PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
MADRID


__ADS_3

Madrid, Spanyol


Samuel menggenggam erat jemari tangan Calista saat turun dari pesawat. Keduanya langsung menunjuk mobil Samuel. Nampak dua orang laki-laki yang sudah menunggu kedatangan keduanya.


"Selamat datang kembali tuan Samuel", ucap salah satu pria yang memakai pakaian casual dan nampak masih muda. Sementara yang satunya lagi sudah jelas ia sebagai sopir Samuel.


"Dean, Martin....kalian harus berkenalan dengan istriku", ucap Samuel.


"Dean asisten ku sedangkan Martin sopir pribadi ku". Samuel memeluk pinggang Calista sambil memperkenalkan dua orang kepercayaannya.


Dengan ramah Calista menyapa keduanya.


"Bagaimana persiapan pameran lukisan ku besok?", tanya Samuel pada Dean asisten nya setelah berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.


"Persiapan nya sudah 90% tuan. Tim hanya menunggu pendapat tuan, jika ada yang masih harus di benahi", jawab Dean.


"Kita ke galeri sekarang", ucap Samuel pada Dean dan Martin.


"Baik tuan".


Samuel menatap Calista yang terlihat menikmati pemandangan kota Madrid di sore hari. Ia tersenyum memperhatikan Calista sepertinya sangat mengagumi bangunan-bangunan kota yang bernilai seni tinggi kota Madrid.


Samuel menekan tombol sekat pembatas, agar memiliki privasi. Untuk sampai ke galeri milik nya lumayan memakan waktu. Sore hari jalanan menuju tempat itu akan macet. Apalagi jika weekend begini.

__ADS_1


"Apa yang kau lihat, hem?", tanya Samuel sambil memeluk pinggang Calista.


"Aku kagum dengan bangunan kota ini. Sangat bernilai seni tinggi".


"Aku yakin kau juga akan menyukai galeri ku. Sekarang kita menuju ke sana. Jika kau lelah kau bisa beristirahat di sana, aku harus memeriksa persiapan pameran besok. Tidak apa-apa kan kita ke mampir ke galeri dulu?"


Calista tersenyum. "Tentu saja aku mau. Justru aku bosan jika harus berada di kamar terus. Aku ingin melihat hasil lukisan mu. Kalau kau sudah sering melakukan pameran, tandanya kau sudah sangat hebat. Apalagi kau sering melakukan pameran di luar negeri, pasti lukisan mu benar-benar fantastis", puji Calista sambil mengusap lembut wajah Samuel yang bersandar di bahunya.


"Kau akan segera melihat nya. Dan kau boleh memberikan penilaian mu mulai dari angka sembilan atau sepuluh", ujar Samuel sambil mencium leher Calista. Ia sengaja menggoda Calista dengan berkata seperti itu.


"Tidak bisa begitu, Sammy. Itu namanya pemaksaan. Kau curang. Bagai mana kalau aku memberikan nilai enam atau tujuh", jawab Calista tertawa.


*


Di bagian atas terdapat logo dengan ukiran bertuliskan SGA. Gallery Tanpa di jelaskan pun Calista sudah tahu itu singkatan nama Samuel.


"Calista, kenapa kau berdiri saja di sana. Ayo masuk", ujar Samuel membuyarkan lamunan gadis itu.


Calista menatap Samuel yang sudah berdiri di depan pintu masuk. "Iya Sam", jawab Calista dengan langkah cepat.


Saat di dalam galeri, Kedua mata Calista langsung di manjakan dengan puluhan lukisan aliran naturalisme yang begitu menakjubkan.


Calista langsung mendekati satu persatu lukisan yang terpajang di dinding sesuai ukuran nya. Lukisan berukuran besar di letakan pada dinding yang sama. Sementara yang berukuran kecil di pajang menjadi satu tempat. Sebagian lagi masih di tutupi tirai berwarna putih.

__ADS_1


Sedangkan Samuel langsung berbincang dengan para pekerja. Samuel meminta beberapa lukisan di tukar posisinya.


*


Sudah sekitar satu jam Calista menatap satu persatu hasil karya Samuel yang benar-benar mengagumkan. Hingga ia tersadar ketika pelukan hangat dirasakannya di perutnya.


"Bagaimana menurut mu. Apa kau sudah menentukan nilai yang akan kau berikan pada lukisan-lukisan ku, hem? Semua lukisan ini aku kerjakan selama setahun belakangan. Tapi ada beberapa juga koleksi lama ku. Dan besok akan di perlihatkan untuk pertama kalinya pada orang-orang. Tentu saja kau adalah pengunjung pertama yang melihat lukisan-lukisan ini"


Calista tersenyum mendengar pertanyaan Samuel. "Kalau begitu suatu kehormatan bagiku. HM...Aku akui lukisan mu sangat bernilai. Aku akan memberikan nilai sepuluh kalau kau mau mengajariku cara melukis seperti ini", bisik Calista mendekatkan bibirnya pada telinga Samuel.


Samuel tersenyum penuh makna me dengan ucapan Calista.


"Tapi tidak gratis. Tentu ada harganya".


"Berapa harga yang harus aku bayar, tuan Samuel?"


"Tentu saja aku tidak butuh bayaran uang mu", jawab Samuel.


"Setelah pembukaan pameran lukisan ku besok, aku akan memberi tahu mu apa syarat nya", jawab Samuel sambil mendaratkan ciuman dileher istrinya.


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2