
Massachusetts, USA
Anabelle baru saja keluar ruang tempat melakukan verifikasi semua berkas yang di bawanya di Harvard university.
Gadis itu tampak bahagia sekali, karena sudah memiliki teman baik teman perempuan maupun pria. Yang berasal dari negara lain juga sama seperti dirinya.
Ana dan ketiga temannya berjalan bersama keluar ruangan, berencana jalan-jalan mengenal kota Massachusetts. Namun netra Ana melihat mobil Flamini yang mengantarkan dirinya tadi sudah berada di parkiran kampus. Dan melihat Sean turun dari mobil mewah tersebut.
Dua teman wanita Anabelle berbisik-bisik. Melihat Sean menghampiri mereka.
"Wow...siapa laki-laki tampan itu? Apa dia akan ketempat kita? atau dia mahasiswa Harvard ya?" ucap salah satu teman Anabelle. Ana menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua temannya itu.
"Maaf nona Ana, tuan Flamini sudah menunggu nona", ujar Sean dengan sopan.
"Tapi aku dan teman-teman ku akan pergi, Sean. Kami akan jalan-jalan berkeliling kota ini".
"Sebaiknya nona ikut saya sekarang, sebelum tuan Flamini turun dari mobil", tegas Sean.
Terlihat Anabelle membuang nafasnya dengan kasar. "Maafkan aku tidak bisa pergi bersama kalian. Lain kali aku pastikan ikut bersama kalian Erika, Tatiana, Wilson", ujar Anabelle menatap ketiga temannya.
Ketiganya tersenyum.
"Tidak apa-apa Ana, kita kan bisa pergi lagi di lain hari", jawab Wilson tersenyum hangat sambil memeluk Anabelle.
Dari dalam mobil sorot tajam flamini menatap laki-laki muda yang memeluk Anabelle. "Apa-apaan. Laki-laki itu lancang sekali memeluk Ana. Sean lamban sekali, bukannya langsung membawa Ana ke mobil. kenapa dia malah berlama-lama di sana", gerutu Flamini kesal.
"Jermain...kalau aku tidak ada, kau antar jemput kemanapun Anabelle pergi. Jangan biarkan ia pergi sendirian. Kau juga cari tahu siapa teman-temannya itu, dimana mereka tinggal. Kau paham?!"
"Iya tuan. Saya mengerti. Tuan tidak perlu kuatir saya akan melakukan yang tuan perintah kan", jawab Jermain.
__ADS_1
Terlihat Ana membuka pintu mobil dan duduk di belakang di samping Flamini. Dengan wajah cemberut, sekilas Ana menatap laki-laki itu yang terlihat fokus dengan Ipad-nya.
"Huh... gara-gara kakak, aku tidak bisa jalan-jalan bersama teman-teman baru ku. Kakak itu pemaksa sekali", gerutu Anabelle kesal.
Flamini menutup Ipad-nya. Menatap Anabelle yang memasang wajah cemberut dan kesal padanya. "Aku harus kembali ke London Ana, teman ku Samuel sedang mendapatkan musibah. Calista istrinya sedang kritis di rumah sakit, jatuh dari tangga. Sekarang sedang operasi".
Anabelle tidak bisa menutupi rasa kagetnya mendengar penjelasan Flamini membuat Anabelle tidak enak dan merasa bersalah.
"Oh my God.. Bagaimana dengan kak Cali dan anak yang di kandung nya? Kasihan sekali kak Calista, semoga ia dan bayinya selamat", lirih Anabelle.
"Calista masih di ruang operasi, semoga keduanya selamat", ucap Flamini sambil melihat arloji dipergelangan tangannya.
"Masih ada waktu satu setengah jam, kita ke apartemen saja dulu Jermain", perintah Flamini.
"Baik tuan", jawab Jermain menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat sampai di apartemen. Ana hendak masuk ke kamarnya, sementara Flamini masih bicara pada Jermain dan Lony di depan pintu masuk.
Ana melepaskan tangannya dari handle pintu dan membiarkan pintu nya terbuka.
