
Massachusetts, USA
"Selamat pagi nona Ana, bagaimana tidur nona apa nyenyak?", tanya pelayan di hacienda.
Anabelle menyunggingkan senyum bahagia. "Iya bibi Suzan. Ternyata udara malam sangat dingin sekali di sini", jawab Ana sambil menuruni tangga dan mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan luas.
Suzan tersenyum melihatnya. "Apa yang nona cari tuan muda Flamini?"
Anabelle tersipu malu-malu. "Tid..
"Bohong kalau kau tidak mencari kekasih tampan mu, Anabelle Patricia. Kau pasti merindukan ku, kan".
Anabelle melebarkan matanya menatap Flamini yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka. "Bagaimana bisa tiba-tiba kakak muncul?"
Cepat-cepat Ana mendekati Flamini dan mencubit tubuh laki-laki itu.
"Hei...apa yang kau lakukan, kau pikir aku mahluk jadi-jadian?"
"Bisa saja seperti itu. Kakak selalu saja datang tiba-tiba dan mengejutkan", cicit Anabelle.
Flamini menarik pinggang kekasihnya itu dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di wajah mulus Anabelle yang begitu menggemaskan baginya.
Suzan dan dua pelayan lainnya tersenyum melihat keromantisan bos mereka.
"Sekarang aku menagih janji kakak yang akan mengajak ku berkeliling perkebunan mu ini", ujar Anabelle sambil bergelayut manja memeluk lengan flamini.
"Tentu saja, aku tidak lupa dengan janjiku. Bibi...bawa saja sarapan ku dan Ana ke pondok. Sekarang aku dan kekasih ku akan menunggang kuda".
__ADS_1
Seketika tubuh Anabelle membeku. Wajahnya nampak ketakutan sekali. "Kak...aku tidak mau menunggang kuda. Apalagi jika sendirian. Bagaimana kalau kuda itu membawa ku lari yang jauh. Aku hilang dan kau tidak bisa menemukan ku?", cicit Anabelle bergidik ngeri.
Suzan dan kedua pelayan yang ada di dekat mereka tersenyum mendengar perkataan Anabelle. Kedua pelayan muda itu bahkan tidak bisa menahan tawa mereka. Begitu Suzan melotot kearah mereka barulah keduanya terdiam dan menundukkan kepala.
"Kau itu terlalu banyak menonton film horor Anabelle", seru Flamini sambil mencubit ujung hidung gadisnya itu. "Ayo kita pergi sekarang mumpung masih pagi dan udara masih segar".
Flamini menggenggam tangan Ana keluar rumah.
Sudah ada kuda jenis arabian berbulu tebal berwarna putih yang di bawa seorang pekerja ke depan pintu hacienda.
"Terima kasih Marco. Kau boleh melanjutkan pekerjaan mu", perintah Flamini.
Marco menganggukkan kepalanya, sambil membuka topinya. "Baik tuan. Jika tuan membutuhkan saya ada di area 51 pagi ini. Sebagian pekerja panen apel".
"Panen apel? kak, aku mau melihat orang-orang panen apel saja. Bagaimana kalau kita batalkan saja berkudanya. Kita tidak perlu berkuda, cukup jalan kaki saja", ujar Anabelle membujuk Flamini.
"Tapi area 51 batas akhir perkebunan nona. Sangat jauh di ujung sana", ujar Marco menunjuk jauh kedepannya.
Anabelle melebarkan kedua matanya dengan mulut terbuka. "Uh, aku takut naik kuda ini kak. Badannya sangat besar, bagaimana kalau aku jatuh. Lihatlah ia melotot menatap ku", ujar Ana gemetaran.
Flamini tertawa melihat tingkah gadis itu. Tanpa aba-aba, Flamini mengangkat tubuh Ana naik ke punggung kuda.
Ana kaget dan berteriak. "Kak apa yang kau lakukan. Aku takut kak", teriaknya hendak melompat turun namun kuda itu sangat tinggi.
"Kau tampak seksi bersama Kemal, Ana", seru Flamini tertawa melihat Anabelle gelisah ketakutan.
"Kak turunkan aku sekarang. Bagaimana kalau kuda ini lari, aku takut", ujar Anabelle dengan suara bergetar tampak hampir menangis ketakutan.
__ADS_1
Flamini tidak tega juga melihat nya. Dengan sekali lompatan laki-laki itu naik ke punggung kuda dan memegang tali kekang. Sementara tangan kirinya memeluk erat pinggang Ana.
Ana menarik nafas dalam-dalam. Sekarang Ia lebih tenang, tidak cemas seperti tadi.
"Kakak selalu menyebalkan. Membuat ku takut", protes Ana sambil memukul lengan Flamini yang memeluknya.
Flami mengecup leher Ana. "Kau ini ternyata gadis yang sangat penakut, ya", ledek Flamini sambil melepaskan topi fedora dan memakaikannya pada Anabelle. Keduanya terlihat sangat romantis sekali. Para pekerja perkebunan ketika berpapasan menyapa dan memberi salam dengan hormat dan Anabelle dengan ramah membalas mereka.
"Kak, lihat... ada gazebo di sana", ucap Ana dengan antusias. "Wah pemandangan di sini ternyata indah sekali".
"Kita akan ke sana nanti. Sekarang Kemal akan mengajak kita berkeliling perkebunan dulu".
"Kebun ini sangat indah sekali. Aku suka suasana di sini", ucap Ana sembari menatap hamparan pohon apel yang begitu luas.
"Kau menyukainya?", tanya Flamini.
Ana menganggukkan kepalanya. "Aku menyukai suasana pedesaan seperti ini. Sangat damai".
"Apa kakak sering kemari?"
"Selalu. Tempat ini meninggalkan banyak kenangan ku bersama kedua orang tua ku. Keluarga ku sangat bahagia saat berkumpul di perkebunan ini".
"Kenapa kakak lebih memilih tinggal di London dari pada di sini?"
"Saat aku memutuskan tinggal di London, kondisi ku sedang tidak baik-baik saja. Samantha meninggalkan ku dan pergi dengan laki-laki lain di hari pernikahan kami. Perasaan ku hancur. Rasanya aku ingin mengakhiri hidup".
"Perasaan kakak sedalam itu pada Samantha? Apa sekarang perasaan itu masih ada?", tanya Ana ingin tahu. Ia menolehkan kepalanya kebelakang menatap Flamini.
__ADS_1
...***...
To be continue