PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
GADIS ITU ANABELLE


__ADS_3

"Akh ahh... Steve"


"Tahan sebentar lagi sayang".


Steven tahu istrinya sudah mendapatkan pelepasan ke-dua kalinya. Katty menatap Steven yang berada di atas tubuhnya dengan tatapan sayu sambil menggigit bibir bawahnya.


Steven semakin menghentakkan miliknya hingga ke dalam inti Katty. Melihat wajah istrinya begitu pasrah di bawah kungkungan tubuh nya membuat adrenalin Steven berpacu dengan detak jantung yang kian cepat.


Steven tidak kuat melihat wajah istrinya begitu seksi seakan mengundang nya untuk lebih dekat padanya.


"Jangan pernah memberikan tatapan seperti itu pada laki-laki mana pun. Aku tidak akan membiarkannya, sayang. Aku akan menghukum mu", ujar Steven dengan suara berat kembali me*umat bibir Katty dan mencubit puncak gundukan kenyal milik istrinya.


Tubuh Katty kembali mengelijang sembari mengeluarkan lengguhan tertahan. "Ákh..."


Hingga pusat tubuh Katty kembali berkedut kedut menghisap kuat milik Steven yang bersamaan menyemburkan cairan hangat memenuhi inti istrinya.


"Ohh sayang. Kau sangat nikmat, aku tidak akan pernah bosan bercinta dengan mu sayang".


Steven menekan miliknya dan menahannya masih berada di inti istrinya. Tubuh keduanya lunglai setelah bertempur semalaman.


Steven merebahkan tubuhnya dan menarik istrinya kedalam pelukannya. Mengecup lembut pucuk kepala Katty. Mengusap dengan sayang punggung halus Katty.


Sementara Katty merasa begitu tentram berada pelukan hangat suaminya.


Steven dan Katty baru saja memejamkan mata, ketika handphone milik Steven bergetar, menandakan ada panggilan telepon masuk.


Katty terjaga. "Sayang handphone mu berbunyi. Mungkin penting, angkat lah", ucap Katty mendongakkan wajahnya menatap Steven yang masih memejamkan matanya. Katty tahu Steven pasti belum tidur.


"Sayang...kau jangan pura-pura tidur". Katty hendak menggoda suaminya dengan mencubit pinggangnya dan menggelitik perut Steven.

__ADS_1


Namun Steven tidak menunjukkan reaksi apapun, membuat Katty semakin ingin menggoda di sela getaran handphone milik Steven yang terus-menerus berbunyi di atas nakas.


"Huhh, aku tahu kau pura-pura tidur sayang". Katty mencium bibir suaminya. Untuk kali ini Steven tidak akan mendiamkan nya. Laki-laki itu langsung merespon nya dengan mengangkat tubuh Katty yang masih polos ke atas tubuhnya.


"Kau harus tahu akibat perbuatan mu itu, nyonya Steven Morgan. Kau harus menerima hukuman".


Drt


Drt


Handphone milik Steven kembali bergetar.


"Shitt..siapa yang menganggu di malam pernikahan ku!"


"Angkat lah sayang mungkin itu penting. Bisa jadi dari rumah sakit kan", ucap Katty sambil melirik jam di handphone miliknya yang ada di nakas menunjukkan pukul dua malam.


Steven menatap nama Flamini di layar handphone miliknya dan menggeser tombol hijau.


"Ada apa kau menelpon ku dimalam pernikahan ku seperti ini Flamini. Kau ini tidak punya attitude sekali sampai menggangu privacy orang seperti ini!"


Terdengar tarikan nafas Flamini di ujung telepon. "Maaf kan aku Steve, tapi aku tidak tahu lagi harus bicara pada siapa. Aku tidak sabar menunggu hari esok. Terlalu lama".


"Aku melihat Anabelle di pernikahan kalian tadi. Gadis itu menyulut emosi ku.."


Steven memindahkan tubuh istrinya ke sampingnya. Steven menyandarkan punggung pada ujung tempat tidur. "Anabelle?", jawab Steven mengulangi ucapan Flamini yang didengarnya tadi untuk meyakinkan nya.


"Iya. Anabelle gadis yang aku sukai itu. Tadi ada di pernikahan kau dan Katty. Apa kalian berdua mengenal Anabelle Patricia, Steve? Ternyata gadis itu sama saja seperti wanita murahan di luar sana. Sekarang aku tidak akan terkecoh lagi dengan wajah polosnya itu. Aku menyaksikan sendiri bagaimana ia tertawa manja dan bahagia ketika berdansa dengan laki-laki tua itu. Aku melihatnya sendiri Anabelle memeluk mesra laki-laki itu. Gadis itu ternyata lebih buruk dari yang lainnya.."


Terdengar cegukan Flamini.

__ADS_1


"Flamini kau mabuk? Sekarang istirahat lah. Besok kita bicara lagi. Ingat tekanan darah mu akhir-akhir ini sering melonjak", ujar Steven mengingat kan temannya dan memutus panggilan telpon tersebut. Steven tidak akan bicara pada temannya itu jika ia sedang mabuk begitu.


"Ada apa sayang. Kenapa kau menyebut nama adikku pada flamini?"


"Besok saja aku menjelaskan pada mu, sekarang kita tidur sudah malam. Kau pasti lelah, beberapa hari menjelang pernikahan kau masih sibuk mempersiapkan semuanya", ujar Steven kembali memeluk tubuh Katty.


"Iya. Sekarang aku benar-benar mengantuk, kau membuat ku kelelahan", jawabnya pelan.


Steven mengecup kening Katty dengan perasaan mendalam.


*


"Tuan Flamini, apa yang di katakan tuan Steven itu benar. Sebaiknya anda berhenti minum. Tidak baik untuk mu tuan", ujar Sean yang menemani bos-nya itu minum di ruang kerja di perusahaan nya Chupón Engineering.


Setelah kejadian di toilet tadi Flamini pergi meninggalkan pesta pernikahan Steven dan Katty. Bahkan ia belum sempat memberi ucapan selamat pada keduanya.


"Berikan aku segelas lagi, Sean. Setelah itu kau pulanglah!"


"Tidak tuan. Maafkan saya kali ini tidak akan mengikuti perintah anda. Sebaiknya saya antar tuan ke kamar dan beristirahat. Karena besok pagi bukankah tuan akan bicara dengan tuan Steven mengenai nona Anabelle".


Flamini mengangkat wajahnya mendengar nama Anabelle. "Benarkah?"


"Iya tuan. Anda harus terlihat baik, siapa tahu besok anda bisa menemukan nona Ana".


"Uh...ternyata kau yang terbaik Sean. Kau benar sekali. Sekarang aku mau istirahat", jawab Flamini yang terlihat kacau. Masih dengan tuxedo lengkap namun kemejanya sudah keluar dari celana panjangnya.


Di bantu Sean, laki-laki itu berjalan sempoyongan menuju kamar yang sudah sering di tiduri nya seorang diri sambil merenung dan memikirkan Anabelle.


...***...

__ADS_1


__ADS_2