PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
MEMBERI TAHU KATTY


__ADS_3

Pagi telah menyingsing. Namun mentari pagi tidak menampakkan sinarnya. Langit masih gelap berselimut awan hitam. Dan hujan pun turun dengan derasnya membasahi kota London.


Steven menatap istrinya yang masih tertidur nyenyak, sementara ia sudah berpakaian rapi.


Katty masih tertidur sangat pulas, Steven tersenyum melihatnya. Ia enggan membangun kan Katty, justru melihat istrinya tertidur pulas dengan tubuh polos dan rambut kusut seperti itu membuat Steven betah berlama-lama memandangi Katty dan semakin merasakan perasaan mendalam pada istrinya.


Beberapa saat kemudian terlihat Katty menggeliat dan membuka kedua kelopak matanya.


Jemari lentik Katty meraba-raba tempat tidur di sebelahnya. Namun tidak menemukan apa yang di cari.


"Kau mencari sesuatu di sana, hem?"


Katty menatap suaminya yang membawa nampan mendekati tempat tidur.


"Sayang, kau sudah rapi sekali apa mau pergi?", tanya Katty duduk bersandar di punggung tempat tidur sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Aku harus bertemu Flamini. Teman ku itu sedang tidak baik, sayang. Kau ingat kan semalam ia menelepon ku?", jawab Steven membawa nampan berisi makanan ke atas tempat tidur. "Aku memesan Pie dan mash. Jika kau tidak menyukainya bisa memesan makanan yang lain".


"Tidak perlu sayang. Aku menyukainya kok. Pie dan kentang tumbuk juga sayur rebus ini sangat bagus untuk tenaga yang terkuras", jawab Katty absurd.

__ADS_1


"Ya...kau harus memulihkan tenaga mu, sebelum pertempuran yang akan membuat tenaga mu habis lagi", goda Steven sambil mencubit ujung hidung istrinya yang memerah.


Katty melototkan kedua matanya menatap suaminya. "Lagi? Uhh...aku lelah sayang. Kau tidak pernah bisa bermain satu kali".


"Mana mungkin hanya sekali. Itu tidak cukup untuk ku. Kau selalu menggoda ku", balas Steven tersenyum jahil.


"Sekarang makanlah, bukankah kau harus mengembalikan tenaga mu, hem?"


"Aku mau mandi dulu, tubuh ku lengket semua", jawab Katty berdiri dan membawa makanan ke atas meja. "Ada apa dengan Flamini, Steve. Sepertinya teman mu itu banyak sekali masalah. Sampai-sampai ia lupa waktu ketika menelpon mu".


Steven berdiri dari tempat tidur. Ia menghampiri istrinya dan memeluk tubuh Katty dari belakang. Tindakan Steven membuat Katty kaget. "Ada apa sayang, sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dari ku?"


Katty membalikkan tubuhnya menatap Steven yang memasang muka serius. "Ada apa sebenarnya? Aku tidak suka ada yang di sembunyikan dari ku, Steven aku ingin kau mengatakan semuanya pada ku sekarang", tegas Katty menatap selidik suaminya sekaligus menuntut penjelasan Steven.


"Baiklah aku akan mengatakan yang sebenarnya pada mu. Sekarang duduklah".


Steven menuntun Katty duduk di sofa. Katty menunda mandi ia lebih memilih mendengar apa yang akan di ceritakan Steven padanya. Bahkan selimut tebal masih melilit tubuhnya. Katty tahu ada hal penting menyangkut dirinya, itulah kenapa wajah suaminya terlihat berbeda saat ini. Steven memasang raut wajah serius.


Terlihat Steven menghembuskan nafasnya. "Kau sudah mengetahui bahwa Flamini sedang jatuh cinta pada seorang gadis yang bekerjasama dengannya kan?"

__ADS_1


"Sayang..kau tahu siapa gadis itu?". Steven menatap lekat istrinya.


Katty menggelengkan kepalanya. "Kau membuat ku gugup Steven. Katakan saja yang sebenarnya pada ku. Ada apa? Siapa gadis itu?"


"Gadis itu Anabelle. Flamini bekerja sama dengan perusahaan tempat adikmu bekerja. Anabelle yang mengerjakan interior private room milik Flamini di perusahaannya. Flamini menyukai Ana. Tapi Ana mengundurkan diri dari pekerjaan nya, setelah Flamini mencuri ciuman Ana".


Katty melototkan kedua matanya menatap suaminya. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di katakan Steven. "Maksud mu, adikku dan Flamini? Gadis yang Flamini katakan saat di ruangan mu itu, Anabelle? Tidak mungkin..."


"Sayang...Apa yang tidak mungkin? Flamini laki-laki normal dan Adikmu wanita yang sudah dewasa cukup umur", ujar Steven menenangkan istrinya yang terlihat syok.


"No no Steven. Anabelle baru berusia dua puluh dua tahun. Ia sedang mengejar cita-citanya. Flamini seusia mu, Steven. Dan kau sendiri yang sering mengatakan teman mu satu itu berbeda dari kau dan Samuel. Ia tidak mau berkomitmen. Ia juga tidak mau menjalani sebuah hubungan yang serius dan mengikat, Steven. Bagaimana mungkin kau mendukung nya bersama Ana. Apa kau melupakan Anabelle itu adik ku satu-satunya. Aku tidak akan membiarkan Ana menangis karena menaruh harapan pada laki-laki seperti Flamini. Tidak akan. Aku tidak perduli meskipun itu Flamini teman baik mu. Aku juga tidak perduli meskipun aku dekat dengan Flamini jika itu menyangkut tentang Anabelle, perasaan adikku lah yang lebih aku pikirkan. Kau cam kan itu! Aku tidak perduli jika itu menyakitkan untuk teman mu!", ketus Katty dengan tegas.


"Hei...Tenangkan diri mu. Aku tahu. Aku tidak mungkin mengarahkan perasaan Ana agar menerima Flami. Tapi alangkah baiknya jika kita temui adikmu sekarang, hem? Jika ia menolak Flami, tentu kita tidak bisa memaksa nya. Tapi bagaimana jika ternyata Ana memiliki perasaan yang sama dengan Flamini? Bisa kau bayangkan ia akan merasakan sakitnya. Patah hati itu rasanya sangat tidak enak. Sembuh nya pun lama atau tidak akan pernah bisa sembuh jika kita mencintai seseorang secara mendalam".


"Katty...kau harus bijak, jika mereka sama-sama memiliki perasaan mendalam biarkan mereka yang menentukan jalannya. Aku pastikan Flamini bukan orang jahat. Ia tidak mau berkomitmen selama ini ada penyebabnya. Di hari pernikahan Flami beberapa tahun yang lalu, Samantha calon istri nya meninggalkan Flami dengan pria lain".


Katty tak bergeming mendengar perkataan suaminya. Ucapan Steven begitu mengena. "Tapi Hari ini Ana akan bertolak ke Amerika melanjutkan studinya di Harvard university..."


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2