PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
REKONSILIASI


__ADS_3

Malam kian larut, Samuel belum bisa memejamkan matanya barang sejenak saja. Laki-laki itu sedari tadi tak henti memandangi wajah cantik istrinya yang tertidur di sampingnya.


Punggung tangan Samuel mengusap lembut wajah Calista yang terlelap.


"S-ammy maafkan aku..."


Terdengar suara lirih dari bibir Calista. Kedua matanya terpejam rapat, hanya bibirnya saja yang berucap lirih. Keningnya pun terlihat berkerut menandakan perasaannya tidak tenang. Calista mengigau dibawah alam sadarnya, dengan menyebut nama suaminya.


Samuel mengusap lembut punggung istrinya. Menenangkan nya. Kemudian mengecup lembut bibir istrinya yang terasa dingin. "Tenanglah sayang aku ada bersama mu sekarang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan anak ku Cali, kita akan terus bersama", ucap Samuel mendekap erat tubuh Calista.


*


Calista mengerjapkan kelopak matanya perlahan. Terdengar kicau burung dari luar kamar nya yang berada di lantai dua rumah ayahnya di kota Interlaken, Swiss.


Pagi ini Calista merasakan tubuhnya terasa begitu baik dan segar tidak seperti kemarin-kemarin.


Calista menyandarkan punggungnya pada ujung tempat tidur sambil mengusap lembut perutnya. "Selamat pagi sayang", ucap Calista.


Ceklek..


"Kau sudah bangun, sayang?"


Calista mengalihkan perhatiannya pada sosok tampan yang sangat di rindukannya membawa nampan berisi makanan dan minuman kedalam kamarnya. Rasanya seperti mimpi Samuel berada di dekatnya saat ini.


Samuel menaruh nampan yang ada di tangannya ke atas nakas.


"Bagaimana keadaan mu dan anak kita, hem?", tanya Samuel begitu lembut di telinga Calista.


Calista bersusah payah menelan salivanya sendiri. Semalam ia sangat syok melihat Samuel datang dalam gelap. Tidak banyak yang mereka bicarakan semalam. Hanya permintaan maaf yang di sampaikan keduanya. Hingga ia terlelap di sofa, dan terbangun di kamarnya.

__ADS_1


Calista menundukkan kepalanya, ada rasa canggung melingkupi hatinya saat ini. "A-ku baik-baik saja. Anak ku juga baik", jawab Calista pelan tanpa menatap Samuel.


"Anak kita!"


Jemari Samuel mengangkat dagu istrinya itu. "Anak kita. Kita akan selamanya bersama, Cali".


Calista menatap Samuel yang hanya beberapa jengkal saja darinya. "Tapi kau tidak akan pernah bisa melupakan Amber jika kita bersama, Sam. Amber akan selalu ada di antara kita. Aku tidak bisa hidup dengan orang yang tidak mencintai ku dan membanding-bandingkan diri ku dengan wanita masa lalunya", ucap Calista pelan.


"Kau salah, Cali. Aku sudah bisa menerima kenyataan masa lalu ku. Kepergian mu beberapa waktu telah menyadarkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu, sayang".


Calista menatap Samuel dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku telah menyakiti mu. Bahkan aku tidak menyadari kau sedang sakit saat itu. Emosi menguasai diriku. Siang sebelum aku menemui mu, Nathan datang ke ruangan ku dan memberi tahu bahwa kau hanya mencintai dirinya. Ia juga mengatakan kau telah memanfaatkan kebodohan ku, kau menikah dengan ku karena menutupi cerita yang sebenarnya atas kejadian tabrakan beruntun yang menyebabkan Amber meninggal".


"Saat aku tiba di mansion mu, aku terkejut mendengar Amber lah yang telah mendonorkan jantungnya untuk mu. Aku sangat marah pada mu, entah karena apa. Yang pasti hatiku sangat panas mendengar perkataan Nathan, bahwa kau menikah dengan ku karena ingin menebus kesalahan mu, bukan karena menginginkan ku".


"Keesokan harinya, Gema memberi tahu ku, bahwa kau sedang sakit dan kemungkinan hamil. Aku memutuskan menemui mu di mansion mu. Tapi semuanya sudah terlambat. Kau hilang bak di telan bumi".


