PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 67


__ADS_3

“Untuk apa aku menangis untukmu? Baru beberapa hari saja enggak ketemu, kamu sudah menyelinap masuk kedalam kamarku.”


“Karena aku tak mampu hidup tanpamu.” Jawabnya sambil mengecup kening istrinya. “Jadi, sekarang kita mau kemana?”


“Mas belum beli tiketnya?”


Tama menggelengkan kepalanya, “Belum. Kamu mau kemana, Sayang? Eropa? Korea? Sebut saja kemana saja, aku akan mendapatkan tiketnya dalam lima menit.”


“Kalau begitu kenapa kita tidak ke Amerika saja? Mam dan nenek pasti belum berangkat.”


“Tidak, tidak. Aku tidak setuju.”


“Kenapa? Kan kita bisa sekalian jenguk ayah.”


“Aku tidak setuju, nanti saja jika kita mau ke Amerika. Sekarang adalah bulan madu kita, Sayang. Aku ingin kamu fokus hanya padaku. Tidak dengan lainnya.”


“Walaupun itu keluargamu sendiri, Mas?”


“Ya. Aku ingin hanya aku yang menjadi prioritasmu saat ini.”

__ADS_1


“Kalau begitu, emmmm . . . aku ingin ke . . . “


“Kamu mau kemana, hm?”


“Bagaimana jika kita ke Bali saja? Sekalian bisa mencoba hotelmu yang baru saja opening?”


Tama tertegun dan melihat istrinya dengan penuh tanda tanya, “Hanya Bali? Tidak ingin keluar negeri? Aku lihat banyak sekali orang kaya ataupun artis-artis ibu kota yang doyan pergi ke luar negeri untuk liburan mereka.”


“Keinginan orang kan beda-beda, Mas. Lagi pula, Bali menurutku jauh lebih bagus terutama dengan alamnya. Lihat saja, jika Bali tidak sebagus itu, tidak mungkin banyak turis manca negara yang datang ke sana. Dan apa kamu pernah mendengar jika beberapa dari mereka mengenal Indonesia melalui Bali?”


“Ya-ya, kamu benar. Memang disana sangat indah, tapi . . . kamu yakin, Sayang. Benar-benar tak ingin keluar negeri? Hanya ingin ke Bali?”


“Baiklah kalau begitu.” Tama akhirnya menurut kepada pilihan istri cantiknya itu.


“Mau memakai kamar tepi pantai pribadi, Sayang?”


“Apa Mas punya?”


“Tentu saja. Aku menghabiskan pembiayaan miliaran rupiah untuk itu. Aku sudah meminta mereka menyediakan private room khusus tepi pantai hanya untukku, untuk kita, kapanpun kita mau menggunakannya, kita bisa memakainya. Dan tidak akan disewakan untuk pelanggan lainnya.”

__ADS_1


“Suamiku memang hebat.” Bangganya dengan mengecup pipi Tama.


“Kamu patut berbangga untuk itu.”


Akhirnya, Tama dan Carissa terbang ke Bali dengan penerbangan tercepat siang itu. Tama mengambil cuti bulan madunya selama satu bulan penuh, sudah bertahun-tahun ia tidak pernah mengambil jatah cutinya, kali ini Allen yang cukup kelabakan karena Tama meninggalkan beban pekerjaan berat untuknya. Walau Allen di bantu oleh beberapa Tim dan petinggi perusahaan untuk mengelola perusahaan selama Tama tak ada, hal itu cukup menyita waktu dan tenaga Allen, sehingga laki-laki bermata biru itu terus mengutuk Tama dari kejauhan.


Carissa dan Tama menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam lima puluh menit via udara, sesampainya di bandara, mereka langsung dijemput oleh mobil dari pihak hotel.


“Bagaimana, Sayang. Kamu suka?” tanya Tama saat mereka berdua akhirnya bisa duduk santai di teras kamar setelah selesai mengemas isi tas yang mereka bawa.


“Suka, sangat suka, terima kasih, Mas.” Ucapnya sembari mengecup pipi suaminya itu, dan menikmati angin yang semilir juga suara deburan ombak pantai, “Tapi bolehkah aku duduk sendiri saja? Di sini ada dua kursi, Mas. Aku bukan anak kecil lagi.”


“Tidak, tidak, tidak. kamu hanya boleh duduk di pangkuanku saja. Di sini lebih nyaman, kan?” tolaknya, lalu beberapa kali Tama mencoba menciumi leher putih yang tersaji di hadapannya.


“Mas! Geli! Jangan begini, ah. Nanti kalau di lihat orang.”


“Tak akan ada yang berani masuk ke wilayah ini, ini area privat, Sayang. Kita bisa melakukan apa saja dan dimana saja.” Jawabnya sambil tetap mengecup setiap bagian leher yang mulai meremang.


“Mas!” protes Carissa. Namun percuma saja, protesnya sama sekali tidak didengarkan oleh Tama, kini suaminya itu justru sudah fokus memberikan sentuhan-sentuhan panas kepada tubuh yang mulai merespon dengan gelisah.

__ADS_1


__ADS_2