PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
VISUAL


__ADS_3







Anabelle memberikan instruksi pada timnya yang sedang mengukur dinding salah satu ruangan yang berukuran paling luas di lantai lima puluh lima tower gedung pencakar langit tersebut.


Anabelle terlihat segar. Wajahnya cantik seperti biasa dengan make-up tipis dan lipstik soft. Sementara rambut hitam bergelombang di ikat, menampakkan leher jenjang gadis itu. Setelah blazer biru dengan dalaman putih sangat sosok dengan warna kulit gadis itu,.


Anabelle tidak menyadari pemilik gedung sedang memperhatikannya sedari tadi dari kejauhan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kerjanya, manik abu-abu itu tak berkedip menatap Anabelle yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Gadis itu keluar ruangan. Ia berdiri di balik pilar. Ana mengetik sesuatu di Ipad-nya. Sehingga tidak menyadari empat orang mengangkat kayu pallet berukuran besar di belakangnya. Saking lebarnya kayu pallet tersebut pekerja tak melihat Ana yang berdiri di balik pilar.


Flamini yang sedang menerima telpon, spontan berlari mendorong tubuh Anabelle agar tidak tertimpa pallet.


Brakkk..


Keduanya jatuh di lantai yang belum sepenuhnya selesai. Kerikil dan potongan kayu masih berserakan di sana. Ana memejamkan kedua matanya ia tidak merasakan sakit apapun karena ada yang melindungi kepalanya ketika terdorong kelantai kotor itu. Sekilas Ana menatap empat orang pekerja yang membawa kayu pallet berukuran besar di sampingnya. Wajah keempatnya kaget.


Seketika Ana menatap Flamini yang terlentang di lantai. Sementara tangan kanannya menahan bagian belakang kepala Ana. "Tuan Cazandro.."


Cepat-cepat Sean membantu Ana dan Flamini berdiri.

__ADS_1


Flamini menghunuskan tatapan tajam pada empat orang pekerja yang dianggapnya lalai dan bisa membahayakan orang lain.


"Kalian itu bodoh atau apa hah, bagaimana kalau kayu pallet sebesar itu mengenai Ana?", teriak nya dengan kesal.


Empat orang pekerja konstruksi bangunan terdiam sambil menundukkan kepala. "Maafkan anak buah saya tuan Flamini, mereka tidak melihat ada orang berdiri di balik tiang", ucap kontraktor yang mengerjakan pembangunan dilantai tersebut.


Ana menatap jas kerja Flamini sobek dan nampak sobekan di siku tangan nya itu berdarah. "Tuan...anda terluka. Saya akan mengobati luka tuan", ucap Ana panik menggenggam tangan Flamini masuk keruangan yang tadi tempat ia mengukur. Melihat Anabelle dan pemilik perusahaan masuk keruangan tersebut tim interior yang datang bersama Anabelle segera menghentikan pekerjaan mereka dan keluar ruangan.


Ana segera mengambil kotak P3K yang selalu tim nya bawa saat bekerja dimana pun. Sementara Flamini duduk di kursi yang ada di ruangan itu.


Ana duduk di atas kotak-kotak keramik yang belum terpasang di bagian luar. Sedangkan ruangan tempat mereka sudah selesai pengerjaan nya. Bahkan pintu berwarna coklat tua sudah bisa di fungsikan.


"Aku tidak apa-apa", ujar Flamini ketika Ana hendak membantu Flamini membuka jas kerjanya.


"Tapi kau terluka dan berdarah", jawab Ana tidak perduli dengan perkataan Flamini. Gadis itu tetap membuka jas kerja Flamini. Kemudian menaikkan lengan kemeja hingga ke atas.


"Luka lecet, tapi cukup besar", ucap Anabelle sambil membersihkan luka itu dengan kain kasa yang sudah dibasahi dengan cairan alkohol. Sekilas Anabelle menatap Flamini. Laki-laki itu nampak biasa-biasa saja tak meringis sedikitpun. Ana tahu, luka seperti itu ketika dibersihkan pasti sangat perih rasanya. Namun Flamini tak bereaksi sedikit pun.


"Luka sedikit seperti ini tidak akan menyakiti ku, kecuali luka nya besar dan menganga", jawab Flamini.


