
Pemilik Hati (63)
Syifa menatap wajah David yang nampak pucat. Ia merasa tak percaya bahwa kondisi suaminya cukup parah.
Apalagi saat ia tahu bahwa alasan suaminya tak mau operasi adalah karena khawatir operasinya gagal. Sehingga daripada harus mempertaruhkan pada sesuatu yang belum pasti, lebih baik ia menikmati saja hari-hari terakhirnya.
" Kenapa kamua bisa bertindak gegabah seperti ini, Bi? Menolak operasi padahal kamu tahu itu satu-satunya harapan untuk kesembuhan mu?," monolog Syifa sambil mencium punggung tangan suaminya yang terbebas dari infus.
" Kamu harus mau di operasi. Demi aku dan anak-anak kita," Syifa meletakkan tangan suaminya yang ia genggam ke pipinya. Air matanya mengalir. Tiba-tiba perasaan takut itu datang.
Kalau saja hari ini Syifa tidak pergi ke kantor suaminya, mungkin ia takkan tahu apa yang terjadi.
Syifa bersyukur bisa membuat rencana yang akhirnya membuat ia seolah-olah tahu keadaan suaminya tanpa sengaja. Padahal nyatanya ia tahu dan sengaja membuat rencana itu. Karena dengan begitu, suaminya tidak akan merasa di khianati sahabat sendiri.
Flashback On
" Fa, sebenarnya kondisi David pasca kecelakaan kemarin tidak baik-baik saja. Ada pembekuan darah di kepalanya yang akan berakibat fatal kalau dia tak melakukan operasi secepatnya," ucap Rangga tanpa basa basi saat sambungan telponnya terhubung.
Rangga memilih mengkhianati kepercayaan sahabatnya yang melarangnya menghubungi Syifa dan memberitahunya kondisi sebenarnya.
Rangga tak ingin menyesal saat David benar-benar pergi nantinya. Ia pikir Syifa lah satu-satunya orang yang akan mampu membuat David berubah pikiran.
Deg
"Apa maksud kak Rangga? Bukankah Mas David selama ini baik-baik saja?," tanya Syifa.
" Sebenarnya dia menutupi semuanya dari kamu karena tidak ingin kamu khawatir, Fa."
__ADS_1
" Lalu kenapa Mas David malah tidak ingin di operasi jika tahu kondisinya akan semakin memburuk?," selidik Syifa.
" Dia khawatir kalau operasinya gagal. Karena itu dia memilih lebih baik menikmati waktu yang ia miliki denganmu daripada menghabiskannya di ruang operasi,"
Syifa terdiam. Tak habis pikir kenapa suaminya itu selalu menyembunyikan hal penting seperti ini. Bahkan lebih memilih menyimpannya untuk dirinya sendiri.
" Fa, tolong bujuk David. Ucapanku tak pernah ia dengarkan," Rangga terdengar putus asa. Syifa adalah harapan terakhirnya.
Syifa yang juga ingin kehilangan suaminya tentu saja akan melakukan apapun. Hingga akhirnya ia dan Rangga membuat rencana ini.
Makan siang di kantor. Karena saat itu biasanya rasa sakit itu mulai semakin sering David rasakan. Mungkin efek karena otaknya di paksa berkerja keras dengan pekerjaan yang tak pernah ada habisnya.
Flashback end
Lelah menangis, Syifa akhirnya tertidur dengan posisi duduk. Tangannya tetap menggenggam tangan David.
Deg
Perasaan David tak menentu. Ia yakin bahwa istrinya sudah mengetahui apa yang terjadi padanya.
Merasakan ada pergerakan, Syifa terbangun dari tidurnya.
" Maaf membangunkan mu, Ay," lirih David pelan. Ia masih lemas.
" Mas sudah bangun. Apa ada yang sakit?," Syifa segera berdiri menyelidiki kondisi suaminya.
" Mas baik-baik saja, Ay." David tak ingin Syifa semakin khawatir.
__ADS_1
Syifa akhirnya percaya saat ia tak menemukan tanda suaminya kesakitan.
" Sebentar," Syifa menekan tombol untuk memanggil Dokter.
Tidak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan David.
" Bagaimana, Dok?," tanya Syifa cemas.
" Kita harus melakukan operasi secepatnya. Ini tidak bisa di tunda lagi." jawab Dokter serius.
" Ya, saya setuju, Dok," ucap Syifa tanpa menanyakan persetujuan suaminya yang pastinya akan menolak.
" Ay...."
" Tolong ikuti saja saran dokter, Mas." Syifa meng iba.
David diam sampai akhirnya mereka hanya berdua di sana setelah kepergian dokter dan perawat.
" Tolong jangan beritahu Mama dan Papa," pinta David setelah keduanya hanya diam
" Maaf. Mama dan Papa sudah dalam perjalanan kesini, Mas,"
Ceklek
" David, kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari kami?," Flower menghampiri anaknya yang terlihat tak berdaya
" Apa kamu ingin kami hidup dalam penyesalan?," tanya sang ayah.
__ADS_1
TBC