
"Sayang papa hanya berharap kau menjaga kandungan mu dengan baik, papa tidak mau kalau ada apa-apa dengan calon cucu papa juga dirimu tentu saja".
"Iya pa. Huhh ..tapi aku masih dendam pada papa dan Bia. Kalian semua bersekongkol dengan Sammy mengerjai ku. Bahkan Katty juga sudah berani berkhianat pada ku", ucap Calista saat berpamitan dengan Justin ayahnya.
Justin tersenyum mendengar protes putri kesayangan nya itu. Ia mengusap lembut wajah Calista. "Papa melakukannya untuk kebaikan mu, Cali. Papa tahu kau sangat mencintai suami mu. Makanya papa datang ke London dan berbicara dengan Samuel. Papa ingin melihat kesungguhan menantu papa pada mu. Papa senang melihat dan mendengar Samuel mengakui perasaannya. Ia sama hancur nya dengan mu, makanya papa mempertemukan kalian", ujar Justin bergantian memeluk Calista dan Samuel.
"Sam, papa titipkan putri ku pada mu. Papa percaya kau yang terbaik bagi Calista", ujar Justin memeluk erat menantunya.
"Tentu saja pa. Terimakasih atas bantuan papa. Aku dan Cali akan lebih rutin mengunjungi mu di Interlaken. Kami menyukai kota ini. Bukan begitu sayang?"
"Iya. Pantas saja papa memilih tempat ini, ternyata sangat indah", jawab Calista sambil memeluk Bianca. "Kau tega pada ku, Bia. Kau mengetahui semuanya tetapi kau malah bersekongkol dengan papa. Huhh..."
Bianca tertawa mendengar perkataan Calista. "Kau tahu sendiri papamu seperti apa jika memutuskan sesuatu, Cali. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku. By the way, aku senang melihat kau dan Samuel bersama lagi Cali", ujar Bianca dengan tulus.
*
London, Inggris
"Sammy kenapa kita melalui jalan ini? Jalan ini bukan jalan ke apartemen mu atau ke mansion ku kan?", tanya Calista menolehkan wajahnya pada Samuel yang sedang membaca pesan masuk melalui Ipad-nya. Seminggu keluar kota, sudah banyak email masuk. Karena selama di Interlaken Samuel sengaja tidak mengaktifkan baik handphone maupun perangkat lainnya yang terhubung dengan dunia luar. Samuel benar-benar menikmati quality time bersama istrinya yang baru saja di pertemukan kembali setelah berpisah cukup lama.
Samuel tidak menjawab pertanyaan Calista. Namun saat mobil yang di kendarai sopir samuel berhenti tepat di sebuah mansion megah yang berada di distrik kota London, Calista merasa asing.
"Ayo kita turun!"
__ADS_1
Seakan-akan dituntun, Calista menuruti perintah suaminya tanpa berkedip menatap mansion yang berdiri megah di tanah yang luas. Letaknya tersendiri, bukan berada di dalam kompleks perumahan.
Calista menahan lengan Samuel. "Kau belum menjawab pertanyaan ku, ini mansion siapa?"
Samuel memeluk pinggang Calista. Merapatkan tubuhnya pada tubuh istrinya. "Ini mansion kita. Tempat kita dan anak-anak kita nanti berkumpul", jawab Samuel mengecup lembut wajah istrinya yang terlihat kaget mendengarnya jawabannya.
"S-ayang..."
Calista tidak bisa berkata-kata lagi. Perasaannya menghangat dan kedua iris matanya berkaca-kaca.
"Sekarang ayo kita masuk", ujar Samuel tanpa melepaskan pelukannya tangannya pada pinggang Calista.
"Selamat datang kembali di London, nona Calista", sapa Gema dan beberapa pelayan yang baru saja di lihat Calista. Karena selama di apartemen Samuel hanya ada Gema dan Mety yang bekerja di sana. Sekarang ada tiga pelayan baru yang seumuran dengan Mety berdiri di samping Gema menyapa Calista dengan hormat.
Sesaat di dalam, kedua netra bening Calista mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan megah bercat berwarna krem klasik dengan furnitur yang di dominasi warna gold dan putih.
Calista tak bergeming dari tempatnya berdiri, sementara kedua matanya menatap lekat foto pernikahan mereka. Perasaan Calista seketika menjadi haru. Tanpa ia sadari Samuel memperhatikan dirinya dari tadi. Samuel mendekati istrinya dan memeluk tubuh Calista dari belakang.
"Apa kau menyukai rumah masa depan kita, hem? Kau boleh merubah furniture dan tatanan yang sudah tertata sesuai keinginan mu".
Calista membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. "Tentu saja aku sangat menyukainya, Sam. Apa sebetulnya mansion ini kau persembahan untuk Amber? Rumah impian kalian?", tanya Calista mengusap lembut dada bidang Samuel yang berdiri hanya berapa jengkal saja dari nya. Suara Calista terdengar tulus saat bertanya.
"Tidak. Mansion ini milik mu dan anak-anak ku. Saat aku menetap di Madrid, aku memang membangun mansion ini. Walaupun aku menetap di sana tapi aku tidak bisa memungkiri darah Inggris melekat dalam tubuh ku. Sejauh apa kakiku melangkah pasti suatu saat aku akan kembali ke negara kelahiran ku".
__ADS_1
"Sejak kau pergi dan mengetahui aku akan memiliki anak, aku meminta Owen untuk segera melanjutkan kembali pembangunan dan segera menyelesaikan pengerjaan mansion ini. Aku tidak mau kau mengingat hal buruk jika kita kembali ke apartemen", ujar Samuel mengecup lembut wajah istrinya.
Perasaan Calista benar-benar terharu mendengar perkataan Samuel. Ia tidak menyangka ternyata Samuel mengatakan yang sebenarnya saat menyatakan menginginkan dirinya.
"S-ayang...Aku mencintai", ucap Calista sambil menghambur ke dalam dekapan suaminya. Ia menyandarkan wajahnya pada dada bidang Samuel yang mengusap lembut punggung nya.
"Sekarang kau harus melihat kamar kita yang terletak di lantai dua. Sedangkan lantai tiga ruang kerjaku, kolam renang dan tempat gym", ucap Samuel mengurai pelukannya. Laki-laki itu membawa Calista kelantai atas.
*
Tiba di kamar, Calista sudah tidak bisa menahan rasa harunya. Benar-benar mengharu biru dan menitihkan air matanya, ketika menatap foto ia dan Samuel menghiasi dinding kamar megah itu. Calista menatap foto-foto mereka ketika berbulan madu di Madrid tertempel dengan rapi di dinding.
"Sam... bagaimana kau mendapatkan foto-foto itu?", tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis haru.
Samuel tersenyum dan membuka laci nakas. "Dari handphone mu", jawabnya.
"Aku juga membaca catatan harian mu di handphone ini. Bagaimana kau mengakui perasaan mu pada ku, dan kau cemas jika aku mengetahui semuanya tentang mu", ucap Samuel berdiri dan kembali memeluk tubuh istrinya dengan penuh rasa sayang.
"Ah, aku sangat malu. Tapi itulah yang sebenarnya aku rasakan. Aku memendam rasa ketakutan itu, ketika kau menceritakan tentang Amber saat tidur dengan ku yang kedua kalinya. Dan aku mengajak mu menikah", ucap Calista berterus-terang.
"Jadi kau sebenarnya tidak mencintai ku, hem? Kau menikah dengan ku, sebagai bentuk pertanggungjawaban mu saja..?".
...***...
__ADS_1
To be continue
Bagi vote ya 🙏