
"Aku akui untuk melupakan hal yang sangat menyakitkan itu sangat lama. Meskipun kita alihkan dengan kesibukan dan rutinitas yang padat. Kala rasa sepi itu datang pasti akan mengingat semua kenangan itu. Khusus untuk Samantha aku hanya mengingat sakitnya saja, sama sekali tidak mengingat hal indah apapun", jawab Flamini sambil memeluk tubuh Anabelle kian erat.
"Bohong. Tapi aku masih melihat kakak ada rasa pada wanita cantik itu. Buktinya kakak langsung menghindari Samantha saat bertemu dengannya kemarin. Kalau tidak ada rasa lagi kenapa harus di hindari. Biasa saja. Tunjukkan dengan tenang, bukan malah lari menjauh seperti itu", seru Anabelle.
"Apa karena Samantha juga, kakak sering bermain dengan wanita-wanita di luaran sana?"
Flamini terdiam mendengar pertanyaan Anabelle. Kemal, kuda yang mereka tunggangi saat ini sudah membawa mereka ke gazebo yang sangat indah. Terkesan sangat romantis, posisinya tepat menjorok ke arah lautan berwarna biru.
Flamini memegangi pinggang Ana dan menurunkannya dari punggung Kemal, selanjutnya ia menyusul.
Tanpa menunggu Flamini yang mengikat kekang kuda, Ana berjalan melihat pemandangan sekitar.
Melihat lautan luas dari ketinggian sangat menakjubkan, tanpa Ana sadari ia berdiri di atas tebing yang cukup tinggi. Sisa hujan semalam menyebabkan lahan itu licin, tubuh Ana nyaris terperosok ke sebelah kiri yang merupakan jurang terjal kalau saja tangan kokoh Flamini tidak menangkap nya. Akibatnya keduanya menggelinding di atas tanah yang licin dan lembab.
"Kak..."
Berakhir dengan saling menindih. Tubuh Ana berada di atas tubuh Flamini yang dengan santainya menautkan kedua tangannya sebagai bantal kepalanya menatap intens wajah kaget Anabelle yang begitu dekat dengannya. Bahkan keduanya bisa merasakan hembusan nafas. Pada akhirnya keduanya tertawa.
Kemudian terdiam saling bertatapan dengan mesra. Cuaca dingin di perkebunan membuat akal sehat Anabelle hilang entah kemana. Untuk yang pertama kalinya ia berani menyatukan bibirnya pada bibir Flamini. Sangat agresif. Namun Flamini tidak membalasnya sama sekali. Seakan-akan tidak menikmati ciuman yang diberikan Ana. Flamini ingin tahu berapa jauh Ana bertindak, walaupun sebenarnya ia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak membalas lu*atan kekasihnya itu. Begitu mempengaruhi tubuhnya saat ini.
Cukup lama Ana berusaha, namun tidak merasakan balasan Flamini.
"Ternyata aku belum lihai berciuman, buktinya kau tidak membalas ku", ucap Ana kecewa. Ia hendak bangun, namun tangan Flami menarik kuat tengkuknya.
__ADS_1
Dengan rakus Flamini melahap bibir Anabelle. Ciuman yang sangat liar dan memabukkan. Dalam sekejap mampu membuat tubuh Ana panas. Gelenyar liar pun dirasakan Ana.
Sesaat keduanya menghentikan ciuman panas itu. Saling pandang dengan memuja. Ana menatap sayu kedua manik Flamini yang juga menatap iris bening kekasihnya itu dengan tatapan berkabut gairah yang membuncah dalam dirinya.
Tanpa kata-kata, Flamini menarik tangan Ana masuk ke dalam pondok. Dengan nafas menderu keduanya melanjutkan ciuman yang sempat terhenti. Flamini mendorong tubuh Ana, menghimpit nya ke di dinding.
Ana memejamkan kedua matanya, merasakan sensasi buaian Flamini kali ini sungguh berakibat fatal bagi tubuhnya. Ana tidak bisa menolak dan menghentikan. Ia pun sangat menginginkan.
