
"Kau cari tahu tentang Irene tunangan Nathan sepupu ku juga teman-teman nya yang sudah mengusik istri ku, Owen!"
"Irene menggeluti dunia modeling. Aku ingin kau hancurkan kariernya. Hubungi perusahaan yang telah bekerja sama dengannya atas nama ku Samuel Geraldo Abraham agar mereka memutus kerjasama dengan wanita itu!".
"Aku menunggu kabar dari mu tentang kehancuran karier wanita itu besok!"
Samuel sedang berada di balkon kamarnya, laki-laki itu hanya menggunakan training panjang dan bertelanjang dada. Otot-otot dada, perut tercetak sempurna.
Sorot matanya menatap jauh ke depan di kegelapan malam. Samuel menyesap wine dari gelas yang ada di genggaman tangan nya.
"Heh...siapa kau sudah berani bermain-main dengan ku Irene Dalgado. Kau terima akibatnya esok hari. Aku pastikan kau akan menangisi nasib mu setelah ini", umpat Samuel dengan wajah dingin.
Sesaat kemudian ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Samuel menyunggingkan senyuman melihat wajah polos Calista.
"Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti mu, sayang. Aku tahu kau wanita yang tangguh, tapi aku tetap akan memberikan perlindungan pada mu", ucap Samuel sambil menatap istrinya yang sedang tertidur pulas.
Tubuh polos Calista terpampang jelas di atas tempat tidur berukuran king size tersebut. Selimut hanya menutupi sebagian tubuhnya saja. Samuel dan istrinya beberapa saat yang lalu melakukan pergumulan panas. Calista memberikan kado istimewa untuk laki-laki yang sangat dicintainya itu yaitu sebuah arloji bertabur berlian. Tidak hanya sebuah kado mahal saja yang diberikan Calista untuk Samuel tapi ia memberikan hadiah istimewa lain nya. Yaitu memberikan pertunjukan singkat dihadapan suaminya memakai lingerie warna merah terang yang baru di belinya sesuai dengan warna kesukaan Samuel.
Hadiah yang kedua lah yang paling di sukai Samuel. Tidak butuh waktu yang lama, istrinya mampu membuat nya bergairah. Dan pada akhirnya pergumulan panas dan liar lah cara penyelesaiannya.
Samuel menyandarkan punggungnya pada ujung tempat tidur. Jemari tangannya mengusap lembut punggung putih mulus istrinya. "Aku tidak akan membiarkan orang yang aku cintai terusik oleh hal tidak penting. Apalagi kau tidak ada lagi hubungan dengan Nathan", ucap Samuel sambil mengecup kening istrinya yang tak bergerak sedikitpun.
Calista tidur seperti orang pingsan, ia nampak sangat kelelahan. Setelah teman mereka pulang ketempat masing-masing, Samuel meminta istrinya untuk menceritakan kejadian di toko arloji yang sebenarnya.
Sesungguhnya saat mengetahui kejadian itu, Samuel tidak bisa mengontrol emosi nya. Mendengar bahwa Irene dan teman-temannya menyerang Calista, seketika membuat Samuel naik pitam, bahkan ia meluapkan amarahnya dengan ancaman pada Katty. Seandainya saja Calista tidak meredam emosi yang menguasai dirinya mungkin Samuel akan lebih menghardik Katty dengan kata-kata sarkasme lagi.
Samuel merebahkan tubuhnya di samping Calista. Laki-laki itu membawa tangannya ke sela leher istrinya dan memeluk tubuh Calista sambil mengusap lembut punggung nya. Sesaat Calista mengeliat, kemudian memejamkan matanya kembali. Seakan menemukan tempat ternyaman.
*
Keesokan harinya...
"Sayang kau mau makan apa biar aku ambilkan", ucap Calista yang sudah siap dengan dress kerja hamil berwarna off white yang di lengkapi dengan blazer berwana senada.
__ADS_1
"Sereal gandum saja dengan susu low fat", jawab Samuel tersenyum.
"Sayang, siang nanti Katty yang akan mewakili ku ke kota Leeds. Rapat direksi pemegang saham hotel kita".
Samuel menganggukkan kepalanya. "Iya. Begitu lebih baik. Aku juga akan bertolak ke sana siang ini. Setelah acara selesai, aku langsung pulang ke London", jawab Samuel sambil menyuapkan sereal gandum kemulutnya.
"Pagi ini aku akan mengantarmu kekantor kemudian aku langsung ke perusahaan ku karena ada pekerjaan penting yang harus aku urus".
