
"Nona Anabelle, kita sudah sampai di perusahaan Chupón Engineering. Nona bisa turun di sini. Masuk saja lewat lobby itu dan nona bisa bertanya pada resepsionis di sana. Katakan nona Anabelle sudah mengatur janji dengan pemilik perusahaan ini. Jangan lupa memakai tanda pengenal nona, karena peraturan perusahaan ini sangat ketat. Sementara nona bekerja, saya akan menunggu di parkiran".
"Iya pak Alex. Saya turun sekarang pak", jawab Anabelle membuka pintu tengah.
Dengan langkah pasti Anabelle memasuki lobby perusahaan yang berarsitektur mewah tersebut. Anabelle terlihat cantik dan rapi dengan setelan blazer berwarna krem dengan lilitan scraf di leher jenjangnya. Sejujurnya wajah Anabelle dan Katty sangat berbeda. Katty lebih dominan mengikuti Ethan memiliki mata biru bak safir sementara Anabelle dominan mengikuti sang ibu yang memiliki rambut berwarna hitam dan manik bening .
"Ada yang bisa saya bantu nona?", tanya resepsionis pada Anabelle dengan ramah.
"Saya Anabelle mewakili nona Verline Graham dari perusahaan Luxury interior yang sudah membuat janji bertemu tuan Cazandro", ucap Anabelle memperkenalkan dirinya pada resepsionis.
Resepsionis bernama Audri itu langsung mempersilahkan Anabelle naik kelantai Lima puluh di mana ruangan pucuk pimpinan perusahaan ini berada. Karena asisten atasannya sudah memberitahu akan kedatangan desainer yang akan bekerjasama dengan pemilik perusahaan karena akan menambah private room di lantai paling atas gedung tempat mereka bekerja.
Anabelle langsung masuk ke lift pengunjung menuju kelantai lima puluh. Ia seorang diri di dalam lift, Anabelle menelisik penampilannya melalui pantulan dinding kaca lift. Merapikan rambutnya yang terurai dan menyemprotkan parfum beraroma lembut keleher nya.
Ting..
Pintu lift terbuka. Seketika suasana hening dirasakan Anabelle, gadis itu ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya. Anabelle mengedarkan pandangan pada sekitar yang bernuansa putih dan abu-abu tua. Kombinasi warna yang menyejukkan mata.
Tak nampak seorang pun di sana, apalagi terdengar kesibukan para karyawan di lantai itu. Sangat berbeda dengan tempatnya bekerja begitu ramai suara karyawan, tawa, perbincangan dan ketikan dari keyboard komputer yang menandakan ada orang bekerja di sekitar. Tapi di ruangan ini begitu sunyi. Lebih tepatnya untuk melangkahkan kaki saja rasanya enggan. Suasananya sangat tidak bersahabat.
"Ada yang bisa saya bantu?", tanya wanita seksi menghampiri Anabelle yang sedang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
Anabelle tersenyum. "Saya Anabelle mewakili nona Verline Graham dari Luxury interior. Atasan saya sudah ada janji bertemu dengan tuan Cazandro", ucap Anabelle dengan sopan sambil memperhatikan tanda pengenal nya.
"Mari ikut saya!"
Anabelle mengikuti wanita itu. Ia pikir wanita itu asisten atau sekertaris tuan Cazandro kalau ditelisik dari penampilannya.
Wanita cantik dan seksi tersebut membuka pintu. "Silahkan tunggu di ruangan ini nona Anabelle. Saya akan memberi tahu kedatangan nona pada asisten tuan Cazandro", ujar wanita bernama Paula itu ramah.
Anabelle menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Baik. Terimakasih", balasnya sambil mendudukkan tubuhnya di sofa berwarna hitam.
__ADS_1
Saat ini Anabelle sendirian berada di ruangan meeting. Sepertinya tempat tersebut bukan ruang meeting utama tapi hanya ruang mini meeting dengan kapasitas beberapa orang saja. Terlihat dari meja yang berukuran kecil dan jumlah kursi hanya ada enam. Meskipun ruangan itu bisa di katakan cukup luas dengan furniture mewah yang di dominasi warna hitam dan abu-abu. Terkesan menly sekali.
Di dinding terdapat sebuah pigura foto laki-laki paru baya seumuran Ethan ayahnya, berwajah Italia dengan rambut hitam legam dan netra berwarna abu-abu pucat.
Anabelle tersenyum menatap foto berukuran besar itu. Sorot mata di foto itu seakan sedang mengintimidasinya. Tak ada rasa takut sedikitpun di benak Anabelle. "Ternyata benar dugaan ku, kau laki-laki tua. Wajar saja nona Verline mengatakan kau pria sulit tuan Cazandro", gumam Anabelle tersenyum menatap foto yang menempel di dinding.
