PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
KUNJUNGAN TEMAN


__ADS_3

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore, Samuel masih berada di ruang kerjanya ketika Owen masuk keruangan nya.


"Ada apa Owen, apa ada kabar penting yang ingin kau sampaikan?"


"Maaf mengganggu anda tuan Samuel, di lobby ada tuan Flamini teman anda".


"Flamini?"


"Iya tuan, ia tidak datang sendiri tapi bersama tuan Steven juga. Teman lama anda".


"Steven Morgan?"


Seketika Samuel menghentikan pekerjaannya dan menatap Owen.


Owen hendak menjawab, namun terhenti ketika salah satu teman bos-nya itu masuk kedalam ruangan.


"Samuel Geraldo Abraham... kau masih saja seperti dulu rajin bekerja. Apa kau kekurangan uang", ucap laki-laki tampan dan berperawakan tinggi menyapa Samuel yang tersenyum melihat kedatangan nya.


"Steven Morgan, apa kabar mu teman. Kapan kau kembali ke London, bukankah kau menetap di Dubai?", balas Samuel berdiri dari tempat duduknya memeluk hangat temannya Steven.


"Aku memutuskan menetap di London sekarang. Nasib kita hampir sama Sam, aku baru saja di tinggal istri ku yang meninggal dunia tiga bulan yang lalu. Istri ku harus berjuang melawan kanker yang dideritanya satu tahun belakangan. Aku harus mengikhlaskan nya. Sekarang Layla tidak merasakan sakitnya lagi", ucap Steven yang terlihat tenang.


"Iya. Aku sudah mendengar dari Flamini. Aku turut berdukacita atas meninggalnya Layla istri mu, Steve. Maaf aku tidak bisa datang langsung menemui mu", ucap Samuel mempersilahkan Steven duduk di sofa.


“Tapi aku dengar kau sudah memiliki pengganti Amber. Aku turut senang mendengarnya Sam. Kau terlalu lama meratapi kepergian Amber. Mendengar bahwa kau sudah menikah membuatku senang untuk mu”.

__ADS_1


"Iya. Calista nama istri ku. Nanti aku akan memperkenalkan kalian. Aku sangat mencintai nya, teman. Kami sedang menunggu kelahiran anak pertama kami", jawab Samuel sambil mempersilahkan Steven menikmati minuman dan cemilan yang sudah di siapkan sekretarisnya.


"Iya. Kau harus mengenalkan aku pada wanita yang telah menyembuhkan luka hati mu itu", jawab Steven.


Beberapa saat kemudian..


"Apa aku sudah melewatkan cerita seru kalian berdua", ujar Flamini bergabung bersama Samuel dan Steven.


"Kau dari mana Flamini?", tanya Samuel sambil menyesap minumannya.


"Sean asisten ku menelpon. Aku lupa sekarang ada meeting dengan rekan kerja ku. Ya aku undurkan saja jadwalnya", jawab Flamini mendudukkan tubuhnya di samping Steven. Laki-laki bernetra silver itu langsung menyeruput kopi hangat yang di suguhkan di atas meja.


Ketiganya berbincang dengan akrab. Menjalin persahabatan sejak di bangku sekolah tingkat pertama, dilanjutkan tingkat menengah atas. Membuat mereka sangat akrab, teman yang sudah seperti saudara sendiri. Walaupun tempat kuliah berbeda negara namun komunikasi Samuel dengan kedua temannya itu tidak pernah putus.


Ceklek..


"Sayang...apa kehadiran aku dan Katty mengganggu kalian? Kalau begitu kami tunggu di luar saja".


"Tentu saja tidak sayang. Aku juga harus mengenalkan mu pada teman baik ku dari Dubai" ucap Samuel.


"Hai Calista", sapa Flamini yang sudah mengenal Calista dengan sangat baik.


"Halo Flamini". Sapa Calista tersenyum ramah.


"Nona, sebaiknya saya pulang saja sekarang", ucap Katty dengan hormat.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Katty, kau masuk saja. Mereka teman baikku", ujar Samuel.


Samuel melingkarkan tangannya pada pinggang Calista. "Steven, perkenalkan Calista istri ku dan Katty asistennya".


Steven tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Calista juga pada Katty. "Senang mengenal mu Calista. Wah pantas saja temanku berbeda sekarang, ternyata ia memiliki istri yang sangat cantik. Aku turut bahagia melihat kalian", ucap Steven dengan tulus.


"Terima Steven, aku juga senang berkenalan dengan mu", jawab Calista tersenyum.


Samuel dan Calista berbincang akrab dengan Flamini dan Steven. Katty tahu diri dan hendak menjauh dari mereka semua dengan berpura-pura sibuk karena ada email masuk.


Tapi Calista tahu, asistennya itu berbohong. Calista malah menyuruh nya duduk dan bergabung bersama-sama. Tentu saja Katty terlihat grogi duduk di antara mereka. Katty hanya bisa terdiam mendengarkan cerita masa lalu maupun karir dan bisnis Samuel dan kedua teman baiknya itu. Sesekali ia mencuri pandang pada Steven yang ternyata berprofesi sebagai seorang dokter penyakit dalam. "Huhh...Dia tampan sekali", batin Katty menahan senyumnya sendiri.


Sedangkan Calista puas membuat asistennya salah tingkah seperti itu diantara kedua teman suaminya. "Rasakan pembalasan ku Katty, karena sudah bersekongkol dengan Samuel waktu itu", batin Calista tertawa melihat ekspresi wajah asistennya saat ini.


"Hm..kalian harus mencoba kue buatan ku dan Katty", ucap Calista di sela-sela perbincangan hangat.


Calista menatap asistennya yang terlihat blank. "Katty...mana brownies nya ayo tata di atas meja".


"Katty...!"


Cepat-cepat Katty menolehkan kepalanya pada bos-nya. "Eh...hm iya Calista...Eh maaf maksud saya nona Calista. Haduh, maafkan saya nona", jawab Katty gugup. Mukanya berubah menjadi merah karena merasa bersalah.


"Kenapa kau jadi salah tingkah begitu duduk di dekat Steven dan Flamini, Katty?"


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2