
“Mas sudah siap berangkat?”
“Kamu terbangun? Tidurlah lagi lebih lama. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan sarapanmu ke kamar.”
“Hm, tidak. Aku akan sarapan dibawah denganmu. Tunggu aku.” Carissa bangun lalu menghilang dibalik kamar mandi.
Tama dengan setia menunggu istrinya dan duduk dengan tenang di sofa, sambil memeriksa agendanya hari ini. Carissa menggunakan pakaian casual, dengan celana jeans biru muda dan kemeja berlengan panjang berwarna putih. Dengan terampil perempuan cantik itu mengikat rambutnya, lalu menyematkan anting kecil di telinganya.
“Kamu mau kemana, Sayang? Kenapa berdandan cantik sekali?” tanya Tama penasaran. “Lihatlah! Bahkan kamu sangat cantik hari ini.”
“Aku hanya ingin meneruskan mencari gedung untuk usahaku, Mas. Kamu masih ingat kan, apa yang ku inginkan?”
Tama berjalan mendekat dan berdiri dibelakang Carissa yang saat ini duduk didepan meja riasnya, “Tak bisakah kamu tidak usah bekerja? Kamu bisa membeli apa saja dengan uangku, Sayang. Kamu boleh melakukannya, habiskan uangku. Aku ingin kamu banyak istirahat di rumah.”
“Dan kamu akan membuatku stres mas?”
“Mana mungkin aku melakukannya.”
“Itu tadi! Kamu menyuruhku untuk mengurung diri di rumah.”
“Aku tidak mengurungmu, aku hanya memintamu untuk beristirahat di rumah. Tidur malammu saja kurang.”
__ADS_1
“Karena siapa, hm?”
“Ya, karena aku.” Tama mengaku salah, “Makanya bagaimana jika kamu banyak istirahat saja di rumah? Dan saat kamu bosan, aku akan menemanimu berbelanja semua yang kamu mau.”
“T.i.d.a.k m.a.u! Aku ingin membuka butik, Mas. Aku ingin membuka toko baju yang di dalamnya memajang baju-baju hasil karyaku, yang hanya ada satu di kota ini.”
Tama kebingungan mencari alasan agar mencegah istrinya bekerja di luar rumah, “Lalu ba-bagaimana jika kamu hamil nanti, hm? Aku tak ingin kamu kecapekan.”
“Kalau misalkan aku hamil, berarti aku akan menunda usahaku itu.” Jawab Carissa dengan enteng.
“Benarkah?” tanya Tama dengan semangat. “Itu berarti Risa akan menundanya sampai anak kami besar, dan saat anak kami besar, aku akan membuatnya hamil lagi. Berarti aku harus bercinta dengannya setiap malam agar Risa cepat hamil.” Tama menyusun rencananya dalam hati.
“Apa yang kamu rencanakan, Mas?” Carissa bisa melihat senyum licik suaminya dari balik kaca.
Carissa berdiri dan mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya, “Apapun yang kamu rencanakan, yang pasti, malam ini kamu tidak bisa meminta jatah harianmu, Mas.”
“Hah! Apa maksudnya? Tidak mungkin itu boleh terjadi.”
“Tamu bulananku datang, Mas.”
Bagai tersambar petir di siang bolong, tanpa ia sadari tubuhnya telah mematung, “Sa-sampai kapan?”
__ADS_1
“Entahlah. Jadwal bulananku tidak teratur. Biasa satu minggu, atau lebih.” Carissa melepaskan tangannya dan berjalan ke atas nakas mengambil tas kecilnya.
Tama terus mengekor dibelakang Carissa seperti anak kecil yang meminta hadiahnya dikembalikan, “Kenapa lama sekali? Tak bisa tiga hari saja?”
“Emangnya aku punya hak kendalinya, hah?” jawab Risa sebal.
“Itu lama sekali, Sayang.” Tama merajuk dan memeluk istrinya dari belakang.
“Satu minggu itu cepat, Mas. Lepas! Ayo kita turun, nanti kamu telat kerja.”
“Aku tak akan bisa bertahan.”
“Apa hanya itu yang ada di pikiranmu? Pikiranmu kotor sekali ternyata!”
“Tidak, bukan begitu. Tapi sudah sebulan ini, hal itu sudah menjadi rutinitasku tiap malam, pun jika tidak bisa malam itu, besoknya aku akan mendapatkannya. Bagaimana bisa aku bisa hidup selama satu minggu ke depan?”
Carissa tertawa melihat tingkah lucu suaminya, Tama sangat kekanak-kanakan. Carissa memutar tubuhnya dan membuatnya berhadapan dengan suaminya yang saat ini seperti anak kecil yang sedang tantrum, dengan tegas ia menatap kedua mata suaminya, “Satu minggu, Mas. Hanya satu minggu, saat itu selesai, kamu boleh melepaskan binatang buasmu itu. Ok? Jadi, sebelum aku marah, ayo kita turun untuk sarapan pagi lalu berangkat bekerja. Mengerti?”
Tama mengangguk dengan patuh, nyalinya langsung menciut saat istrinya terlihat begitu serius. Tama mengikuti Carissa untuk turun ke lantai bawah dan sarapan pagi. Saat ia akan pergi bekerja, Tama meminta Vian untuk mengawal Carissa.
“Bisa berikan senyum untukku, Mas?”
__ADS_1
Tama yang sedari tadi cemberut kini melengkungkan bibirnya dengan canggung, “Baguslah. Aku berangkat dulu, ya.” Carissa berpamitan untuk pergi terlebih dahulu. Tak lupa ia mengecup singkat bibir suaminya yang masih merajuk padanya. Namun Tama tetap bersikap hangat dan mengecup kening istrinya.