
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui kaca jendela di kamar yang memiliki interior sangat mewah bernuansa hitam, coklat dan abu-abu itu. Jelas sekali nuansa manly tersaji di kamar beraroma musk tersebut.
Samuel masuk ke kamar sambil membawakan nampan berisi sarapan yang ia buat beberapa saat yang lalu. Samuel membawa nampan ke atas nakas. Ia tersenyum melihat Calista masih pulas tertidur meskipun sinar matahari sudah menyinari bumi dengan cahaya.
Samuel memindahkan anak-anak rambut Calista kebelakang telinganya. Kemudian ia menundukkan wajahnya mengecup kening istrinya.
Merasakan ada yang menyentuhnya, perlahan kelopak mata Calista bergerak dan terbuka. Saat membuka mata, ia di sambut wajah tampan Samuel.
Calista menarik selimut dan menutup separuh wajahnya. Tingkah nya sangat menggemaskan.
"Kenapa kau seperti itu, hem?"
"Aku harus ke kamar mandi sekarang. Pasti wajah ku berantakan sekali kan. Kau tidak boleh melihat istri mu tidak menarik begini", seloroh Calista bangkit dari tempat tidur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut berlari ke kamar mandi.
"Apa yang mau kau tutupi dari ku, Cali...aku sudah melihat semuanya". Samuel tertawa melihat tingkah Calista seperti itu.
Samuel seketika terdiam merasakan dirinya tertawa lepas. "Apa aku tertawa lepas? Samuel duduk di tepi tempat tidur memangku tangan di pahanya sendiri. "Aku sudah lama sekali tidak sebahagia ini. Apa semuanya karena Calista? Istri ku?"
Samuel mengusap dadanya. Merasakan debaran kencang di sana. "Ada apa dengan ku? Apa semuda ini?", gumam Samuel sambil menatap lukisan Amber yang seakan membalas tatapannya.
__ADS_1
"Tidak. Kau tidak akan tergantikan oleh siapa pun. Aku hanya menyukai Calista, bukan mencintainya. Ia pun sama seperti ku. Untuk saat ini kami hanya dua orang kesepian yang saling membutuhkan kehangatan. Itu saja tidak lebih", batin Samuel.
Beberapa saat kemudian, Calista sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia hanya menggunakan bathrobe dan menghampiri Samuel. Sementara rambutnya di gelung secara acak di atas kepala. Calista sangat cantik dan terlihat seperti gadis belia jika polos seperti itu.
Samuel menatap nya dengan intens dan penuh arti. Samuel menarik pinggang Calista agar duduk dipangkuan nya. "Kau sangat cantik sekali seperti ini. Aku menyukainya". Tanpa aba-aba Samuel me*umat bibir ranum Calista yang sejak tadi sudah terbuka. Samuel menekan tengkuk Calista agar ia lebih dalam menyatukan bibirnya pada bibir Calista.
Terdengar desisan dari mulut Calista. Seketika tubuhnya meremang di serang seperti itu. "S-ammy.."
"Ah, Cali kau membuatku ingin memasuki mu lagi", bisik Samuel dengan suara serak. Tiba-tiba hasrat nya kembali mengebu-gebu.
"Aku lapar..."
Terdengar suara lirih Calista yang menyadarkan Samuel. Samuel lupa ia telah membuat sarapan untuk mereka makan pagi ini.
Calista menolehkan kepalanya menatap nampan yang sudah berisi menu sarapan dan susu almond.
Samuel mengangkat sedikit tubuh Calista, memindahkan nya ke tempat tidur kemudian ia mengambil piring berisi makanan dan memberikan nya pada Calista.
"Sammy...apa kau yang membuat nya?", tanya Calista tak percaya menatap isi piringnya. Porsi besar sarapan pagi terdiri omlet, sosis dan rebusan asparagus serta saus.
__ADS_1
"Tentu saja. Siapa lagi. Bangers dan mash hidangan tradisional yang mudah dibuat. Kentang tumbuk, omlet dengan saus barbeque serta rebusan asparagus akan segera mengembalikan tenaga mu", ucap Samuel. "Makan lah".
Calista menganggukkan kepalanya. Dan menyuapkan makanan kemulutnya. "Sammy...ini sangat enak sekali. Ternyata kau serba bisa ya. Hm... selanjutnya kejutan apa lagi yang akan kau tunjukkan pada istri mu?".
Samuel tersenyum mendengar perkataan Calista. "Tentu saja ada lagi".
Samuel membuka lemari nakas. Dan memberikan satu buah undangan pada Calista.
Calista melebarkan kedua matanya membaca tulisan di undangan itu. "Sam...Kau mengajak ku melihat pameran lukisan mu di Madrid?", ucap Calista seakan tidak percaya.
"Iya. Aku mengundang mu secara khusus ke pameran lukisan ku. Sekalian bulan madu kita", ucap Samuel tanpa ragu.
Sontak saja ucapan Samuel membuat perasaan Calista menghangat. Wanita manapun pasti menginginkan di perlakukan manis dan istimewa seperti itu. Tapi hubungan mereka berbeda dari pasangan pada umumnya.
Tiba-tiba buliran-buliran bening menetes di wajah Calista. Samuel melihat nya. "Kenapa kau menangis, Cali?"
Saat bersama Calista, Samuel acap kali menunjukkan perhatiannya pada Calista. Bahkan Samuel bertindak layaknya pria yang sangat mencintai pasangannya. Sungguh Calista takut jika ia memiliki perasaan mendalam pada laki-laki itu dalam kurun waktu yang singkat. Calista bisa mengerti jika lama-kelamaan ia jatuh cinta pada Samuel tapi tidak secepat ini. Ia takut secepat itu pula perasaannya akan hancur dan sakit.
"Aku tidak bisa menerima nya Sam. Aku takut jika aku benar-benar jatuh cinta pada mu secepat ini. Sementara kau belum bisa melupakan Amber. Aku takut...aku takut tidak bisa mengobati luka mu..Dan aku terluka".
__ADS_1
...***...
To be continue