Sekilas Anabelle menatap Flamini. "Seperti luka apa?"


"Luka hati karena putus cinta atau luka sayatan pisau. Pasti rasanya sangat sakit sekali", jawab Flamini menatap lekat wajah Anabelle yang fokus mengobati luka di sikunya.


Ana tertawa mendengar perkataan Flamini. Ia menyadari saat ini Flamini sedang menatapnya. Tapi Ana pura-pura tidak tahu.


"Hm... selesai!", ucap Ana hendak berdiri namun lengan nya di tahan Flamini.


"Aku ingin kau mencatat semua yang aku inginkan untuk ruangan ini Ana. Kelak ruangan ini menjadi kamar tidur ku", ucapnya sambil menatap lekat wajah Anabelle yang juga sedang menatap nya.

__ADS_1


Anabelle menganggukkan kepalanya. Ia mulai mengetik di iPad miliknya. "Warna apa yang tuan inginkan?"


"Menurut mu, warna apa yang cocok untuk private room ini. Aku ingin kamar tidur nyaman dan bernuansa romantis. Yang membuatku betah berlama-lama di dalamnya", ucap Flamini menatap Anabelle yang sedang mengetik permintaan Flamini.


Bagaimana dengan tiga warna ini menurut mu?". Anabelle memperlihatkan tiga contoh kamar tidur dari Ipad-nya.


"Warna-warna itu tidak ada jualannya di luaran sana. Tim saya akan melakukan tehnik pencampuran cat untuk mendapatkan warna-warna tersebut. Warna monokrom dipadukan warna gold adalah yang terbaik menurut saya untuk mendapatkan suasana romantis. Tuan dan kekasih tuan yang bernama Nancy pasti betah berlama-lama menghabiskan waktu berdua di kamar ini nantinya", ucap Anabelle sambil memperlihatkan contoh kamar yang menggunakan cat warna yang dipilihnya.


Flamini melihat contoh kamar yang diperlihatkan Anabelle dari Ipad-nya.


"Atau tuan bisa memilih perpaduan warna coklat tua, maroon dan putih. Jika mau yang lebih soft bisa menggunakan warna krem di padukan warna abu-abu". Ana menatap Flamini yang masih duduk di hadapannya. Jarak mereka berdua begitu dekat.


"Menurut mu warna apa yang paling bagus, Ana?", tanya Flamini menatap intens Anabelle.


"Saya masih memilih warna monokrom yang dipadukan dengan warna gold. Selain romantis warna itu sangat elegan. Tapi...saya tidak tahu selera nona Nancy tuan. Bagaimana kalau tuan bicarakan saja dulu dengan kekasih tuan?", ucap Ana.


Manik bening itu beradu dengan tatapan pasat Flamini yang sulit untuk diartikan. Ana cepat-cepat memutus kontak mata diantara keduanya.


"Nancy bukan kekasih ku. Kami tidak memiliki hubungan, apalagi komitmen apapun. Aku dan Nancy hanya sebatas hubungan one night stand".


"Lantas untuk apa tuan membuat kamar dengan suasana romantis jika tidak ada yang menemani. Hm...sayang sekali jika suasana romantis hanya di nikmati seorang diri. Oh bisa jadi tuan akan membawa wanita-wanita lainnya ke tempat ini nantinya", cicit Anabelle sambil menggerakkan tangan dan menyipitkan matanya menatap Flamini yang juga memandang nya.


"Hups....Maaf tuan, saya keceplosan lagi", ujar Anabelle dengan wajah innocent menutup mulutnya dengan jemari tangan. Ana baru sadar kata-katanya menyiratkan Kalimat sarkas.


Flamini tertawa melihat tingkah Anabelle. "Kau ini sangat mengemaskan sekali Ana"


"Aku tidak akan membawa wanita manapun kemari. Ini khusus untuk ku. Suatu hari nanti aku akan membawa wanita yang aku cintai kemari", jawab Flamini.


Anabelle menganggukkan kepalanya dan tersenyum mendengar ucapan Flamini. "Wanita itu pasti beruntung sekali. Karena tuan mempersiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan nya kemari..."

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2