PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
AMARAH


__ADS_3

Waktu terus bergulir, beberapa jam kemudian..


Hari sudah menjelang siang, Samuel sedang berbincang-bincang dengan Owen dan manajer proyek di ruangannya.


"Minggu depan aku akan melihat langsung pembangunan pelabuhan di Manchester. Aku harap proyek itu bisa selesai tepat waktu. Aku tidak mau ada hal yang menghambat pekerjaan. Segera selesaikan masalah dengan para pekerja yang membangkang itu, David", perintah Samuel saat menerima laporan kendala yang di hadapi dalam penyelesaian pekerjaan.


"Baik tuan", jawab manager proyek yang bernama David dengan hormat.


Beberapa saat kemudian David pamit undur diri karena masih ada pekerjaannya di divisi keuangan.


Sekarang Samuel hanya berdua Owen diruang nya. Menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi, sementara hari sudah menjelang sore.


Tok


Tok


Owen berdiri dari tempatnya membuka pintu.


Terlihat sekertaris Samuel, Ashley didepan pintu bersama Nathan sepupu Samuel.


"Wah sepupuku ternyata kau sudah nyaman di posisi ini. Selama ini ternyata kau pura-pura saja tidak mau menjadi CEO perusahaan paman Abraham. Dasar munafik!", ujar Nathan dengan kata-kata sarkas.


Samuel menghentikan pekerjaannya. Menghunuskan tatapan tajam pada Ashley yang membiarkan Nathan masuk keruangan nya.


Seakan mengerti kemarahan bos-nya itu, Ashley cepat-cepat meminta maaf. Tentu saja ia tidak mau pekerjaannya terancam. "Maaf tuan Samuel, saya sudah melarang sepupu anda masuk. Tapi tuan Nathan memaksa", ucap Ashley membela dirinya.


"Kau pergilah, lanjutkan pekerjaan mu!", perintah Samuel dengan ketus pada Ashley. Dengan cepat wanita itu membalikkan badannya.


"Ada urusan apa kau menemui ku. Kita sudah tidak ada urusan lagi. Pergilah dari hadapan ku sekarang juga, atau keamanan yang akan mengusir mu!"

__ADS_1


Prokk


Prokk


Nathan menepuk tangannya. "Sam...Sam, kau pikir kau sudah menang dari ku setelah menikahi Calista tuangan ku? Kau pikir kau bisa bahagia seperti sekarang bersama wanita itu, kalau kau tahu siapa dia yang sebenarnya?", ketus Nathan menatap tajam Samuel.


Samuel menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. Dengan rahang mengetat dan sorot mata menggelap laki itu menatap Nathan. "Aku tidak perduli perkataan mu, jangan pernah kau menggangu istri ku lagi atau kehancuran hidup mu yang tidak berguna itu! Kau urus saja Irene tunangan mu, segera nikahi pe*acur mu itu!"


"Wow...ternyata kau benar-benar sudah jatuh cinta pada wanita yang telah membuat mu menderita selama ini, sepupu ku! Asal kau tahu aku tidak pernah mencintai Irene. Aku bertunangan dengan nya karena desakan papa ku. Di hatiku hanya ada satu nama yaitu CALISTA", balas Nathan bernada sinis.


"Apa maksudmu brengsek?!"


Samuel berdiri dari kursinya. "Usir laki-laki tidak berguna ini dari hadapan ku sekarang juga. Jangan pernah izinkan dia masuk ke perusahaan ku!", perintah Samuel dengan tegas pada Owen asisten nya.


Owen menganggukkan kepalanya, segera memanggil security.


Dua orang keamanan segera memegang lengan Nathan. Namun Nathan segera menepisnya dengan kasar. Laki-laki itu menatap tajam orang-orang Samuel. Kemudian beralih menatap tajam sepupunya.


"Setelah ini kau akan berterima kasih kepada ku, Samuel. Karena aku tahu siapa yang telah menyebabkan tunangan mu Amber meninggal dunia", ketus Nathan dengan senyuman sinis di ujung bibirnya.


Seketika amarah di dalam diri Samuel tersulut. laki-laki itu menarik kerah jas kerja Nathan. "Kau jangan main-main dengan ku brengsek! Katakan apa mau mu sebenarnya, hah?"


"Aku ingin Calista. Ia milik ku!"


Brugh


Brugh


Samuel melayangkan bogem mentah ke wajah Nathan, hingga laki-laki itu terhuyung ke belakang.

__ADS_1


"Jangan coba-coba mengganggu istri ku, ba*ingan. Calista tidak mencintai mu, ia telah melupakan mu semenjak kau mengkhianati nya!"


Senyum seringai nampak di wajah Nathan. "Kalau ia tidak mencintai ku, ia tidak akan terpengaruh dengan perselingkuhan ku yang menyebabkan kecelakaan beruntun di jalan empat tahun yang lalu. Kau tahu artinya apa? Artinya Calista sangat mencintai ku dengan mendalam dan berharap banyak pada ku yang sudah menjadi kekasihnya selama sembilan tahun. Dan kau bukan lah siapa-siapa baginya. Calista menikah dengan mu karena ingin membayar rasa bersalahnya pada mu karena Amber. Bukan mencintai mu...!"


Nathan membalikkan badannya berlalu dari hadapan Samuel sambil tertawa.


*


Brugh..


Dengan tangan terkepal Samuel meninju meja kerjanya hingga kacanya retak seribu. Tidak hanya sampai disitu saja, laki-laki itu juga menghambur semua benda-benda yang ada di atas meja kerjanya.


Owen tidak bisa meredakan emosi yang menguasai diri bos-nya itu. Ia hanya terdiam di tempatnya.


"Brengsek!"


"Kau cari tahu siapa laki-laki yang mendekam di penjara itu! Aku ingin hasilnya hari ini juga. Atau kau akan aku pecat!", ucap Samuel yang terlihat sudah sangat berantakan menuang wine ke dalam gelas, meneguknya hingga tandas.


"M-aaf tuan. Apa tidak sebaiknya tuan menanyakan langsung masalah ini ada istri tuan? Pasti nona Calista memiliki jawaban yang tuan butuhkan", ucap Owen dengan sangat hati-hati. Ia tidak mau menambah amarah atasannya itu. Yang ia inginkan agar yang mengganjal di hati atasannya itu bisa terselesaikan dengan baik.


"Shitt...!"


"Kau ikut dengan ku", perintah Samuel melangkah keluar ruangannya. Masih dengan kekacauan dan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalanya.


"Aku tidak percaya kau pelaku yang sebenarnya... CALISTA!"


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2