
“Kalian masih belum mengetahui keberadaan Amelia?”
“Kami masih terus melacaknya, Tuan. Tidak ada saksi mata, juga tidak ada CCTV yang merekam mereka saat berhasil keluar dari rumah sakit melalui pintu belakang. Satu-satunya CCTV yang mengawasi pintu belakang telah di rusak sebelumnya, jadi kami masih terus berusaha mencari keberadaan nona Amelia.”
“Apa kalian sudah menggeledah kediaman Kris?”
“Sudah, Tuan. Dan kami tetap tidak menemukan petunjuk apapun. Kelihatannya Kris tahu jika kita akan menggeledah rumahnya.”
“Ya, dia pasti tahu jika kita akan melakukannya saat ia membawa lari Amelia. Kris bukan sekretaris biasa, dari awal dia bergabung dengan perusahaanku, aku sudah merasakannya.”
“Apakah ada perintah tambahan, Tuan?”
“Tempatkan beberapa orang di sekitar Adhitama, aku yakin jika Amelia pasti akan menemui Adhitama.”
“Baik, Tuan. Kami undur diri.”
Pradipta menghantamkan tangannya ke dinding dengan perasaan emosi yang meluap-luap. Dia merasa marah dan kecewa karena adik yang di sayanginya selama ini telah menjadi batu sandungan untuknya. Berkat Amelia, saham perusahaannya turun drastis, dan saat ini perusahaannya di ambang kehancuran karena banyak yang memutus kontrak kerja sama secara sepihak, bukan hanya itu saja, kini ia juga terancam berurusan dengan hukum jika tidak menemukan adiknya dalam waktu satu bulan, karena waktu itu yang di berikan oleh pihak rumah sakit untuk mengembalikan adiknya sebelum mereka melaporkannya ke kepolisian.
“Sial! Harusnya ku biarkan saja dia membeku di penjara. Bisa-bisanya dia terobsesi dengan seorang laki-laki yang sudah beristri!”
*Satu bulan kemudian*
__ADS_1
Tama telah menjemput mama dan neneknya dari bandara. Ditemani oleh Allen, mereka menuju rumah utama karena kedua orang tua itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Carissa.
“Apa saja yang Mam bawa? Kenapa aku harus membawa barang-barang Mam dengan mobil yang berbeda?”
“Itu karena Mamamu tidak mau kamu menumpuk barang-barang untuk calon cucunya, Tama?” jelas nenek Lita.
“Apa? Untuk calon anakku? Sebanyak itu?” Tama dengan jelas mengingat ada 3 koper besar dan juga 2 benda yang terbungkus rapi dengan kardus.
“Ya, itu untuk cucuku.” Jawab Mega dengan ceria.
“Kenapa tidak membawakanku calon istri sekalian, Tante?” Allen ikut bertanya.
“Kamu suka gadis pirang, Allen?”
Mega tertawa, “Bukankah kamu sudah pandai mencari pacar, Allen?” ucapan Mega membuat Allen sedikit malu.
“Apa isinya, Mam?” Tama merebut perhatian kembali, ia mengisyaratkan Allen untuk fokus menyetir. “Kenapa harus membawa barang sebanyak itu dari Amerika? Di sini juga banyak barang keperluan untuk bayi. Dan biarkan kami sebagai orang tuanya untuk membeli barang-barang itu, aku juga ingin memilih dan membelinya sendiri bersama istriku, Mam.” Keluh Tama.
“Kamu tetap bisa melakukannya, Tama. Bayi itu cepat besarnya, baju-baju kecil itu akan dengan cepat tidak muat di tubuh imut itu. Mam sudah tak sabar ingin cepat-cepat menimangnya.”
“Sabar, Mam. Bukan Mam saja yang ingin, semua orang selalu mengatakan jika mereka tidak sabar ingin cepat bertemu dengan anakku.”
__ADS_1
“Kenapa kamu terlihat kesal begitu? Maklumi saja jika kami bersemangat.” Mega terlihat kesal.
Tama mengalihkan topik pembicaraannya, “Nenek? Bagaimana kabar Nenek selama ikut dengan Mam? Apa Nenek merasa nyaman berada di Amerika?”
“Ya, awal-awalnya Nenek sempat merasa tidak betah dan rindu dengan kalian berdua. Untung saja Risa sering menghubungiku melalui panggilan video, hal itu bisa membuatku sedikit menghilangkan perasaan rinduku pada kalian. Tapi sekarang Nenek sudah mulai terbiasa.”
“Bahkan Nenek sekarang sudah mempunyai beberapa teman di sana, Tama. Mereka sering berkumpul di taman rumah secara bergantian.”
“Betulkah? Memangnya apa yang di bicarakan oleh sekumpulan orang-orang tua?”
“Jaga bicaramu! Kenapa kamu jadi tidak sopan dengan nenek?” protes nenek Lita.
“Tidak, Nek. Tama hanya bercanda karena bahagia bisa melihat Nenek sehat.”
Nenek Lita terlihat kesal tapi sebenarnya dia tidak marah sama sekali dengan cucu kesayangannya itu, “Tentu saja yang kami bicarakan itu hal-hal menyenangkan di masa lalu, setelah itu kami membanggakan cucu-cucu kami yang berharga.”
“Tidak dengan anak dulu, Bu? Dan hanya cucu?” tanya Mega dengan sedikit nada protes.
“Jangan kesal, sebentar lagi yang ada di ucapanmu tidak akan ada lagi nama Tama, hanya ada nama cucumu yang wajahnya selalu terbayang, nantikan saja hal itu.”
Mega terkekeh dan mengangguk mengerti, “Baiklah, aku tidak akan marah karena sepertinya aku akan melakukan hal itu juga.”
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan stabil membelah jalanan ibu kota, sesampainya di rumah utama Syahreza, nenek Lita masuk kedalam rumah di bantu oleh bu Yanti, dan Mega berjalan di sebelahnya. Saat pintu terbuka, senyum mereka merekah karena sosok cantik yang telah menyambut dengan senyum cantiknya.