PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
EXPRESSION OF FEELING (FLAMINI-ANABELLE)


__ADS_3

Anabelle menggerakkan tubuhnya dengan mata terpejam. Ana merasa begitu damai dan tentram dengan posisi tidurnya saat ini. Dalam keadaan setengah sadar, Ana mendengar detak jantung yang begitu dekat telinga nya.


"Ah...kak Flami tidak menghubungi ku, aku tidak akan menghubungi nya duluan", gumam Ana pelan dengan mata masih tertutup rapat.


Seakan-akan ia berada dalam dekapan hangat. Begitu membuatnya tenang. Ana kembali terlelap memejamkan kedua matanya dengan rapat.


Namun.. Anabelle merasakan ada yang mengusap lembut punggungnya.


Kedua mata Anabelle terbuka. Betapa kagetnya ia ternyata tertidur dalam dekapan seseorang.


Ana mendongakkan wajahnya. "Kak Flami!", teriak Ana melebarkan kedua matanya. Sontak bangun mengangkat tubuhnya untuk duduk.


Anabelle menatap Flamini dengan tatapan kaget tak percaya. Bahkan beberapa kali mengucek matanya.


"Ya ampun Ana, kenapa kau berteriak. Kau mengagetkan saja", ujar Flamini membuka matanya dan melonjak terbangun dari tidurnya.


"Kakak yang mengagetkan aku. Kapan kakak pulang dan kenapa ada di kamar ku, nanti ada yang melihat", cicit Anabelle menatap Flamini dengan tatapan selidik.


"Kamar ku? Kau masih belum sadar dari mimpi mu Ana. Lihat sekitar mu", ujar Flamini tersenyum lucu melihat mimik muka Anabelle yang seketika berubah melototkan kedua matanya melihat seputaran kamar Flamini.


"Uhh...aku ketiduran di kamar mu. Tapi aku tidak melakukan kesalahan, karena kakak sendiri yang bilang sebelum pergi waktu itu aku boleh kemanapun termasuk ke kamar kakak", jawab Anabelle dengan maksud mengingat kan Flamini jikalau laki-laki itu lupa dengan kata-kata nya sendiri.

__ADS_1


"Sebaiknya aku pindah ke kamarku sekarang". Ana hendak berdiri, namun lengannya di tahan Flamini.


"Apa karena kau merindukan aku, makanya kau tidur di kamar ku, hem? Aku mendengar mu mengigau dibawah alam sadar mu, Ana. Kau tidak bisa bohong pada ku. Kau memanggil nama ku dan berulangkali mengatakan merindukan aku", ucap Flamini sambil mengusap wajah Anabelle yang seketika berubah.


Anabelle tidak bisa berdalih lagi. "A-ku..."


"Kenapa kau gugup, hem? Aku ingin mendengar kau memanggil nama ku seperti di mimpi mu, Ana", ucap Flamini sambil mengusap bibir Anabelle yang terbuka.


"Selama di London kakak pasti bersama Nancy. Bersenang-senang dengan wanita seksi itu", ucap Ana menyelami manik abu-abu Flamini yang intens menatapnya dengan tatapan penuh makna.


"Apa kau cemburu, hem?"


Jari telunjuk Flamini mengangkat dagu Anabelle agar menatapnya. "Tapi aku suka jika kau cemburu Ana. Sama halnya aku akan cemburu jika ada pria lain bersama mu, Anabelle", ucap Flamini dengan lembut dan perasaan mendalam.


"Aku juga merindukanmu Anabelle. Sangat merindukan mu. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak menghubungi mu untuk memastikan perasaan ini". Flamini membawa tangan Ana ke dadanya, merasakan debaran jantungnya yang berdetak kencang. "Apa kau bisa merasakan nya, hem?"


Kedua netra bening Ana menggerjap. "K-ak..


Flamini tidak bisa menahan dirinya lagi. Jemari tangan kokoh itu membingkai wajah Anabelle menyatukan bibirnya pada bibir Anabelle yang terbuka.


Sentuhan Flamini membuat Ana berkeringat dingin. Gadis itu begitu gugup. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menenangkan debaran jantungnya. Namun sekuat apa pun ia berusaha tidak merubah keadaan. Ditambah parfum maskulin tubuh Flamini mempengaruhi aliran darah hingga melumpuhkan akal sehat Ana. Terlebih keberadaan mereka saat ini berada di dalam kamar Flamini yang tertutup rapat, karena sekarang hari masih gelap gulita.

__ADS_1


Bibir Flamini memangut leluasa bibir atas dan bawah Anabelle bergantian. Bibir itu terasa hangat. Lidah Flamini memaksa masuk menyapu langit mulut Anabelle. Ana tidak menolaknya, gadis itu justru terhanyut menikmati sentuhan lembut Flamini yang membuat tubuhnya kian meremang.


Seperti terhipnotis, Ana berusaha membalas buaian Flamini meskipun terasa kaku namun justru itu yang membuat Flamini menyukainya. Flamini merebahkan tubuh Anabelle sementara jemari tangannya menyelusup kedalam gaun tidur Ana.


Flamini tersenyum, tenyata Anabelle tidak memakai bra saat tidur. Jemari Flamini meremas dan mencubit puncak gundukan kenyal milik Ana tanpa menghentikan lu*atan liar bibirnya pada bibir Anabelle.


"Akh–


"K-ak J-angan....aku mohon". Ana berucap lirih ketika merasakan jemari Flamini menelusup masuk kedalam panties yang menutupi intinya.


Ana membingkai wajah tampan Flamini yang berada begitu dekat dengan wajahnya. "A-ku mohon kak..."


"Ah Ana, aku tidak bisa mengontrol diri ku saat bersama mu sayang. Kau benar-benar membuatku jatuh cinta Anabelle. Aku mencintaimu sayang", bisik Flamini di telinga Anabelle.


"Selama di London aku selalu memikirkan mu, Ana. Aku bersumpah sejak mengenal mu aku tidak pernah tidur dengan wanita mana pun, Anabelle. Kau bisa menanyakan langsung pada kakak mu, aku selalu bersama mereka. Kami menemani Samuel di rumah sakit", ujar Flamini meyakinkan Anabelle yang menatapnya dengan tatapan mendalam.


"Kak, aku juga mencintaimu..."


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2