"Selama aku tidak ada, jika kau mau pergi kemana pun bersama Jermain. Kalau kau mau pergi dengan teman-teman mu ajak saja mereka ikut mobil mu bersama Jermain", ujar Flamini. "Kau masih baru di kota ini, jadi jangan mudah percaya dengan orang yang baru saja kau kenal", tutur Flamini menatap lekat wajah Anabelle.
"Baik tuan Flamini", jawab Ana singkat tersenyum manis.
Flamini tercekat melihatnya. Tanpa mengalihkan perhatiannya pada wajah Ana..."Aku tidak mau ada hal buruk terjadi pada mu, Ana. Kau aman di sini, kau boleh kemanapun, melakukan apapun di sini. Kau bebas melakukan apa yang kau inginkan, hem. Kau boleh juga tidur di kamar ku di atas jika kau merasa bosan di kamar mu ini. Buatlah diri mu senyaman mungkin", ucap Flamini sambil mendekati gadis itu.
Ana terdiam mendengar semua perkataan Flamini. Sesaat. Kemudian ia mengangguk kan kepalanya. "Terimakasih untuk semuanya, kak. Aku akan baik-baik saja. Di sini juga ramai orang, aku tidak akan kesepian kok", balas Anabelle menatap Flamini yang berdiri di depannya.
Manik keduanya bertemu. Saling bertatapan penuh makna. Seketika Anabelle merasakan debaran di jantung nya. Namun... untuk yang pertama kalinya, ia tak berniat mengalihkan pandangannya dari netra pria tampan itu.
__ADS_1
Entahlah siapa yang memulai, bibir keduanya menyatu. Untuk yang pertama kalinya pula Anabelle membuka mulutnya memberikan izin Flamini menjelajah hingga dalam.
Flamini tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan liar laki-laki itu menyatukan bibirnya.
Tubuh Anabelle seketika merasakan panas dan sesak. Ana berusaha untuk membalas lu*atan Flamini, namun tentu saja ia tidak mampu mengimbangi ciuman Flamini yang begitu menuntut dan sangat lihai.
Tangan Anabelle meremas kedua sisi jas kerja Flamini. Kali ini tidak bisa di pungkiri, Anabelle sangat menikmati ciuman laki-laki itu. Bahkan ia enggan untuk menghentikan nya.
"Ops .. M-aaf kan saya tuan, Tuan harus ke bandara sekarang". Sean berdiri di depan pintu kamar Anabelle yang terbuka. Betapa kagetnya dia melihat bos-nya sedang berciuman mesra dengan Anabelle.
"Lima menit lagi", jawab Flamini dengan suara serak.
Sedangkan Anabelle berdiri dengan tubuh gemetaran tak karuan. Wajahnya terlihat begitu pucat. Flamini membingkai wajah itu. Ia tahu Anabelle malu karena ada yang melihat mereka.
"Sepertinya aku tidak bisa lama-lama meninggalkan mu, Ana. Aku pasti akan merindukanmu", bisik Flamini menatap Anabelle dengan tatapan memuja.
"T-api kakak harus pergi sekarang. Pergilah nanti terlambat, kakak akan menggangu penerbangan orang banyak jika terlambat lagi naik pesawat", cicit Ana sambil mengerjapkan kedua matanya.
Flamini tersenyum mendengarnya. "Kali ini aku tidak akan mengganggu orang lain, aku naik pesawat ku sendiri", jawab Flamini dengan santai. Ia kembali mengecup bibir Anabelle.
"Kak hentikan nanti kakak terlambat. Pergilah. Hati-hatilah. Aku juga akan merindukanmu", ucap Ana tanpa malu lagi mengecup lembut rahang Flamini.
Tentu saja tindakan Ana membuat rasa bahagia Flamini. Bak siraman air di lahan yang tandus, membuat nya segar kembali. Flamini begitu bahagia. Wajah yang selalu terlihat dingin dan kaku itu tak henti melukiskan senyuman.
Flamini memeluk erat pinggang Anabelle ketika mengantar nya ke depan pintu. Lony dan Sean yang melihat tuan nya seperti itu tersenyum senang.
Bahkan saat hendak pergi pun, Flamini masih sempat-sempatnya mencuri ciuman Anabelle. Ana tertawa dan menggelengkan kepalanya sambil memukul pundak Flamini.
...***...
__ADS_1
Next Calista ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di bab ini.