
Samuel menundukkan wajahnya kembali me*umat bibir ranum Calista yang terbuka dan begitu menantang.
Perlahan Samuel merebahkan tubuh Calista begitupun tubuhnya.
"Akh Sam..."
Terdengar de*ahan dari mulut Calista sambil menggigit bibir bawahnya ketika merasakan milik Samuel menyodok intinya dari belakang. Samuel memeluk tubuh istrinya dengan in*im, sambil meremas dan mengusap lembut puncak dada Calista. Sesekali mencium lembut punggung putih mulus istrinya yang mengeluarkan suara men*esah memenuhi kamar berukuran luas itu.
Pinggul Samuel maju-mundur perlahan, sedang hingga nambah volumenya hingga merasakan miliknya masuk semakin dalam inti Calista.
Inti Calista berkedut kedut menghisap kuat milik suaminya. Calista menjerit pelan. Sementara Samuel semakin memacu adrenalin nya. Milik istrinya terasa begitu sempit membuatnya begitu nikmat. Sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Apalagi ketika inti Calista menghisap miliknya dengan kencang. Samuel hanya bisa mengerang. "Bertahanlah sebentar lagi sayang", bisiknya sambil mengecup punggung istrinya.
Tubuh Calista bergetar hebat. Ia menautkan jemari tangannya dengan jemari tangan Samuel. Sementara Samuel yang bekerja keras. "Oh Sammy..."
Melihat istrinya seperti kelelahan, Samuel merubah posisi nya. Memasuki Calista yang terlentang dengan bertumpu pada lututnya.
Tentu saja Samuel masih memiliki kesadaran penuh, ia tidak mau mengambil resiko dengan kondisi istrinya yang sedang hamil besar begitu jika harus menuruti ego-nya bermain liar.
Milik Samuel menghentak inti Calista, membuat Calista kembali mendapatkan pelepasan entah yang ke berapa. Berbarengan terdengar suara mengeram panjang Samuel. Cairan hangat milik laki-laki itu menyembur dengan deras memenuhi inti Calista. Sesaat keduanya terkulai tak berdaya, setelah terjadi pergumulan panjang dan melelahkan. Mereguk kenikmatan bercinta karena sama-sama saling menginginkan dan membutuhkan.
Calista menyandarkan kepalanya pada dada bidang Samuel. "Sayang aku lapar, kau membuat ku kehabisan tenaga. Akhirnya anak mu kelaparan sayang", ujar Calista setengah merengek.
__ADS_1
Samuel tersenyum mendengarnya. "Kau ingin makan apa, hem? Aku akan memasakkan makanan untuk mu selagi kau mandi. Asal jangan masakan Indonesia lagi yang kau inginkan. Aku menyerah", ucap Samuel sambil mengusap lembut punggung Calista.
Calista mendongakkan wajahnya menatap Samuel. "Bagai mana kalau sushi saja. Apa kau bisa membuatnya untuk kami?", ucap Calista sambil mengelus lengan suaminya yang melingkar di lehernya.
"Aku akan membuat menu sushi untuk kalian. Kau bersihkanlah tubuh mu", ujar Samuel mengecup puncak kepala istrinya.
"Benarkah kau bisa membuat sushi, sayang? Hm...kau sangat beruntung sayang, memiliki daddy yang serba bisa", ucap Calista sambil mengusap perutnya.
Samuel tersenyum mendengarnya. "Dulu aku sering menghabiskan waktu di negara sakura. Jadi aku tahu cara membuat menu jepang", jawab Samuel.
"Benarkah? Apa kau bersama Amber berada di sana?"
"Lebih banyak sendirian, untuk urusan pekerjaan dan pameran lukisan", jawab Samuel Samuel.
Calista kembali mendongakkan kepalanya menatap laki-laki yang sangat di cintainya itu, yang berada di belakangnya.
"Aku sudah sangat lama ingin mengunjungi negara sakura, sayang. Namun karena kesibukan, aku tidak pernah sempat liburan ke sana.
"Tentu saja. Setelah anak kita lahir dan ia sudah bisa berjalan, aku akan mengajak mu ke sana. Negara itu sangat indah, memang cocok untuk di kunjungi", jawab Samuel.
*
__ADS_1
"Steve...aku sangat gugup. Lihatlah tangan ku berkeringat. Bagaimana kalau dokter Arthur dan mama mu menolak ku?"
"Tenanglah Katty, kau sudah mengenal papa ku kan. Mama tidak jauh beda seperti papa, mereka menginginkan aku segera menikah".
Hari ini Steven mengajak Katty menemui orang tua nya di kota Birmingham. Sebenarnya Steven sudah memberi tahu orang tuanya bahwa ia sudah memiliki kekasih. Dan sedang merencanakan pernikahan.
Namun Steven tidak menjelaskan pada Arthur siapa kekasihnya saat ini.
Steven tersenyum melihat wajah Katty nampak pucat saat berada di dalam mobil menuju mansion orangtuanya. "Kenapa kau sangat ketakutan begitu, seperti akan di gigit saja", ucap Steven menggoda gadis yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu.
"Jangan menggoda ku Steven. Aku gugup menemui keluarga mu, bagaimana jika mereka tidak menyukai ku. Dada ku sesak, Steve. Kau harus memberikan oksigen tambahan untuk ku", ucap Katty menatap Steven.
"Berapa banyak oksigen yang kau butuhkan, hem? Steven menarik tengkuk Katty dan mencium lembut bibir kekasihnya yang nampak begitu gugup itu.
Katty mendesis dan memukul lengan Steven. Katty mencubit perut laki-laki itu. "Kita sedang di dalam mobil bersama sopir ayah mu, Steve. Tidak ada sekat pembatas", bisik Katty di telinga Steven yang tertawa.
"Biarkan saja. Paman Ferdinand bukan orang lain kenapa kau harus malu", jawab Steven kembali me*umat bibir Katty yang terasa sangat dingin seperti salju.
Sementara Ferdinand yang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang tersenyum. Ia senang melihat putra atasannya itu sekarang sudah menemukan tambatan hatinya lagi setelah kepergian istrinya.
...***...
__ADS_1
To be continue