"Iya sayang. Setelah aku selesai meeting, aku langsung pulang ke rumah saja, kau tidak perlu menjemput ku lagi".
"Hem. Bagaimana pergelangan tangan mu, apa masih ada tanda memar nya?", tanya Samuel sambil menarik tangan istrinya. Dan tak nampak lagi tanda memar itu.
"Tidak. Krim yang diberikan Steven sangat ampuh", ujar Calista.
Samuel menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku tidak meragukan temanku itu, ia salah satu dokter muda terbaik".
"Oh ya Sammy, bagaimana menurut mu jika Steven dekat dengan Katty? Aku rasa mereka berdua sama-sama saling menyukai", ujar Calista sambil menatap suaminya.
Calista menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Aku melihat mereka semakin dekat sayang, apa lagi semalam saat acara makan malam teman mu itu selalu mendekati Katty".
Samuel menyandarkan punggungnya. Ia mengingat semua tingkah Steven temannya itu tadi malam. Saat ia menegur keras Katty, Steven langsung mendekati nya. "Pantas saja, ia langsung menawarkan diri untuk mengantarkan Katty", ucap Samuel menatap Calista.
"Nah....itu dia. Kau pun menyadari nya kan?"
"Katty gadis yang baik, ia sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Ia cerdas dan cekatan. Ia juga baik dan perhatian. Aku akan mendukung ia dan Steven, asalkan Steven benar-benar serius pada nya".
"Apakah sudah sejauh itu hubungan mereka? Steven tidak menceritakan apapun pada ku".
"Mereka bertemu pertama kali di ruangan mu. Kemudian bertemu kembali di rumah sakit tempat ayah Katty di rawat. Hm...kau tahu sayang, secara kebetulan dokter ayah Katty ternyata ayahnya Steven. Dan sekarang Steven lah yang menggantikan ayahnya menjadi dokter papa Katty. Seakan-akan semuanya sudah di atur ya, sayang?"
Samuel tersenyum. "Itu lah takdir namanya. Sama seperti kita, siapa sangka gadis yang menyulitkan aku di club Flamini, sekarang menjadi istri ku", jawab Samuel tertawa.
__ADS_1
"Apa kau menyesal, menikahi gadis itu, hem?"
Samuel mendekati bibir nya ke telinga Calista. "Bagaimana aku menyesal jika aku lah satu-satunya untuk gadis itu. Apalagi ia sangat pandai membahagiakan aku di tempat tidur. Hm...dan sekarang ia sedang mengandung anak ku", bisik Samuel sambil mengecup wajah Calista yang kiat berisi itu. Samuel juga mengusap lembut perut istrinya.
"Uhh...yang daddy mu ingat hanya tempat tidur saja", seru Calista tersenyum sambil mengusap rahang suaminya.
Samuel melihat Owen masuk dari pintu samping. Samuel yakin ada yang ingin asistennya itu sampaikan padanya kalau melihat dari wajah nya. "Owen... tunggu aku di ruang kerja!"
"Baik tuan", jawab Owen dengan sopan.
"Sayang, kau lanjutkan saja sarapan mu, aku harus bicara pada asisten ku", ucap Samuel berdiri dari kursinya.
"Iya.
*
"Katakan, apa kau sudah melakukan yang aku perintahkan?"
"Sudah tuan, semua perusahaan yang bekerjasama dengan nona Irene Dalgado mulai menurunkan iklannya dan memutus kerjasama sama mereka sesuai perintah tuan. Atas nama tuan saya juga sudah membayar ganti rugi perusahaan tersebut", jawab Owen.
Samuel menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. "Good. Kau memang bisa diandalkan Owen, tidak pernah mengecewakan".
"Kau rasakan akibat sudah berani main-main dengan Samuel Geraldo Abraham, Irene! Nikmati lah karier mu yang hancur dalam sekejap", ketus Samuel sambil tersenyum sinis. Sorot matanya menghitam dan tajam.
"Apalagi yang ingin kai sampaikan, Owen?"
"Tuan Nathan sepupu anda tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian di toko jam itu tuan. Saat kejadian tuan Nathan sedang berada di New York", jawab Owen.
"Iya, aku tahu. Paman ku sudah memberitahu. Well, kita harus bersiap ke Leeds siang ini, sekarang aku akan mengantar istri ku ke kantor nya. Kau duluan saja ke perusahaan kita bertemu di sana".
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi", ucap Owen dengan sopan.
...***...
__ADS_1
To be continue