
"Bibi membuat Meatloaf kesukaan ku?", ujar Flamini mengambil sepotong Meatloaf kesukaannya.
"Dibantu nona Ana juga", jawab Loni tersenyum menatap Flamini yang langsung menikmati makanan kesukaannya itu.
"Oh ya? memangnya kau bisa masak?", tanya Flamini menolehkan wajahnya pada Ana yang duduk di sampingnya. Saat ini keduanya sedang menikmati makan pagi bersama di ruang makan.
"Kakak meragukan kemampuan memasak ku?", balas Anabelle cepat. "Aku akui aku tidak pandai memasak menu Amerika food, tapi aku bisa membuat makanan ala Inggris", jawab Ana dengan yakin.
"Aku tidak yakin jika belum mencoba masakan mu itu. Sangat meragukan", balas Flamini meledek Anabelle.
"Huhh...Nanti aku akan membuatnya untuk mu. Pasti kau akan ketagihan dan memintanya lagi", jawab Ana sambil menyuapkan makanan kemulutnya.
"Buktikan saja ketika kita di perkebunan. Aku tidak sabar mencobanya. Sekarang kau bersiap lah, kita akan ke perkebunan apel. Kita akan menghabiskan weekend di sana".
Ana menatap Flamini. "Kakak akan mengajak ku jalan-jalan ke perkebunan? Sekarang?"
"Iya. Mumpung weekend. Selama di sini kau belum pernah keluar jalan-jalan kan? Kita akan ke kota Phillipston Massachusetts Tengah Bagian Utara. Bawa pakaian casual dan pakaian dingin, karena udara malam hari di sana sangat dingin".
"Tapi aku sudah berjanji dengan Wilson temanku akan menonton film malam ini. Bersama teman ku yang lainnya juga".
Flamini menatap tajam Anabelle. "Batalkan saja! Pergi bersama ku jauh lebih penting".
"T-api sudah dua kali aku membatalkan janji dengan teman-teman ku, aku tidak enak jika harus membatalkannya lagi".
__ADS_1
"Pokoknya aku ingin kau bersamaku Anabelle. Aku baru pulang. Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu!", tegas Flamini beranjak dari kursinya sambil mengecup puncak kepala Anabelle.
"Uhh kakak pemaksa sekali. Hm...bagaimana kalau kita ke perkebunan besok saja. Kita bisa pergi sore ini setelah aku pulang", bujuk Anabelle sambil berdiri dan memeluk pinggang Flamini.
"Tidak ada bantahan. Kita pergi satu jam lagi, kau dengar itu, hem", tegas Flamini sambil mencubit ujung hidung Anabelle. "Aku akan keruang kerja. Aku tidak mau kita terlambat, sekarang bersiaplah".
Flamini membalikkan tubuhnya menaiki tangga tanpa memperdulikan Ana yang menatap punggungnya dengan kesal.
"Aku tidak mau pergi kalau kakak memaksa ku. Aku memilih pergi bersama teman-teman ku saja!"
Flamini tidak menggubris ucapan Anabelle yang mengikuti nya di belakang. Flamini masuk keruang kerja, begitu juga Anabelle.
"Aku janji sekali ini saja pergi dengan teman-teman ku. Aku hanya ikut menonton saja setelah itu langsung pulang".
Flamini tidak menggubris kata-kata Anabelle. Ia sibuk dengan MacBook di hadapannya.
"Indah sekali.."
Anabelle takjub melihat pemandangan yang ada layar MacBook milik Flamini. Bahkan tanpa izin ia melihat beberapa gambar lainnya. "Apa perkebunan ini yang akan kita kunjungi?", tanya Ana tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar MacBook.
"Iya".
Kedua netra Anabelle membaca plang nama di pintu masuk perkebunan. "AVA Farm?"
__ADS_1
Anabelle yang berdiri di samping meja kerja menatap Flamini yang duduk di kursi kerjanya. "Ava, mama mu? Apa perkebunan ini milik mu, kak?", tanya Anabelle menatap lekat wajah Flamini.
"Hem. Apa kau menyukainya?". Flamini balik bertanya. Ia menarik lengan Ana agar duduk kepangkuan nya.
Anabelle menganggukkan kepalanya. "Perkebunan apel milik mu sangat indah sekali".
"Di sana ada juga peternakan kuda. Apa kau bisa menunggangi kuda?".
"Aku tidak bisa. Dulu aku pernah di ajak papa menunggang kuda, tapi aku terjatuh. Kuda yang aku naiki dulu sangat jahat sekali pada ku, ia lari kencang sekali menyebabkan aku terjatuh. Akibatnya tulang lutut ku bergeser. Sejak saat itu aku tidak berani lagi menunggang kuda", ujar Ana mengingat pengalaman buruknya menunggang kuda.
Flamini tertawa mendengar penuturan Ana. "Nanti aku akan mengajari mu menunggang kuda. Kau aman bersama ku".
"Benarkah? Kakak tidak akan membiarkan kami berdua saja kan? Aku tidak mau naik kuda kalau hanya kami berdua. Kuda itu jahat", cicit Anabelle melebarkan kedua matanya.
"Kuda hewan jinak, Ana. Ia tidak akan menyakiti mu. Kuda yang kau naiki tu mungkin marah karena kau menggigit nya", goda Flami di telinga Anabelle.
Anabelle memukul lengan Flamini yang melingkar diperutnya dan menyandarkan dagunya pada bahu Ana.
"Huhh jangan meledek ku..aku tidak seperti itu. Kudanya saja yang terlalu sensitif membawa gadis cantik seperti aku", seloroh Anabelle.
"Hem...bisa jadi. Sekarang bersiaplah. Selagi menunggu mu, aku akan membereskan pekerjaan ku".
"Iya tuan pemaksa", ketus Anabelle beranjak dari pangkuan Flamini dan langsung keluar ruang kerja.
__ADS_1
Flamini tersenyum melihat tinggi gadis itu. Selalu saja membuat nya tertawa.
...***...