
"Apa kau sudah mendapatkan semua informasi yang aku minta, Katty?"
"Sudah satu minggu aku dan suamiku pulang dari Madrid. Kau belum juga mendapatkan informasi yang lengkap", ucap Calista sambil memijat keningnya. Hingga sore pusing kepala nya tak kunjung reda. Bahkan sekarang tubuhnya semakin tidak enak.
Wajah Calista begitu pucat. Ia memilih pulang cepat dari kantor dan memilih pulang ke mansion nya, karena ingin berbicara secara private dengan Katty. Sementara jika berbicara di apartemen Samuel tentu saja Calista tidak bisa bebas.
Saat ini Calista menyandarkan punggungnya pada ujung tempat tidur.
Katty menyadari bos-nya itu terlihat sedang tidak baik. "Nona...apakah nona sedang sakit? wajah nona sangat pucat"
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkuatirkan keadaan ku. Sekarang katakan apa kau sudah mendapatkan semua informasi yang aku minta?"
"Iya nona. Semua yang anda minta sudah saya temukan. Nona bisa melihatnya langsung di berkas ini", jawab Katty memberikan amplop coklat pada Calista.
Calista mengambil amplop itu dari tangan Katty. Terlihat Calista memejamkan matanya sesaat sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Calista membuka amplop dan mengeluarkan kertas-kertas di dalamnya. Dengan teliti Calista membaca semua nama-nama korban yang terlibat kecelakaan beruntun dengannya empat tahun silam. Tertulis jelas nama lengkap korban dan posisi mobil pada saat kejadian.
Seketika tangan Calista gemetaran. "A-amber Edward?", gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar.
"Iya nona. Amber Edward satu-satunya korban meninggal dunia. Amber mengendarai mobil tepat di belakang nona". Katty memberikan penjelasan.
Tentu saja perkataan Katty membuat Calista berdiri dari tempat tidurnya. Dengan tubuh sedikit sempoyongan ia berpegangan pada ujung tempat tidur nya. "A-mber wanita i-tu? Y-ang hendak aku bantu saat itu?", lirih Calista dengan suara tercekat dan gemetaran. Ia bicara pada dirinya sendiri. Tubuh Calista mendadak limbung seakan tidak memiliki kekuatan untuk berdiri lagi. Hingga ia kembali terduduk di tempat tidur. "T-idak mungkin..."
__ADS_1
"Nona, anda juga harus membaca berkas di bagian belakang. Ternyata orang yang mendonorkan jantungnya untuk anda adalah orang yang bernama Amber Edward itu. Dihari yang sama ia meninggal, nona Calista menjalani operasi jantung nona di rumah sakit yang sama..."
"Maksud mu...tunangan ku yang sudah mendonorkan jantungnya pada wanita yang menyebabkan ia kehilangan nyawanya?!"
Seketika pintu kamar Calista terbuka. Samuel sudah berada di kamar itu dengan raut wajah murka. Penampilan nya begitu berantakan.
"T-uan Samuel..."
Katty melototkan kedua matanya ketika melihat Samuel masuk ke dalam kamar.
"Sammy..."
"Jangan pernah memanggil ku seperti itu. Ternyata kau seorang pembunuh!"
Katty melototkan kedua matanya, melihat Samuel begitu marah pada atasannya itu.
Sementara Calista tidak berkata-kata apa-apa. Hanya buliran-buliran bening yang keluar membasahi wajahnya dengan sendirinya.
"Sam...maafkan aku", lirih Calista dengan terisak.
Samuel mendorong tubuh yang terlihat sangat lemah itu kedinding kamar dan mencengkram kuat leher Calista. Tindakan Samuel itu membuat Calista menatap pasrah suaminya dengan linangan air mata. Mata indah yang sekarang terlihat sayu itu seketika memerah.
"Tuan...jangan sakiti nona Calista. Lepaskan cengkraman tangan anda tuan Samuel. Tuan menyakiti istri tuan sendiri", ujar Katty panik.
__ADS_1
"Kau jangan ikut campur, brengsek!"
"S-am..."
Samuel mendengar suara itu begitu lemah. Samuel melepaskan cengkraman tangannya di leher Calista.
Samuel mengusap wajah nya dengan kasar. Laki-laki itu tidak bisa menutupi kemarahan nya pada istrinya.
Calista memegangi lehernya yang terasa sakit. Namun kepedihan hatinya lah yang terasa sangat sakit. Linangan air mata semakin deras membasahi pipinya. Katty memeluk tubuh Calista yang tampak begitu lemah, terasa begitu dingin dan gemetaran.
"Aku sangat membenci mu Calista Naomi Justin! Aku mengutuk pertemuan ku dengan mu di malam itu! Apa pertemuan itu sudah kau atur, hah? Bodohnya aku masuk ke permainan mu ini!", hardik Samuel dengan suara menggelegar.
Calista menggelengkan kepalanya. "Tidak Sam. Aku tidak melakukan seperti yang kau tuduhkan. Aku juga baru tahu siapa yang mendonorkan jantung untuk ku. Aku tidak tahu jantung ini milik Amber tunangan mu, Sam. Bagaimana caranya aku mengembalikan jantung ini pada mu, agar kau percaya padaku", Isak Calista menatap suaminya yang dalam sekejap membenci dirinya. Bahkan tidak ada sedikitpun cinta dan sayang di mata coklat itu. Yang ada hanya kebencian dan kemarahan.
"Kau wanita munafik dan pembohong yang tidak pantas mendapatkan jantung Amber. Setiap detak jantung itu tidak pantas untuk kau nikmati!", ketus Samuel sambil keluar kamar Calista.
Seketika tubuh Calista terduduk di lantai kamarnya. "Sam...maafkan aku. Dengarkan penjelasan ku", ucapnya pelan sambil mengusap perutnya yang tiba-tiba mual. Wajah Calista basah dengan linangan air mata.
Namun...Tidak ada gunanya lagi Samuel sudah pergi.
...***...
To be continue
__ADS_1