PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 107


__ADS_3

Tok . . . tok . . . tok . . . ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Tama dan Carissa. Saat Tama membukanya, ia mendapati Allen ada di balik pintu tersebut.


“Kita harus mengadakan rapat secara online sebentar, Tama. Tim di kantor pusat saat ini sudah menunggu.”


“Tunggu sebentar.” Tama masuk kembali kedalam kamarnya untuk memberi tahu istrinya. “Sayang, aku harus rapat sebentar. Ini mendesak, jadi maaf aku tidak bisa menemanimu ke resto. Apa perlu aku meminta Mam untuk menjemputmu?”


“Jangan lakukan itu. Aku bisa kesana sendiri, Mas. Jangan khawatirkan aku.”


“Kamu yakin tidak apa-apa?”


“Aku bukan anak kecil yang mudah tersesat, Mas. Aku bahkan akan segera menjadi seorang ibu.”


“Baiklah, hati-hati dalam melangkah. Cepat kabari aku jika terjadi sesuatu. Setelah selesai rapat, aku akan cepat menyusulmu. Kurasa Mam dan nenek juga sudah ada di sana sekarang.” Tama berpamitan setelah mengecup kening istrinya.


Carissa bersiap-siap untuk sarapan di resto, kali ini Carissa mengenakan dress polos tanpa motif berwarna merah, tapi tetap bisa menampilkan lekuk tubuhnya yang seksi. Dia sudah mulai tidak memakai celana jeans, karena perutnya yang sudah mulai membuncit.


“Maaf, apa Kakak seorang turis?” tanya seseorang tiba-tiba dari arah belakang. Carissa baru saja keluar dan menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


“Bukan, saya hanya tamu undangan di pesta pernikahan yang di adakan kemarin.”


“Oh, sayang sekali, Kak. Di sini wisatanya sangat cantik. Apa Kakak berniat untuk berwisata di sini?”


“Siapa laki-laki ini? Apa dia pemandu wisata?” pikir Carissa dalam hati. “Maaf, tapi siang ini kami akan kembali ke Jakarta.”


“Sungguh di sayangkan jika Kakak sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak bisa menikmati alam di Lombok. Saya boleh menyarankan sesuatu?”


“Apa itu?”


“Tunggu sebentar.” Laki-laki itu membuka handphonenya dan mencari sesuatu, saat menemukan apa yang ia cari, ia menunjukkannya kepada Carissa, “Bukankah ini cukup indah, Kak.”


“Tenang saja, Kak. Saat Kakak melakukan perjalanan pulang, saat akan ke Bandara Internasional, Kakak bisa melewatinya. Ini satu arah menuju bandara.”


“Benarkah? Tapi kemarin kami tidak melewatinya.”


“Kakak tinggal tunjukkan saja kepada sopir, mereka akan membawa Kakak kesana. Perjalanannya pasti akan sangat menyenangkan karena jalanan ini tepat tepi laut, dan ini adalah Rest Area yang cukup terkenal.”

__ADS_1


“Benarkah?” Carissa mengeluarkan telepon genggamnya dan mencari nama tempat yang di tunjukkan laki-laki itu, dan benar saja jika tempat itu memang cukup terkenal. Sebuah Rest Area Malimbu dengan jalanan di atas Bukit Malimbu dan berbatasan dengan laut biru. “Terima kasih atas sarannya.”


“Sama-sama, Kak, kalau begitu, saya permisi dulu.” Laki-laki itu berjalan melewati lorong hotel dan menghilang dibalik lift.


“Orang-orang di sini sangat ramah, mereka bahkan menunjukkan padaku tempat yang bagus. Aku harus memberitahu Mam untuk mengunjunginya walau sebentar, sayang sekali sudah jauh-jauh ke sini tanpa mengunjungi spot terkenal di sini.” Carissa berjalan dengan riang karena ia akhirnya bisa menambah pengalamannya dalam berwisata.


Seperti yang di duga, Mega juga antusias saat melihat gambar yang di tunjukkan oleh menantunya. Ia juga cukup terpesona dengan keindahan alamnya. “Dari mana kamu mengetahuinya, Sayang?” tanya Mega.


“Ada seorang pemandu wisata yang memberitahukannya padaku, Mam. Aku bertemu dengannya saat keluar dari kamar.”


“Tour guide di dalam hotel bintang lima?” gumam Mega dengan suara pelan. “Apa kamu yakin? Dia bukan seseorang yang mencurigakan?”


“Tidak, Mam. Dia tidak bertindak mencurigakan, orang itu hanya sempat bertanya padaku dan menawarkan wisata yang ada di sini. Dan karena aku berkata jika akan kembali siang ini, dia menawarkan untuk mampir ke tempat ini karena masih satu arah ke bandara.”


“Oh, baiklah. Kita akan mampir sebentar ke sana. Kita bisa berangkat lebih awal agar bisa melihat-melihat dan menikmati pemandangan dari Rest Area itu.”


“Baik, Mam. Terima kasih.” Ucapnya penuh kebahagiaan, “Bagaimana dengan Nenek?”

__ADS_1


“Nenek sudah tua, Risa. Yang bisa nenek lakukan adalah mengikuti kalian. Nenek sangat bahagia melihat anak dan juga cucu nenek hidup rukun.”


__ADS_2