Jemari lentik Ana membuka satu persatu kancing kemeja berwarna putih yang membalut tubuh atletis Flamini.
Flamini mengehentikan ciumannya, menatap Ana yang sudah tidak bisa membendung hasrat dalam dirinya. Flamini bisa melihatnya. "Sayang...apa kau yakin?". Flamini menggenggam jemari tangan Anabelle yang sedang membuka satu persatu kancing kemeja nya.
"Aku memegang prinsip akan memberikan diri ku seutuhnya pada laki-laki yang aku inginkan, yang aku cintai. Dan aku mencintaimu...aku juga menginginkan mu, kak", ucap Ana dengan suara pelan terdengar begitu lirih.
Ana berhasil melepaskan kemeja Flamini. Jemari lentik Anabelle menyusuri dada bidang Flamini. Ana sangat mengagumi tubuh maskulin Flamini, begitu sempurna. Pantas saja banyak wanita yang menggilainya, tidak salah juga karena cetakan tubuh Flamini begitu sempurna.
Flamini telah berhasil menanggalkan pakaian Ana dan melemparkannya ke sembarang tempat. Manik abu-abu Flamini tak berkedip menatap tubuh seksi Anabelle yang hanya tertutup clothing saja saat ini.
Kedua tangan Ana berkeringat dingin. begitu gugup. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menenangkan debaran jantungnya. Namun sekuat apa pun ia berusaha tidak merubah keadaan. Ditambah parfum maskulin tubuh Flamini mempengaruhi aliran darah hingga melumpuhkan akalnya
Bibir Flamini memangut bibir atas dan bawah Ana bergantian. Bibir itu terasa hangat. Lidah Flamini menerobos masuk menyapu langit mulut Ana.
Tubuh Anabelle terasa begitu panas, terhanyut menikmati sentuhan lembut Flamini yang membuat tubuhnya kian meremang.
__ADS_1
Ana memejamkan matanya. Jemari tangannya mengusap lembut punggung Flami. Jemari Flamini membuka pengait bra Anabelle. Manik abu-abu itu tidak bisa menutupi kekaguman nya pada tubuh ranum Anabelle. Untuk yang pertama kalinya ia melihat gadis itu polos di hadapannya.
Tidak bisa dipungkiri tubuh itu begitu molek layaknya tubuh gadis belia yang belum terjamah oleh tangan-tangan jahil. "Oh Ana kau sangat sempurna sayang", ucap Flamini dengan suara serak.
Anabelle memejamkan matanya sambil mengigit bibir bawahnya ketika merasakan jemari Flamini mengusap dan meremas dadanya.
Flamini tidak bisa menahan dirinya untuk segera merasakan puncak kenyal berwarna merah muda itu. Flamini menundukkan kepalanya melahap habis daging kenyal Anabelle memenuhi mulut nya.
"Ah kak. Oh my God...Akh–"
De*ahan lolos dari mulut Ana. Ia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Anabelle meremas dan menekan rambut Flamini seakan meminta lebih dan melarang laki-laki itu menjauh.
Flamini pun tidak bisa mengontrol dirinya, seperti anak kecil yang menghisap dan menjilati permen Lollipop. Sesekali menggigitnya.
Tentu saja perbuatan Flamini semakin membuat Anabelle mengelijang tak karuan. "Oh...kak", bisiknya. Posisi keduanya masih berdiri di balik pintu gazebo.
Flamini menatap Anabelle dengan hasrat yang kian membuncah. "Sayang...apa kau yakin?"
Anabelle menatap Flamini dengan wajah kacau dan gusar. Gadis itu mengangguk kan kepalanya. "Aku ingin memberikan nya pada mu", jawab Anabelle yakin.
...***...
To be continue
__ADS_1
Kalau banyak yang komen dan like, aku lanjutin nih. Kalau sedikit yang ninggalin jejak See you tomorrow 🤭