PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
LIZZY


__ADS_3

Steven masuk ke club malam yang berada di pusat kota Birmingham. Hentakan musik yang memekakkan telinga terdengar begitu keras.


Mata Steven langsung mencari sosok Lizzy. Steven belum menemukan gadis itu.


"Menyulitkan sekali. Kenapa juga Lizzy berada di sini". Steven bergumam sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan berukuran luas itu yang ramai pengunjung. Ada yang melantai ada juga yang hanya duduk-duduk saja sambil mengobrol sembari menikmati minuman mereka.


Steven semakin masuk kedalam. mencari Lizzy di sofa sudut ruangan, kalau-kalau gadis itu ada di sana.


"Apa anda tuan Steven yang akan menjemput nona Lizzy? Nona Lizzy di sana", ucap seorang laki-laki berperawakan kekar menggunakan pakaian hitam. Tak nampak seperti seorang waiters lebih mirip seorang keamanan atau bodyguard.


Steven mengikuti langkah kaki laki-laki itu menuju bartender. Matanya langsung menangkap sosok Lizzy yang sudah tak sadar pengaruh minuman keras. Nampak botol wine yang sudah kosong di dekatnya.


"Lizzy...ayo pulang!"


Gadis yang menyandarkan wajahnya di atas meja itu tak menjawab apapun. Hanya terdengar gumaman dari mulutnya.


"Lizzy ayo pulang. Aku sudah menjemput mu".


Mendengar suara laki-laki yang sangat dikenal nya yaitu Steven, seketika Lizzy mengangkat wajahnya dan menoleh kesamping. "Kak Steven" ucap gadis itu bersemangat meskipun sorot matanya sayu dan terdengar cegukan dari mulutnya.


"Kenapa kau ada di tempat seperti ini Lizzy, tidak baik untuk mu. Ayo kita pulang, hari sudah larut malam", seru Steven. Ia memegang pundak Lizzy hendak membantu nya berdiri.

__ADS_1


"Nanti saja pulangnya kak, kita nikmati dulu malam ini. Minumlah bersama ku", ucap Lizzy sambil meminta bartender menuang minuman ke dalam dua gelas kosong yang ada di depannya.


"Jangan menyulitkan aku Lizzy! Aku sudah bersedia menjemput mu kemari atas permintaan kekasih ku. Atau kau urus saja diri mu sendiri", ketus Steven membalikkan badannya.


"Tunggu kak". Lizzy menahan lengan Steven. "Aku janji akan ikut dengan mu. Aku hanya ingin kita minum satu gelas saja. Kemudian kita pulang".


"Huhh.."


Steven membuang Nafasnya dengan kasar. Tanpa bicara apapun ia langsung meneguk segelas wine hingga tandas.


"Ayo kita pulang!"


"Ayo kita pulang", ucap Lizzy berdiri dari tempat duduknya. Namun senyum licik menghiasi wajahnya.


Nampak Steven menggelengkan kepalanya sambil mengerjap-ngerjap kan matanya. Steven merasakan pengelihatan nya berbayang dan merasakan kepalanya tiba-tiba pusing. Bahkan Steven merasa tubuhnya sangat panas.


Jemari tangannya memijat pelipisnya. "Kenapa kepalaku jadi pusing begini?".


"Kak...ada apa?", tanya Lizzy melingkarkan tangannya pada pinggang Steven yang tiba-tiba sempoyongan. Namun Steven masih bisa menatap tajam gadis itu.


"Apa yang kau masukkan ke minuman ku, Lizzy?", seru Steven. Ia menghentakkan tangan gadis itu yang memeluknya. "Ah...shitt, panas sekali di sini!"

__ADS_1


Lizzy tersenyum melihat dan mendengar rintihan Steven saat ini. Ia memberi isyarat pada kedua pria yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari tempatnya. Salah satunya yang memberitahukan keberadaan Lizzy pada Steven beberapa waktu yang lalu.


Sementara Steven sudah begitu gelisah. Laki-laki itu merasakan tubuhnya m gerah. Dan merasakan belenggu hasrat yang begitu membuncah di tubuhnya saat ini. Steven membuka jaket kulit yang dipakainya.


Lizzy tersenyum melihat Steven begitu tersiksa. "Kak kau kenapa?". Lizzy menempelkan tubuhnya pada Steven yang terduduk di kursi bar. Tanpa ragu-ragu sedikit pun gadis itu menyatukan bibirnya pada bibir Steven yang sudah dipengaruhi obat yang dimasukkan kedalam botol minuman yang di tuang ke gelas Steven.


Sebenarnya Lizzy pun merasakan reaksi obat itu, ia merasakan juga panas tubuhnya.


Sekuat tenaga Steven menahan gejolak hasrat dalam tubuhnya. Tapi semakin ditahan, ia semakin tersiksa.


"Kita akan menikmati malam panjang yang tak akan terlupakan, Steve", bisik Lizzy di telinga Steven yang mengeluarkan suara erangan tertahan.


"Brengsek. Kau menjebakku!", ucap Steven di sisa kesadarannya mendengar dan melihat perbuatan Lizzy padanya. Steven hendak mencengkram leher Lizzy tapi ia tidak bisa fokus lagi. Sehingga cengkraman tangannya tidak mengenai Lizzy.


Lizzy memberi isyarat pada dua orang laki-laki yang sudah di bayar nya, membawa Steven ke kamar yang sudah di booking nya. Lizzy tersenyum bahagia.


"Ternyata apa yang aku rencanakan berjalan dengan sempurna. Kau hanya milik ku Steven..."


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2