
"Bukankah kau yang menabrak ku di rumah sakit waktu itu? Kenapa kau ada di ruangan ku sekarang?"
Anabelle mengalihkan perhatiannya pada laki-laki di depan nya yang menyilangkan tangan di depan dada. Netra bening itu menatap lekat Flamini. "Oh my God...kau paman itu?"
Anabelle sontak berdiri di hadapan Flamini. "Apa paman melihat buku sketsa ku yang terjatuh saat kita bertabrakan? Karena buku sketsa ku hilang, makanya aku harus mengikuti program magang. Semoga saja paman melihat buku itu", ucap Anabelle dengan polosnya. Ia sangat berharap bisa menemukan buku sketsa yang sudah dikerjakan nya selama ini. Bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Flamini.
Netra berwarna abu-abu milik Flamini menatap Anabelle, laki-laki itu mengusap dagunya. Sesungguhnya ia lucu melihat tingkah gadis dihadapannya.
Ceklek..
Flamini menatap asistennya yang masuk keruangan nya. Sean mengerti apa yang diinginkan atasannya, yaitu meminta penjelasan.
"Maaf tuan Flamini, nona Anabelle ini mewakili nona Verline yang tidak bisa datang karena orang tuanya sedang kritis di rumah sakit", ujar Sean menjelaskan pada bos-nya siapa Anabelle.
Anabelle mencerna semua perkataan Sean.
"Apa tuan, ingin membahas pekerjaan di ruang meeting?"
"Tidak perlu. Di sini saja. Aku akan mengganti pakaian ku sekarang".
Flamini membalikkan badannya hendak masuk ke private room.
"Hm...maaf tuan tapi saya akan membahas pekerjaan dengan tuan Cazandro pemilik perusahaan ini, bukan dengan anaknya sesuai instruksi atasan saya nona Verline", ujar Anabelle dengan tegas dan lugas.
"Kau akan membahas pekerjaan dengan tuan Cazandro setelah ini nona Anabelle", jawab Flamini melangkahkan kakinya masuk ke private room.
Sementara Sean hanya bisa menatap Anabelle miris. Ia sangat tahu bagaimana bos-nya itu. Sangat menyulitkan. Apalagi jika menyangkut pekerjaan nya. Sementara Anabelle terlihat sangat lugu dan polos. Tentu saja Sean merasa kasihan pada gadis itu.
__ADS_1
Tapi Sean juga merasa ada yang aneh dengan atasannya, karena ia langsung mau membahas kerja sama walaupun bukan dengan pemilik perusahaan yang notabene adalah Verline atasan Anabelle.
*
Dua puluh menit telah berlalu...
Flamini keluar private room, ia sudah dengan pakaian kerja. Sorot matanya menatap Anabelle yang sedang berbincang-bincang dengan Sean membahas beberapa poin kesepakatan yang ada di lampiran kertas.
Flamini langsung duduk di kursi kebesarannya berhadapan langsung dengan Anabelle. "Apa yang akan kita bahas sekarang?", tanyanya pada Anabelle.
Anabelle melebarkan kedua matanya menatap Flamini. Jelas berbeda dengan yang ia lihat sebelumnya. Sekarang pria dihadapannya terlihat berwibawa dan kharismatik.
"Maaf tuan...saya tidak akan membahas tentang pekerjaan dengan siapapun kecuali tuan Cazandro pemilik sah perusahaan ini", tegas Anabelle.
"Huhh..
Flamini membuang nafasnya dengan kasar. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. tangannya mengusap dagu. Sementara kedua netra nya menatap intens Anabelle yang tampak sangat cantik dengan stelan blazer berwarna off white, dengan rambut hitam bergelombang nya di biarkan terurai. Wajah itu hanya menggunakan make-up tipis saja, menambah kecantikan alami Anabelle. Siapa pun yang melihat tidak akan bosan memandangnya.
Terdengar deheman dari mulut Flamini.
"Nona Anabelle... perkenalkan tuan Flamini Cazandro, pemilik Chupón Engineering", ujar Sean memperkenalkan siapa Flamini sebenarnya.
Ucapan Sean tentu saja membuat Ana kaget. Gadis itu melototkan kedua matanya. "Hm...jadi tuan Cazandro itu adalah paman ini?", ujar Anabelle tak percaya. "Tenang saja, saya tidak akan menceritakan apapun pada istri paman yang saya lihat tadi. Rahasia paman aman bersama saya", ucap Ana dengan santainya.
Terdengar hembusan nafas Flamini.
"Nona Anabelle, harap nona menjaga sikap anda". Sean mengingatkan Anabelle. Namun gadis itu biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Sampaikan pada Verline, aku meminta ia langsung yang menghandle semuanya, Sean. Aku tidak mau pekerjaan ku terhambat karena yang mengerjakannya tidak profesional", tegas Flamini. Laki-laki itu berdiri dari kursinya hendak pergi.
Anabelle yang menyadari ia telah melakukan kesalahan, cepat-cepat menghalangi pintu. "M-Maaf kan saya paman... Hm maksud saya tuan", ucap Ana melebarkan kedua mata indahnya dengan wajah menyesal.
"Saya mohon, jangan hubungi nona Verline karena saya gagal mendapatkan proyek dari klien penting seperti anda, tuan Cazandro".
Terlihat Ana menyodorkan tiga sketsa di hadapan Flamini. "Sesuai permintaan tuan, saya sudah membuat sketsa ruangan berserta isinya yang akan anda bangun, tuan".
Dengan wajah terlihat dingin, Flamini melihat sekilas sketsa tersebut. "Aku sudah tidak berminat bekerja sama dengan mu nona Anabelle!"
Ana menatap Flamini dengan mata sedikit melotot dan mulut terbuka. "Maafkan saya tuan Cazandro. T-api saya sangat membutuhkan kerjasama ini, tuan".
"Itu bukan urusan saya, kau bisa mencari pekerjaan di tempat lain!". Kata-kata itu terdengar begitu ketus dan tegas. Seketika membuat tubuh Ana gemetaran di tempatnya berdiri.
Flamini membuka handle pintu tanpa menggubris Anabelle yang berdiri menghalangi nya. Flamini keluar ruangan.
Namun...
"Tunggu tuan.."
Anabelle menahan lengan Flamini. "Apakah tuan melihat buku sketsa saya saat kita bertabrakan di rumah sakit? Saya sangat membutuhkan buku itu, tuan".
Sontak pertanyaan Anabelle membuat Sean yang hendak mencegah tindakan Anabelle yang di nilainya telah mengganggu privasi bos-nya itu terhenti.
"Silahkan ambil di rumah ku malam ini!", jawab Flamini sambil melanjutkan langkahnya menuju lift khusus.
Anabelle terdiam, begitu juga Sean mendengar dengan jelas jawaban Flamini.
__ADS_1
...***...
To be continue