
"Oh my God...dimana nona Calista".
Dengan langkah cepat Katty membuka pintu kamar mandi. Tidak ada siapapun disana. Namun kedua mata Katty menatap keatas meja kecil yang ada di dekat wastafel.
Kedua mata Katty menatap tak berkedip garis dua berwarna merah testpack yang tergeletak di atas meja itu. "A-pa nona Calista sedang hamil sekarang? Oh my God bagaimana ini? Dimana nona Calista sekarang, lindungilah nona Calista Tuhan", lirih Katty begitu mengkuatirkan keadaan Calista sekarang ini.
Hingga kini Katty belum menemukan bos-nya itu. Bahkan handphone nya pun mati. Semalam saat ia pulang, Calista sudah tertidur. Bahkan Katty ingat betul menyelimuti tubuh Calista yang sudah terlelap dengan pulas.
"Bagaimana jika ada apa-apa dengan nona Calista, siapa yang mau bertanggungjawab?", ujar Katty terlihat sangat panik. Berulangkali Katty menghubungi bos-nya itu tetapi tetap hal yang sama. Hanya suara operator seluler saja yang menjawab.
"Maafkan saya nona Katty. Saya ketiduran semalam", ucap pelayan yang di tugasi Katty untuk menjaga Calista.
Beberapa saat kemudian seorang keamanan yang semalam bertugas menemui Katty. Ia kembali datang ke mansion bos-nya setelah menerima kabar bahwa Calista tidak ada. Ia pergi dengan salah satu mobilnya.
"Semalam sekitar pukul satu malam, nona Calista memerintahkan saya membuka gerbang utama. Nona mengatakan ia akan ke rumah sakit. Ketika saya akan memanggil sopir, nona Calista melarang. Katanya biarkan saja semua pekerja tidur karena memang waktunya mereka untuk beristirahat".
"Bagaimana mungkin kau mengizinkan istri ku pergi dalam kondisi sakit". Samuel masuk ke dalam rumah dengan pakaian kerja lengkap. Laki-laki itu menatap dingin orang orang yang berdiri di depan kamar Calista.
"T-uan...
"Semalam nona meminta saya pulang. Saat saya pulang nona Calista sudah tertidur pulas. Dari kemarin nona Calista memang sudah terlihat tidak baik-baik saja. Namun semalam saya menungguinya makan", ujar Katty menjelaskan.
Samuel menatap Katty sekilas dan terlihat ia menghubungi seseorang melalui handphone miliknya.
__ADS_1
"Hm...ada yang harus tuan ketahui", ucap Katty. Gadis itu masuk ke kamar mandi dan mengambil testpack yang diperkirakan itu milik Calista. Katty memberikannya pada Samuel.
Samuel menatap testpack yang diberikan asisten Calista padanya. "Istri ku hamil?"
Katty menganggukkan kepalanya. "Sepertinya nona Calista sedang hamil".
Samuel terdiam sambil menatap lekat garis dua berwarna merah di alat yang di ada di tangannya saat ini.
Sesaat kemudian Samuel menekan nomor handphone milik Calista. Ini yang pertama kalinya ia menghubungi istrinya setelah kemarin ia meluapkan amarahnya pada Calista. Bahkan menyakiti tubuh Calista.
Nomor yang di tuju tidak aktif. Lagi-lagi yang terdengar suara operator seluler saja. "Di mana kau Calista?"
Samuel mendekati tempat tidur dan membuka nakas di sisi yang biasanya di tiduri Calista. Samuel membuka laci nakas, dan terlihat handphone milik Calista di sana. Dalam kondisi off.
Samuel memasukkan handphone itu kedalam saku nya. "Kau kerahkan orang-orang mencari istri ku ke tempat-tempat yang mungkin di kunjungi nya, sementara aku dan orang-orang ku juga akan mencarinya di rumah sakit dan tempat lainnya. Segera kabari aku jika kau menemukan keberadaan istri ku", ucap Samuel pada Katty.
*
"Cek semua CCTV jalan, kemana mobil istri ku pergi", perintah Samuel setelah berada di dalam mobilnya.
Samuel menyandarkan kepalanya pada jok mobil di bagian belakang. Sementara Owen duduk di depan bersama bersama sopir.
Sesaat Samuel menatap keluar jendela mobil, tatapannya jauh...sejauh pikiran nya saat ini.
__ADS_1
Tangannya mengambil handphone milik Calista yang ada di saku jasnya. Ia menekan tombol on dan memasukkan password handphone. Calista pernah memberi tahu password handphone miliknya itu tanggal pernikahan mereka.
Seketika kedua mata Samuel menghangat berkaca-kaca, begitu melihat wallpaper handphone milik istrinya yang memasang foto mereka berdua saat berada di stadion Santiago Bernabéu di Madrid beberapa waktu yang lalu.
Samuel ingat betul ialah yang mengambil foto itu. Calista memeluknya dengan mesra, menempelkan wajahnya pada dadanya sambil tersenyum bahagia.
"Oh Tuhan...apa yang sudah aku lakukan pada istri ku. Oh Tuhan maafkan aku, aku sudah menyakiti istri ku, ibu anak ku. Calista...maafkan aku. Aku tidak bisa mengontrol emosi ku. Aku sangat menyakiti mu. Bahkan saat aku meluapkan amarah ku, aku tidak menyadari kondisi mu. Aku benar-benar menyakitkan mu".
Untuk yang pertama kalinya Samuel menitihkan air matanya untuk Calista. Samuel mengingat semua tindakannya kemarin bahkan tangannya mencengkram kuat leher istrinya sendiri. Andai saja ia tidak mendengar rintihan kesakitan Calista, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bahkan Samuel tidak memberikan kesempatan istrinya untuk berbicara. Yang ia ingat, Calista mengatakan bahwa ia juga baru mengetahui bahwa jantung itu milik Amber. Samuel ingat, bagaimana wajah Calista kemarin menahan kesakitan ketika menyampaikan yang ia tahu. Samuel ingat, bagaimana iris hitam Calista yang biasanya sangat indah menatap nya dengan sayu seakan memohon pada Samuel agar percaya padanya.
Tapi kemarin, Samuel tidak mau mendengarkan. Amarah telah menguasai dirinya. Bahkan ia tidak perduli dengan rasa sakit dan kepedihan yang di rasa istrinya kala itu.
Sudah beberapa rumah sakit di datangi Samuel dan Owen tapi tidak ditemukan keberadaan Calista.
Sementara berdasarkan CCTV jalan, orang Samuel menemukan rekan jejak mobil Calista. Samuel menatap rekaman CCTV yang sudah dikirim ke Ipad-nya.
Samuel melihat mobil Calista berhenti di pinggir jalan. Jalan itu, tempat terjadinya kecelakaan yang di alaminya empat tahun yang lalu. Beruntung rekaman itu begitu jelas hingga bisa terlihat kondisi di dalam mobil. Samuel tidak bisa menahan tangisnya saat melihat Calista menyandarkan wajahnya pada setir mobil sambil menangis sejadi-jadinya. Bahkan nampak sesekali ia mengusap perutnya.
Samuel tahu ia benar-benar membuat hati Calista hancur saat ini. Samuel menyadari ialah yang pantas untuk di salahkan jika terjadi sesuatu pada istrinya. Bagaimana mungkin ia meminta pertanggungjawaban pada Calista untuk nyawa Amber, tapi ia tidak memikirkan kondisi Calista dan calon anak nya yang ia sakiti.
"Cali ...Maafkan aku. Dimana kau sekarang sayang. Kembalilah".
__ADS_1
...***...
To be continue