
Tubuh Calista bergidik ketakutan. Kedua matanya melotot. Ia tidak bisa melihat apapun dalam gelap.
Tapi...
Harum itu...
Calista menggelengkan kepalanya dalam gelap. "Aku berhalusinasi.."
Namun tubuh Calista semakin gemetaran saat jemari-jemari tangannya di genggaman dengan erat oleh sepasang tangan kokoh.
"Kau tidak berhalusinasi, Cali".
Suara bariton yang sangat di kenali Calista, berada sangat di dekatnya. Untuk sesaat pikiran Calista blank.
Tepat saat lampu kembali menyala. Seakan memberikan jawaban pasti.
Kedua netra hitam milik Calista menatap sosok laki-laki yang sangat dirindukannya sekaligus ingin dihindarinya.
"K-au... Sammy?!"
__ADS_1
Cepat-cepat Calista menarik tangannya. Dan melangkah mundur hingga bagian belakang tubuhnya menyentuh meja.
Kedua mata Calista berkaca-kaca. Mata itu menyiratkan sorot ketakutan dan memohon.
Calista menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan tatapannya pada Samuel yang menatapnya dengan lekat.
"M-aafkan aku... aku tidak tahu caranya mengembalikan jantung Amber kepada mu. A-ku juga tidak bisa melenyapkan anak ku. Kau jangan kuatir, aku tidak akan menampakkan diri kami di hadapan mu lagi. A-ku janji tidak akan kembali lagi ke London untuk menjumpai mu. A-ku janji setelah anak ku lahir akan menyerahkan diriku ke polisi dan mengakui semua kesalahanku. Biarkan anakku lahir ke dunia ini, ia tidak bersalah. A-ku jan...
Calista tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika mulut nya di penuhi mulut Samuel. Bibir Calista terasa begitu dingin dan bergetar. Tubuhnya begitu lemah. Seandainya saja tangan Samuel tidak memegangi nya sudah dipastikan Calista akan terduduk di lantai.
Samuel melepaskan tautan bibirnya pada bibir Calista. Kedua matanya memancarkan rindu terpendam yang teramat sangat. Kedua jemari tangannya mengusap lembut wajah istrinya dan menghapus air mata yang terus-menerus membasahi wajah cantik Calista yang terlihat sangat pucat. Bahkan Samuel bisa merasakan tubuh istrinya sangat gemetaran.
Seperti mendapatkan siraman air deras untuk lahan yang tandus, ketika mendengar ucapan Samuel. Calista menangis haru.
Seakan tidak percaya apa yang didengarnya. Calista masih sangsi. "A-ku takut..."
Calista tersedu-sedu.
"Maafkan aku, karena kecerobohan ku menyebabkan kau kehilangan wanita yang sangat kau cintai. Aku benar-benar tidak tahu jantung ini milik Amber", ucap Calista terisak dalam dekapan Samuel. Bahkan Calista tidak berani memeluk tubuh Samuel. Calista hanya terdiam terpaku, meskipun Samuel mendekapnya erat.
__ADS_1
Air mata Calista membasahi pakaian Samuel, terasa hangat di dada Samuel. Samuel merasakan tubuh istrinya begitu dingin.
Samuel melepaskan pelukannya dan menatap istrinya yang terlihat begitu pucat. "Sayang...apa kau tidak apa-apa?"
Samuel meraba wajah Calista yang begitu pucat. Calista menatap Samuel dengan tatapan sendu. Tanpa pikir panjang Samuel mengangkat tubuh istrinya. Dan merebahkan tubuh itu di sofa.
"Tenangkan dirimu. Jangan berpikiran macam-macam, sekarang aku ada bersamamu", ucap Samuel mengusap lembut wajah istrinya dengan penuh perasaan.
Samuel ke mencari pantry. Ia membuat teh manis hangat untuk Calista.
Samuel membantu Calista duduk dan meminum teh manis buatan nya. "Minumlah tenangkan diri mu", ucap Samuel sambil mengecup wajah Calista yang kembali rebahan.
Jemari Samuel juga mengusap lembut perut Calista dengan penuh damba. Ia mengecup perut Calista. "Sekarang daddy ada di dekat mu, kau harus sehat dan kuat di dalam sana. Daddy menyayangi mu, nak. Maafkan daddy sudah membuat mu dan mommy mu bersedih. Daddy janji akan memperbaiki semuanya", ucap Samuel pelan.
Perkataan Samuel kembali membuat buliran-buliran bening menyentuh wajah Calista. Perasaannya menghangat. Perlahan jemari tangannya mengusap lembut rambut Samuel.
...***...
To be continue
__ADS_1