
Massachusetts, USA
Keesokan harinya...
"Oh my God, pemandangan dari sini benar-benar indah", ucap Anabelle tersenyum bahagia sambil merentangkan kedua tangannya.
Gadis itu berdiri di balkon. Cuaca di musim dingin membuat tubuhnya sedikit menggigil, namun masih bisa di tahan.
Bahkan Ana tidak tahu berada di lantai berapa penthouse Flamini. Yang pasti begitu menjulang. Di saat melihat kebawah, membuatnya bergidik ngeri karena tempatnya berdiri ternyata begitu tinggi.
Tok
Tok
Ana mendengar ada yang mengetuk pintunya. Gadis itu masuk kembali ke kamar. "Masuk.."
Terlihat pelayan muda berwajah latin membuka pintu. Ia bukan Lony yang di temui nya semalam.
"Selamat pagi nona Ana, perkenalkan saya Esperanza. Tuan Flamini meminta anda sarapan bersama nya sekarang", ucap pelayan dengan sopan.
Ana menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sudah siap sejak satu jam yang lalu. Karena jadwalnya pagi ini akan melakukan verifikasi data sebagai seorang mahasiswi Magister desain interior yang memperdalam pembelajaran tentang Sains dan Teknologi Desain Interior.
Ana mengikuti Esperanza. Ternyata Flamini memilih menikmati makan pagi di dekat kolam renang yang menyatu dengan balkon.
"Tuan...nona Ana sudah datang", ucap Esperanza dengan hormat.
"Hem.."
Anabelle menatap Flamini yang masih melihat Ipad-nya dengan fokus, sambil menikmati segelas kopi hitam. Laki-laki itu sudah rapi dengan setelan jas kerja nya berwarna abu-abu, seperti manik matanya.
__ADS_1
"Selamat pagi nona Ana. Mau minum apa?", tanya Lony tersenyum ramah melihat Anabelle pagi ini.
"Kalau ada aku mau susu plain saja, bibi", jawab Anabelle tersenyum manis sekali.
"Ehem..."
Flamini menyandarkan punggungnya menatap Anabelle. Gadis itu sudah terlihat cantik dengan setelan blazer berwarna krem. Sementara rambut hitamnya di ikat. Flamini selalu menyukai penampilan Anabelle, nampak sederhana namun elegan. Apalagi Ana selalu memakai riasan wajah natural dengan warna lembut, membuatnya nampak segar sepanjang hari.
"Bagaimana tidur mu?"
"B-aik kak. Aku tidur sangat nyenyak, sampai-sampai lupa membersihkan tubuhku semalam", jawab Ana duduk di hadapan Flamini yang kembali menyesap minumannya. Sementara sorot matanya tak beralih dari wajah Anabelle.
"Uhuk uhuk..."
Tiba-tiba Flamini batuk mendengar perkataan Anabelle.
"Kakak kenapa?", tanya Anabelle melihat Flamini.
Anabelle melihat banyak sekali pilihan menu sarapan pagi yang di sediakan Lony di atas meja. Ana sampai bingung mau makan apa.
"Hm... tidak perlu. Aku lihat kakak sudah siap akan pergi juga, jadi sebaiknya aku pergi sendiri saja ke kampus", jawab Ana sambil menuang madu ke atas sepotong pancakes.
"Kau pergi bersama ku. Nanti pulang nya aku akan menjemputmu Ana. Tidak ada bantahan!", ucap tegas Flamini.
"Ya sudah kalau itu mau nya kakak. Kebetulan sekali aku tidak perlu capek-capek memesan taksi. Aku juga bisa menghemat pengeluaran ku", jawab Anabelle dengan cueknya.
Flamini tidak bisa menahan tawanya mendengar penuturan Anabelle.
"Setelah mengantar mu, aku ada meeting di club milik ku. Tidak akan lama, jadi aku bisa menjemput lagi".
__ADS_1
Anabelle menganggukkan kepalanya sambil menikmati potongan terakhir pancakes miliknya. Kemudian tanpa sungkan Ana mengambil menu lainnya. Sekilas gadis itu menatap Flamini. "Aku terbiasa makan pagi dalam porsi banyak. Jadi kakak jangan kaget melihat ku makan pagi seperti orang kelaparan begini", ucap Anabelle.
Flamini tersenyum mendengar dan melihat Anabelle. "Kau boleh makan apapun yang kau inginkan, Ana. Aku menyukai mu bicara apa adanya. Tidak munafik seperti wanita yang sering aku temui selama ini".
"Seperti Nancy? Uh... kekasih kakak itu sangat cantik dan seksi sekali", cicit Anabelle sambil menikmati sepiring Eggs benedict merupakan menu sarapan berat.
"Wanita itu bukan kekasih ku. Aku bersamanya saat aku menginginkan nya", jawab Flamini santai sambil menatap Anabelle yang sedang menyantap makanan dengan lahap, bahkan gadis itu tidak menyadari terdapat saus di ujung bibirnya.
"Maksud mu, kalian bercinta dengan wanita tanpa status apapun? Bukan sebagai kekasih, tunangan atau istri?", ucap Anabelle menghentikan makannya.
"Apa yang aneh akan hal itu. Aku laki-laki dewasa dan normal, Ana. Saat merasakan penat karena rutinitas yang padat, aku juga membutuhkan penyaluran hasrat dalam diri ku".
"Huhh...ternyata semua laki-laki sama saja. Berdalih seperti itu saat tidur dengan wanita manapun. Sangat menjijikkan!", ketus Ana sambil berdiri dari tempat duduknya. Ia terlihat sangat kesal.
"Hei...ada apa dengan mu Ana. Kenapa kau kesal seperti itu, hem? Makanan mu belum kau habiskan".
"Aku sudah kenyang. Sekarang aku mau ke kampus saja", seru Ana masih dengan wajah kesal.
Flamini tersenyum melihat nya. Ia pun berdiri tanpa jarak didepan Ana. Jemari tangannya menyentuh ujung bibir Anabelle. "Ada saus hollandaise dibibir mu".
Tubuh Anabelle tercekat. Cepat-cepat ia mengalihkan perhatiannya pada tempat lain menghindari tatapan tajam Flamini. Ana menyadari tindakan nya yang tiba-tiba emosional setelah mendengar ucapan Flamini beberapa saat yang lalu.
"Kenapa kau nampak marah mendengar perkataan ku tadi? Jangan katakan kau belum pernah tidur dengan laki-laki manapun Ana. Bukankah kau sudah cukup umur", ucap Flamini.
Namun Anabelle menangkap nada ejekan di ucapan laki-laki itu. Ana menatap tajam flamini.
"Apa ada yang salah jika aku tidak pernah tidur dengan laki-laki? Aku bukan wanita yang menyukai kebebasan gonta-ganti pasangan. Aku akan memberikan sesuatu yang berharga untuk laki-laki yang aku cintai. Yang pasti aku menginginkan laki-laki yang sama pemikiran nya dengan ku tentang sebuah hubungan", balas Anabelle menggebu-gebu.
Flamini terdiam mendengar balasan Anabelle. Kata-kata gadis itu seakan menghujam jantung nya. "Sebaiknya kita pergi sekarang..."
__ADS_1
...***...