
Ceklek..
Steven yang sedang berbicara dengan pasien nya menatap kearah pintu yang terbuka.
"Kau harus memeriksa ku sekarang Steve, akhir-akhir ini kepala ku sering pusing", ucap Flamini yang menerobos masuk kedalam ruangan Steven yang sedang praktek menangani pasien nya.
Steven tidak menggubris perkataan temannya Flamini. Ia tampak fokus berbicara dengan dua orang wanita muda yang terlihat baik-baik saja. Malah keduanya terlihat genit ketika berbicara pada Steven. Saat melihat Flamini masuk keruangan, kedua pasien Steven itu malah terlihat berbisik-bisik menatap Flamini yang berdiri di balik pintu.
"Kalian berdua tidak apa-apa. Cukup minum vitamin saja", ucap Steven.
"Hm...baik dokter tampan. Besok kami akan kontrol lagi dengan dokter", ucap salah satu wanita tersebut dengan senyum menggoda. Sementara yang satunya lagi menatap Flamini.
Flamini menggelengkan kepalanya setelah kedua pasien tersebut pergi. "Ckckck... Bisa-bisanya pura-pura sakit seperti itu demi menemui mu. Ingat Steve beberapa hari lagi kau akan menikah".
"Siapa juga yang tertarik dengan wanita macam itu. Calon istri ku yang terbaik untuk ku", jawab Steven cepat.
"Kenapa kau sering sekali merasa pusing akhir-akhir ini, Flami? Kau harus merubah gaya hidup mu itu. Kurangi bergadang dan minum kopi. Lihatlah tekanan darah mu naik lagi", ujar Steven kembali memeriksa ulang Flamini.
"Sebaiknya kau general check up. Kondisi tubuh mu sebaiknya di periksa menyeluruh. Kau terlalu sering sakit kepala, bisa berbahaya".
Steven memeriksa teman baiknya itu dengan fokus. Istirahat lah dulu beberapa hari, kurangi rutinitas mu Flami".
Huhh.. terdengar hembusan nafas Flamini.
Flamini duduk di ranjang pasien, mengancingkan kembali kemejanya. Kemudian duduk di kursi dihadapan Steven.
"Apa di luar masih ada pasien ku, Lisbet?"
"Tidak ada lagi, dok".
"Kau boleh keluar sekarang", ujar Steven pada perawat yang bekerja bersama nya.
"Baik dok", jawab Lisbet membuka pintu meninggalkan Steven dan Flamini.
__ADS_1
"Kau harus menjaga kesehatan mu, Flami. Pola hidup mu itu berdampak tidak baik buat mu kedepannya nanti. Kau terlalu sering bergadang dan minum kafein".
"Ya mau bagaimana lagi, malam hari aku sering ke club milik ku. Sementara kopi adalah minuman kesukaan ku", jawab Flamini.
"Kan ada Sean dan orang-orang lainnya yang bisa membantu mu, apa kau harus selalu turun tangan di bisnis mu itu. Kesehatan yang paling utama teman. Kalau sudah sakit kau justru tidak bisa bekerja lagi".
Flamini terdiam mendengar perkataan Steven.
"Iya kau benar. Rutinitas ku ini memang terlalu padat, siang hari aku mengendalikan perusahaan peninggalan orang tua ku, malamnya, waktu lebih banyak aku habiskan di club milik ku", ujar Flamini.
Steven menggelengkan kepalanya mendengar penuturan temannya itu.
"Lantas kapan waktu mu istirahat? fisik mu terlalu diforsir. Pola hidup mu tidak sehat sekali. Cari lah pendamping Flami, hidup mu pasti akan lebih baik. Jika kau memiliki pasangan ada yang akan selalu mengingatkan mu untuk hal kecil apapun. Bodoh sekali kau masih mengingat Samantha. Ia sudah meninggalkan mu dan bahagia dengan laki-laki lain. Sementara kau malah menjerumuskan dirimu sendiri. Seharusnya kau buktikan pada bekas tunangan mu itu bahwa kau jauh lebih bahagia tanpa dirinya. Tunjukkan kau memiliki keluarga yang bahagia", ucap Steven memberikan nasihat pada temannya itu.
Flamini terdiam tak bergeming mencerna semua perkataan Steven. Steven jarang sekali bicara panjang lebar seperti itu, biasanya hanya sebagai guyonan saja. Namun kali ini ucapan Steven begitu mengena di hati Flamini.
Flamini memijat keningnya sendiri.
"Akhir-akhir ini aku merasa kesepian Steve. Dengan sibuk bekerja aku pikir bisa melupakan semua masalah ku".
"Ada apa Flami, apa kau ada masalah?"
Huhh ...
Flamini membuang nafasnya dengan kasar. "Sepertinya aku sedang jatuh cinta. Gadis itu desain interior yang aku sewa untuk mengerjakan private room di kantor ku. Malam kemarin aku tidak bisa lagi menahan diri ku, aku menciumnya dan pagi ini aku mendapat kabar ia resign dari perusahaan tempat ia bekerja".
"Kau cari gadis itu, minta maaf dan utarakan perasaan mu".
"Aku sudah mencari dirumahnya, tapi rumah itu kosong. Aku menunggu kabar dari Sean yang sedang mencari informasi tentangnya. Makanya kepala ku pusing Sekarang dan meminta mu memeriksa ku. Semuanya karena gadis itu Steve".
Ceklek..
Flamini dan Steven menolehkan kepalanya menatap pintu yang di buka.
__ADS_1
Seketika wajah Steven tersenyum bahagia melihat Katty calon istrinya yang datang.
"Apa aku mengganggu kalian? Tenang saja aku tidak akan lama, hanya mengantarkan makanan kesukaan calon suami ku saja", ucap Katty melangkah masuk dan menaruh paper bag di atas meja. Kemudian Katty mengecup lembut wajah Steven yang duduk di kursinya.
"Wah kalian ini sangat romantis sekali, membuat ku iri saja".
"Makanya kau segera menikah Flami", jawab Steven cepat sambil memeluk pinggang Katty yang berdiri di samping tempat duduknya.
"Iya yah...aku akan segera menikah jika menemukan gadis itu. Dengan catatan kalau ia bersedia memaafkan aku", balas Flamini dengan wajah tak bersemangat.
"Aku akan selalu mendukung mu teman. Aku tahu kau bastard tapi kau layak untuk bahagia teman".
"Gadis?".
"Flamini sedang patah hati sayang, gadis itu pergi meninggalkannya setelah ia mencuri ciuman", jawab Steven menahan tawanya.
Drt
Drt
Handphone milik Flamini yang berada di atas meja berbunyi. Laki-laki itu segera mengangkatnya. "Iya aku kembali kekantor sekarang". Suara Flamini terdengar tegas.
"Steve aku harus kembali ke kantor ku sekarang. Ada yang ingin Sean sampaikan pada ku", ujar Flamini beranjak dari tempat duduknya.
"Iya. Jangan lupa minum obat mu teman, aku tidak mau kau sakit dan tidak bisa menghadiri pernikahan kami", jawab Steven.
"Tenang saja, aku pasti hadir ke pernikahan kalian".
"Bye Katty..!"
"Semoga gadis mu segera kembali Flami", balas Katty tersenyum ramah pada Flamini.
"Yah itu yang aku mau. Doakan aku seberuntung kalian", ujar Flamini sebelum menutup pintu ruang praktek Steven.
__ADS_1
...***...
To be continue