"Ketika kau pergi, aku sangat merindukanmu, Cali. Bahkan tak sekalipun aku pergi kekantor ku, aku hanya menghabiskan waktu ku dengan melukis wajah mu. Aku sangat frustasi tidak bisa menemukan mu", ucap Samuel menatap istrinya dengan perasaan mendalam.


Ucapan Samuel benar-benar mempengaruhi Calista, ia menggenggam erat jemari tangan suaminya dan membawa kewajahnya.Kemudian Calista membawa tangan itu ke dadanya. "Aku memutuskan pergi begitu mengetahui hasil testpack. Aku takut. Aku takut kau akan meminta ku melenyapkan anak ku".


"Melihat kemarahan dan kebencian mu pada ku, aku sangat ketakutan memikirkan tentang nasib anak ku", lirih Calista. "Jika kau menuntut perpisahan dengan ku, hanya anak ini yang aku miliki dari mu, Sam. Hanya anak ini yang aku miliki dari mu, laki-laki yang sangat aku cintai sepenuh hatiku", ucap Calista mengungkapkan perasaannya secara mendalam sambil mengusap perutnya dengan tetesan air mata.


Samuel menarik tengkuk Calista. Ia me*umat bibir ranum istrinya yang sangat dirindukannya. "Jangan pernah pergi lagi dari ku, sayang. Kau pergi, telah menyadarkan aku, betapa aku sangat mencintaimu. Kita akan sama-sama membesarkan anak kita, Cali. Aku tidak akan sanggup jika kehilangan mu lagi, Cali", ucap Samuel kembali me*umat bibir Calista.


Calista membuka mulutnya dan membalas ciuman itu dengan penuh perasaan. "Aku sangat merindukanmu, Sammy. Kau tidak tahu, begitu tersiksanya hatiku jauh dari mu, sayang".


Keduanya berciuman mesra, menyalurkan kerinduan yang membendung selama ini.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Calista menghentikan ciumannya dan menatap kedua netra suaminya.


"Kau tahu dari mana aku tinggal di sini, dan bagaimana kau masuk ke rumah ini semalam?"


"Aku pastikan, aku tidak melakukan pelanggaran hukum karena aku sudah mendapatkan izin pemilik rumah ini untuk masuk kedalam rumah nya".


Calista melebarkan kedua matanya, menatap penuh selidik. "Maksud mu papa mengizinkan mu?"


"Siapa lagi. Aku dan papamu bertemu di London, dan papa sudah menceritakan semuanya pada ku. Ia juga yang mengatur semuanya, agar aku datang saat mereka pergi ke ladang lavender", ujar Samuel dengan santainya.


"Uhh...ternyata semua orang mengkhianati ku dan bekerjasama dengan mu. Jangan katakan Katty juga terlibat", selidik Calista menyipitkan matanya menatap penuh selidik suaminya.


"Tentu saja. Asisten mu lah yang memberi tahu ku, sebaiknya jam berapa aku datang. Seakan alam merestui ide itu, lampu pun padam", ucap Samuel mengusap tengkuknya.


"Jangan katakan kau juga yang melakukan pemadaman listrik semalam?"


"Apa yang tidak bisa suamimu lakukan, hem", balas Samuel sambil mengangkat tubuh istrinya kepangkuan nya.


"Berhubung kita sudah berada di kota indah ini, kita pergunakan saja untuk berbulan madu lagi. Aku yakin anak kita tidak akan keberatan. "Tapi sebelumnya aku ingin melihat anak ku dulu, aku akan mengantarmu kontrol kandungan mu. Maafkan aku sudah melewatkan beberapa waktu tidak bersama mu merawat kehamilan mu, sayang. Sekarang aku tidak akan melewatkan nya lagi", ucap Samuel.


Calista tersenyum mendengar perkataan suaminya. "Usia kandungan ku sudah memasuki empat bulan. Aku beruntung karena anak mu tidak menyulitkan mommy nya. Aku merasakan tidak enak badan hanya saat pagi hari, hari yang sama kau tahu semuanya", ucap Calista melingkarkan tangannya pada leher suaminya.


"Sekarang aku sangat lapar Sam. Selama hamil, aku tidak memiliki na*su makan. Tidak tahu kenapa, ada kau di dekat ku membuatku lapar".


Samuel tersenyum mendengarnya. Laki-laki itu mengangkat tubuh istrinya dan mengambil nampan berisi makanan di atas nakas. "Sekarang makanlah. Setelah itu giliran aku yang akan melahap mu...!"


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2