PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
FLY TO MASSACHUSETTS


__ADS_3

Ana memandang jauh keluar jendela pesawat yang akan membawanya ke belahan benua lainnya.


Penerbangan menuju kota Massachusetts, Boston bisa lebih dari delapan jam. Cukup panjang dan melelahkan bagi orang yang tidak pernah bepergian jauh seperti Ana.


Katty yang mengetahui adiknya tidak pernah bepergian jauh sendirian, membeli tiket bisnis. Sebenarnya Ana sudah menolak nya. Baginya yang masih muda justru lebih menyukai kelas ekonomi yang ramai penumpang. Duduknya pun berdekatan tidak seperti kursi bisnis yang kursi nya sendiri-sendiri dan terdapat sekat pembatas antar penumpang satu dan lainnya


Sudah tiga puluh menit lebih para penumpang memasuki pesawat namun belum ada tanda-tanda keberangkatan. Sebagian penumpang sudah mengeluh atas keterlambatan penerbangan mereka.


Sudah dua kali pramugari menyampaikan permintaan maaf atas keterlambatan penerbangan karena masih menunggu dua orang penumpang first class yang belum menaiki pesawat saat ini. Begitu juga seorang penumpang bisnis class yang masih belum masuk pesawat.


Anabelle melihat semua kursi di bisnis class sudah terisi penuh, hanya kursi disampingnya saja yang masih kosong. "Orang yang tidak bertanggung-jawab dan merugikan orang lain", gerutu Ana menatap kursi di sebelah nya.


Ana kembali mengalihkan perhatiannya keluar jendela. Gadis itu menaikkan sekat pembatas dengan kursi disampingnya. Kemudian ia mengeluarkan buku sketsa dan peralatan tulis milik nya. Ana mengalihkan rasa jenuh nya dengan menggambar dan mendengarkan musik dari earphone miliknya. Benar saja dalam sekejap pikiran gadis itu teralihkan pada aktivitas nya, bahkan ia tidak menyadari ketika pramugari mengantar seorang laki-laki duduk di kursi sampingnya.


Beberapa saat pesawat pun mulai bergerak. Ana masih fokus dengan pekerjaannya.


Bahkan himbauan awak cabin pun tidak di perduli kan gadis itu ketika pesawat hendak tinggal landas.


Beberapa menit kemudian, pesawat sudah terbang di ketinggian. Terlihat awak cabin menawarkan minuman dan cemilan pada seluruh penumpang.


Anabelle masih asyik dengan membuat sketsa sebuah ruangan minimalis berukuran kecil. Dalam waktu singkat dan alat-alat seadanya ia mampu menggambar sketsa ruangan beserta furniture yang ada di pikirannya saat ini.


"Maaf nona, mau minum apa?"


Anabelle menatap sekilas awak cabin cantik, yang menyapa satu-persatu penumpang di sana dengan ramah.

__ADS_1


"Orange jus dan cookies gandum saja", jawab Anabelle tersenyum tipis.


"Berikan juga aku minuman dan cemilan seperti nona itu!"


Anabelle yang sedang melipat buku sketsa dan hendak memasukkan nya kembali ke dalam tas ransel memilik nya,terperanjat mendengar suara itu. Kedua matanya melebar. Ana menggelengkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. Sedikit pun Anabelle tidak ingin memastikan yang ada di pikirannya saat ini.


"Tidak mungkin tuan Flamini Cazandro", batinnya. "Imajinasi ku berlebihan sekali", gumam Ana lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


"Not bad, ternyata pilihan yang tepat..."


Ana mendengar dengan jelas suara dan ucapan itu. Cepat-cepat Ana menurunkan sekat pembatas.


"T-uan Cazandro??"


"Bagaimana bisa tuan berada di pesawat ini?", tanya Anabelle absurd dengan tatapan penuh selidik.


"Kau lupa pesawat ini, pesawat komersil? Semua orang bisa menaikinya", jawab Flamini menatap Ana dari balik kacamata hitamnya sambil menahan tawa.


"T-api..."


"Ternyata kau adik Katty, Anabelle Patricia. Sempit sekali dunia ini", ucap Flamini kembali menyesap minumannya.


"Apa kau mengenal kakak ku?"


Tiba-tiba Flamini berdiri dari kursinya. "Ikut aku sekarang. Aku akan menjelaskan semuanya pada mu, Ana!".

__ADS_1


Flamini menarik paksa tangan Anabelle agar berdiri dari kursinya. Mau tidak mau Ana mengikuti Flamini yang mengajak nya menaiki tangga menuju Upper deck.


"Kau mau apa? Lepaskan aku!", ketus Anabelle dengan suara terdengar tertahan. Ia sadar mereka sedang di dalam pesawat sekarang, tentu saja tidak mau mengganggu penumpang lainnya. Beruntung penumpang di bisnis class tersebut sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak memperhatikan Ana dan Flamini.


*


"Selamat datang di penerbangan first class tuan Flamini Cazandro, nona Anabelle Patricia", sapa awak cabin yang bertugas tersenyum ramah.


Anabelle merasa aneh, mendengar awak cabin menyebut namanya dengan jelas. Namun Ana memaksakan diri untuk tersenyum padanya.


"Di sisa waktu penerbangan kita akan berada di sini", ucap Flamini.


Anabelle menatap ruangan mewah tersebut. Yang terlihat seperti private room. Sekarang di ruangan itu hanya mereka berdua saja. Tidak ada orang lain.


"Huhh...tentu saja tidak. Aku akan kembali ke tempat duduk ku di bawah", seru Anabelle membalikkan badannya hendak membuka pintu.


"Ana...dengarkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya pada mu. Hubungan ku dengan Katty dan Steven. Juga tentang perasaanku pada mu..!"


Anabelle menghentikan langkah kakinya. Gadis itu diam tak bergeming di tempatnya dengan tubuh bergidik tak karuan.


"Apa kau mengenal kak Steven juga..?"


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2