
Waktu terus bergulir. Hari berganti hari.
Dua minggu kemudian..
Samuel baru saja selesai meeting di lantai empat puluh lima perusahaan nya.
"Owen, setelah ini apalagi jadwal ku?"
Owen membuka Ipad-nya. Membacakan apa saja jadwal Samuel . "Hari ini jadwal tuan tidak terlalu urgent. Tuan bisa pulang lebih cepat", ucap Owen.
Owen sangat tahu keinginan Samuel, tak lain secepatnya pulang ke rumah untuk menemani istrinya Calista.
"Atur semuanya! jika tidak penting sebaiknya aku pulang saja dan kau yang menggantikan aku rapat sore nanti".
Ting..
"Baik tuan", jawab Owen sambil mengikuti langkah Samuel menuju ruangan nya.
"Maaf tuan Samuel, teman anda tuan Flamini Cazandro ada di ruangan anda", ujar sekertaris Samuel..
"Hem", jawab Samuel singkat.
__ADS_1
"Bawakan coklat hangat dan kopi pahit keruangan ku sekarang", perintah Samuel.
"Baik tuan".
"Owen, kau lanjutkan saja pekerjaan mu aku akan berbincang-berbincang dengan teman ku".
"Baik tuan". Kalau begitu saya permisi.
Samuel membuka handle pintu ruang kerjanya. Flamini sedang menerima panggilan telepon nya. Ketika melihat Samuel sesaat kemudian ia menutup panggilan telepon itu dan menaruh handphone miliknya ke atas meja.
"Kenapa lama sekali kau meeting, apa sangat penting?"
"Kalau aku yang hadir di meeting itu artinya penting dan tidak bisa di wakilkan. Jika tidak penting lebih baik aku pulang dan bertemu istriku", jawab Samuel. Kau sendiri kenapa kekantor ku? Seperti tidak ada pekerjaan saja setiap hari kau kemari", ketus Samuel sambil sambil meneguk air mineral yang ada di atas meja.
Flamini menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Samuel menatap temannya yang terlihat sedang ada masalah itu.
"Ada apa dengan mu Flamini? Dari kemarin kau nampak uring-uringan, teman".
Flamini membuang nafasnya dengan kasar. "Sam...bagaimana rasanya jatuh cinta? Aku sudah lupa rasanya".
Tentu saja pertanyaan Flamini membuat Samuel merasa aneh. Tapi memang dari kemarin temannya itu seperti menyimpan sesuatu, ia banyak melamun saat bertemu dengannya dan Steven.
__ADS_1
Samuel menatap wajah Flamini. Terlihat berbeda dari biasanya. Karena Flamini yang ia kenal sangat cuek dan tidak perduli akan perasaan romance apalagi perasaan mendalam.
"Apa kau sedang jatuh cinta Flami?"
"Aku tidak tahu. Tapi wajah gadis itu selalu ada dalam pikiran ku". Flamini mengusap wajahnya dengan kasar.
Samuel menatap temannya itu yang terlihat kacau. Tersiksa dengan perasaan nya sendiri. "Kau ini bagaimana, dengan perasaan mu sendiri saja kau tidak paham", ketus Samuel.
"Aku bertemu gadis itu beberapa bulan yang lalu, Sam. Gadis itu menabrak ku di rumah sakit Steven. Hari yang sama kau dan Steve pergi ke kota Leeds. Ketika itu, akibat ia menabrak ku handphone milik ku rusak dan gadis itu tertinggal buku sketsa milik nya pada ku", ujar Flamini mengingat pertemuan nya dengan Anabelle kala itu.
Samuel menyimak cerita Flamini sambil menikmati cemilan yang sudah tersaji.
"Tapi, kemarin aku nampak bodoh sekali. Gadis itu ternyata desain interior yang akan bekerja dengan ku di perusahaan. Kemarin pagi ia melihat ku dengan Nancy setelah semalaman wanita itu menemani ku. Gilanya lagi, pagi itu aku dan Nancy kembali bercinta. Anabelle melihat Nancy di private room ruangan ku", ujar Flamini nampak kesal dan frustasi.
Samuel menggelengkan kepalanya. "Flami...Flami. Kenapa kau masih saja berhubungan dengan wanita itu jika kau tidak mencintai nya. Sekarang kau kena batunya, tanggung akibatnya, kau di pergoki wanita yang kau sukai. Wanita bernama Anabelle itu pasti memberikan penilaian negatif tentang mu teman".
Terlihat Flamini mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau benar sekali Sam. Itulah yang ada dalam benakku. Memang aku tidak beruntung dalam urusan percintaan. Dari dulu hingga kini, itulah kenapa aku tidak mau berkomitmen. Sejak pengkhianatan Samantha yang meninggalkan aku di hari pernikahan kami membuat perasaan ini mati. Tapi aku tidak menyangka kembali merasakan debaran jantungku saat bertemu Anabelle. Manik bening matanya, wajah polosnya dan bicaranya yang terbuka membuat ku menyukainya. Gadis itu sederhana tidak berlebihan dan ia gadis baik-baik. Saat bersama ku ia tidak menyodorkan dirinya seperti wanita yang sering aku temui walau baru ketemu rata-rata wanita yang bertemu dengan ku langsung menyodorkan tubuh nya pada ku", ujar Flamini membayangkan wajah polos Anabelle. Flamini menyandarkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya.
Samuel kaget mendengar curahan hati temannya itu. "Kau memiliki perasaan sedalam itu Flami? Sudah lama aku tidak pernah melihat mu menceritakan isi hati mu pada ku dan Steven. Kau benar-benar jatuh cinta, teman".
"Yah. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Anabelle pasti menolak ku. Aku sudah berusaha menghapus perasaan ini sekuat tenaga ku, bahkan sudah seminggu aku menahan diriku tidak menemuinya di perusahaan ku. Sementara ia bekerja dengan tim nya di lantai atas. Namun perasaan ini semakin kuat. Aku merindukan tatapannya, aku merindukan suaranya.."
__ADS_1
...***...
To be continue