"Kau jangan mempersulit pekerjaan ku tuan Cazandro, aku akan mendapatkan proyek ini dan membawa kabar baik pada nona Verline. Aku yakin kita bisa bekerja sama", ucap Anabelle pelan. Senyuman manis menghiasi wajahnya.
*
Jarum jam berdetak.
Anabelle tak henti menatap jam di dinding. Sudah hampir satu jam ia menunggu di ruangan itu namun hingga kini tidak ada tanda-tanda kehadiran orang penting yang akan di temui nya.
Anabelle sudah nampak gelisah. "Huhh...apa aku pulang saja ya?", batinnya.
"Hampir satu jam aku menunggu seperti ini", gumam Anabelle. Gadis itu kembali berdiri dan menatap foto laki-laki tua di dinding dihadapan nya.
"Ceklek..."
Anabelle menolehkan kepalanya menatap kearah pintu, menampakkan pria muda masuk ruangan. Ia menatap wajah Anabelle dengan pasat.
"Di mana nona Verline?"
"Hm...Apa anda tuan Cazandro? Maaf atasan saya nona Verline berhalangan hadir karena ada urusan urgent menyangkut keluarga nya, tuan", jawab Annabelle sopan.
"Saya Anabelle perwakilan resmi dari nona Verline, tuan", ucap Anabelle lagi sambil memperlihatkan tanda pengenal pada laki-laki yang berdiri di depannya melihat tanda pengenal Anabelle.
"Saya asisten tuan Cazandro. Saya menyampaikan permintaan maaf tuan Cazandro karena tidak bisa menemui anda sekarang. Nona bisa kembali esok hari. Tuan Cazandro meminta anda datang pukul delapan pagi".
Raut wajah Anabelle seketika berubah. Nampak kecewa. Tapi cepat-cepat ia merubahnya dengan sebuah senyuman. "Baik tuan, saya akan kembali lagi esok hari", jawabnya dengan pasti.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum mendengarnya. "Tapi saya ingatkan nona untuk datang on time, karena atasan saya tidak menyukai bekerja sama dengan orang yang tidak profesional. Dan yang datang besok sebaiknya atasan nona langsung. Nona Verline. Tuan Cazandro hanya mau bekerjasama dengan orang yang sudah di pilihnya".
Anabelle menarik nafasnya dalam-dalam. "Huhh benar-benar menyulitkan sekali", batinnya.
Anabelle menutupi perasaannya dengan tersenyum. "Baik tuan, akan saya sampaikan pada nona Verline. Kalau begitu saya permisi sekarang", ucapnya sambil mengulurkan tangan yang langsung di sambut asisten Cazandro dengan hangat.
*
Saat di dalam lift Anabelle menunjukkan wajah kesalnya.
"Ternyata laki-laki tua itu benar-benar menyebalkan sekali. Uhh...bagaimana bisa ia meminta orang profesional tapi ia sendiri yang tidak melakukannya. Ia juga meminta on time, ternyata ia sendiri yang tidak menerapkan nya", umpat Anabelle kesal.
Ting..
Masih dengan wajah kesal Anabelle keluar lift menuju parkiran. "Uh... bagaimana bisa laki-laki tua itu menjadi pimpinan perusahaan sebesar ini!".
"Sebaiknya aku langsung melaporkan hasil pekerjaan sia-sia ini pada nona Verline sekarang juga", gumam Anabelle sambil menekan nomor telepon atasannya.
"Halo Ana, bagaimana pertemuan mu dengan tuan Cazandro?"
Anabelle langsung menceritakan semuanya dengan rinci pada Verline.
Terdengar tarikan nafas di seberang telepon.
"Tapi Ana, aku belum bisa bekerja besok. Mommy anfal dan dinyatakan kritis. Aku sangat membutuhkan mu Ana. Temui lagi tuan Cazandro besok pagi. Sampaikan permintaan maaf ku. Aku terima apapun hasilnya Ana. Kau tidak perlu terbebani lagi. Aku sangat berharap bisa mendapatkan proyek ini, tapi jika memang mereka bisa bekerjasama dengan kita. Jika mereka tidak memilih perusahaan kita sudahlah tidak apa-apa, karena situasi yang sedang aku alami memang seperti ini", ujar Verline terdengar sedih.
Anabelle terdiam mendengar perkataan bos-nya itu. Ia ikut merasakan kesedihan Verline. "Nona tenang lah, saya akan berusaha sebaik mungkin dan mendapatkan proyek bersama tuan Cazandro. Saya akan kembali menemuinya besok pagi nona Verline", jawab Anabelle pelan.
...***...
To be continue
__ADS_1