghancurkan semua impian orang-orang yang telah memilihku.
"Mheta nggak pernah ada rasa apapun terhadap Daffa, kok. Bahkan kepergian Daffa kali ini bukan disebabkan oleh pernikahan Mheta. Dia ke Korea karena ingin mengejar masadepannya."
Kedua alis Ibu terlihat saling bertautan, "masadepan?"
Aku menyunggingkan senyum, "iya, Bu. Masadepannta sedang berada disana. Namanya Nadia..." tukasku.
"Nadia? Tapi kenapa Bi Sum bisa semarah itu kepada ibu, ya?"
"Sudahlah Bu... sepertinya Bi Sum salah faham. Biar nanti Mheta yang ngomong sama Bibi." Kataku menenangkan hati ibu.
"Lha kok bisa? 'Kan kamu sama Daffa nggak punya hubungan apa-apa? Atau... Sebenarnya Daffa yang menaruh hati sama kamu?" sepertinya ibu menaruh curiga terhadap perlakuan Daffa selama ini kepadaku.
__ADS_1
"Sudah Bu... Ibu nggak usah mikir itu dulu. Yang harus ibu pikir saat ini, pernikahan Mheta sudah tinggal menghitung hari. Ibu doakan Mheta, supaya semua lancar tanpa ada halangan."