PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
KAU...


__ADS_3

Flamini memarkirkan mobilnya mewah nya di depan mansion milik nya. Laki-laki tampan itu langsung turun dari mobil, masuk kedalam rumah.


"Selamat malam tuan. Apa makan malam tuan mau di siapkan sekarang?", ucap salah satu pelayan di mansion itu dengan hormat.


"Tidak perlu. Aku sudah makan di luar. Sekarang aku mau berendam. Jangan ada yang menggangu ku", ketus Flamini menaiki tangga menuju lantai atas di mana kamarnya berada.


Tiba di kamar miliknya yang bernuansa biru tua dan putih, Flamini langsung merebahkan tubuhnya yang masih lengkap dengan pakaian kerjanya. Bahkan ia belum membuka jas dan sepatu nya. Sementara kedua tangannya dibawah kepalanya. Kedua netra nya menatap langit-langit kamar.


"Shitt. Kenapa juga seharian ini wajah gadis itu memenuhi pikiran ku".


Flamini mengingat bagaimana ia kaget melihat gadis yang menabraknya di rumah sakit waktu itu tiba-tiba berdiri depan private room ruang kerjanya. Ia sangat ingat wajah gadis cantik yang memiliki mata sangat indah itu.


Setelah meninggalkan kantornya Flamini mengunjungi temannya Steven, keduanya menghabiskan waktu bersama Samuel di kantornya. Namun Flamini lebih banyak melamun dengan pikirannya sendiri, membuat kedua temannya merasa aneh melihat tingkah Flamini.


"Flamini, kau kenapa sepertinya banyak sekali pikiran. Seperti orang sedang patah hati saja", ledek Samuel.


"Iya. Dari tadi kau tidak fokus dan banyak melamun. Kau jangan lupa membawa pasangan ke pernikahan ku dan Katty nanti. Lagian, usia mu semakin bertambah apa kau masih memegang teguh cara pikir mu itu, teman? Tidak mau berkomitmen?"


Kata-kata kedua temannya tengiang-ngiang di telinga Flamini.

__ADS_1


Flamini memijat keningnya, kemudian bangkit dan membuka laci nakas mengambil sebuah buku. Ia menatap buku sketsa milik Anabelle yang sudah dengannya dihari mereka bertabrakan. Flamini membuka sampulnya, ia mengambil kartu nama yang diberikan Anabelle pada saat itu.


"Anabelle Patricia"


"Gadis yang sangat bertalenta". Flamini mengusap kartu nama itu, sekilas senyuman nampak di wajah tampannya.


"Sebaiknya aku berendam sekarang. Lama-lama kepalaku bisa pecah. Memikirkan hal tidak penting begini", ucap nya berdiri menuju kamar mandinya.


*


Satu jam berlalu..


"Tubuh ku lebih segar sekarang", ucap Flamini sambil mengikat tali bathrobe. Tanpa mengganti pakaian laki-laki itu keluar kamarnya turun kelantai bawah, bahkan sisa air mandi pun masih menetes di ujung rambutnya. "Kita lihat ada cemilan apa di bawah", ujar Flamini menuruni tangga.


Karena Flamini mempunyai aturan nya sendiri. Saat ia sudah kembali ke rumah, semua pelayan harus berada di kamar mereka. Flamini ingin memiliki privasi sendiri. Ia tidak suka saat berada di rumah melihat pelayan masih bekerja. Dan tidak ada yang berani protes dengan aturan yang diterapkan laki-laki itu. Flamini juga tak sekalipun membawa wanita manapun kerumahnya. Tak seorang pun.


Flamini hendak melangkahkan kaki kembali namun lagi-lagi ia mendengar pintu terbuka kemudian tertutup dengan cepat


"Huhh.. Siapa yang berani menentang perintah ku", ketusnya.

__ADS_1


Flamini memutuskan untuk melihat siapa itu. Ia melihat semua sudut ruangan tak terlihat siapapun. Kemudian Flamini kembali menuju pantry. Saat hendak masuk ke pantry tiba-tiba..


Brukkk


Flamini spontan mencengkram kuat lengan orang yang menabrak tubuh nya dari sisi sebelah kiri nya. Dan merapatkan tubuh itu ke pintu pantry.


Dengan tatapan nyalang Flamini menatap tajam wanita yang ada di hadapannya, tubuh keduanya berhimpitan. Begitu pun wanita itu menatap Flamini tak berkedip.


"Kau! Apa yang kau lakukan di rumah ku Anabelle? Bagaimana bisa kau masuk? Apa kau selalu lancang seperti ini hah? Masuk ke rumah orang diam-diam, kemudian jalan-jalan berkeliling tanpa izin yang punya? Apa kau pikir kantor dan rumah ku ini tempat wisata, kau bebas berkeliaran, hem? Seperti pagi tadi tiba-tiba kau berdiri di depan pintu itu, sebenarnya apa yang kau mau hah?"


Anabelle menatap Flamini tanpa berkedip. "S-aya mencari toilet tuan. Tapi tidak terlihat seorang pun di rumah ini. Makanya saya membuka satu persatu pintu itu", ucap Anabelle sambil menunjuk kearah pintu-pintu yang di bukanya tadi.


Flamini menyipitkan matanya menatap tajam wajah polos gadis itu, dengan kelopak matanya yang mengerjap-ngerjap. Anabelle terlihat masih menggunakan pakaian kerja pagi tadi namun rambut di gelung secara acak. Wajah tanpa dosa itu kontras sekali dengan mata indahnya, sangat menggemaskan.


Anabelle pun merasakan tubuhnya bergidik, ia berdiri begitu dekat dengan Flamini yang hanya menggunakan bathrobe menutupi tubuh atletisnya. Jantung nya berdegup kencang. Harum shampoo laki-laki itu begitu maskulin. Anabelle bersusah payah untuk menelan salivanya sendiri. Manik bening Anabelle tak berkedip menatap Flamini.


"Ehem". Terdengar deheman Sean yang sudah berdiri di dekat keduanya.


"Maaf tuan Flamini, nona Anabelle datang bersama saya. Ia ingin bertemu tuan. Ingin menyampaikan bahwa nona Verline tetap mengutus nona Anabelle untuk bekerjasama dengan anda, karena orangtua nona Verline siang ini meninggal dunia dan ia harus berada di Scotlandia selama satu minggu".

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2