PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
AKU BUKAN WANITA MURAHAN!


__ADS_3

Flamini melihat jam di tangannya. Sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


"Ternyata sudah lewat senja. Dengan bekerja seperti ini aku bisa melupakan nya. Huh.."


Flamini merenggangkan kedua tangannya dan menggerakkan lehernya untuk relaksasi setelah lama tertunduk membaca berkas-berkas yang dikerjakan nya dari sore tadi. Flamini minta dari Audri sekertaris nya. Sementara Sean ia perintahkan mengecek dua club milik nya yang berada di kota London.


Tok


Tok


"Masuk!"


Terlihat Audri membuka pintu. "Maaf tuan, saya harus mengambil berkas yang sudah tuan tanda tangani".


"Ya kau bisa membawanya. Sebagian lagi besok, aku masih harus memeriksa nya", jawab Flamini. Setelah ini kau boleh pulang".


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi tuan".


"Hem.."


Setelah Audri menutup rapat pintu, Flamini menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia kembali melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. "Sekarang, Ana pasti sudah pulang. Aku akan ke atas melihat hasil kerja mereka", gumam Flamini sambil beranjak dari tempat duduknya.


Sudah seminggu ia tidak bertemu Anabelle, Flamini memang sengaja melakukannya karena ia ingin bekerjasama secara profesional saja namun ia benar-benar tidak bisa menerapkan nya. Perasaan yang di miliki pada gadis itu semakin menyiksa nya.


Flamini menyadari akan perasaan nya pada Anabelle setelah tiga minggu bekerjasama dengan gadis itu. Flamini meminta Sean yang rutin berkomunikasi dan melihat pekerjaan Anabelle dan tim.

__ADS_1


Sean memberi tahu Anabelle dan tim nya bekerja sampai pukul enam sore. Makanya selepas pukul enam Flamini sering naik ke atas melihat hasil kerja desain interior Ana dan tim.


Ting..


Flamini keluar dari lift. Netra nya memandang ke penjuru ruangan. Hari ini sudah banyak perubahan di lantai itu. Ruang tamu sudah selesai di pasang wallpaper. Lampu hias sudah hidup dengan cahaya temaram. Sementara beberapa furniture sesuai keinginan Flamini sudah tertata dengan rapi.


Flamini melangkahkan kakinya menuju luar dimana kolam renang masih dalam pengerjaan. Begitu juga fitness center miliknya masih dalam tahap pengerjaan.


"Not bad. Aku puas dengan pekerjaan mereka. Cepat dan rapi".


Flamini menuju kamarnya. Ia melihat nya semalam, sudah kelar. Pilihan cat serta furniture, Flamini meminta Anabelle yang memilihkan nya. Ia sengaja meminta Anabelle melakukannya.


Flamini membuka pintu kamar itu. Tapi gelap sekali. "Kenapa lampunya mati?", ucapnya dalam hati.


Flamini meraba saku jasnya, hendak mengambil handphone miliknya. "Ah shitt handphone ku ketinggalan di ruangan ku".


Flamini mencari saklar namun tetap saja lampu padam meskipun sudah di tekannya. Hingga ada yang membuka pintu kamar mandi dan menubruknya. Spontan Flamini memeluk tubuh itu.


"Akh–"


Terdengar teriakan wanita. Dan Flamini tahu itu suara siapa, ia juga tahu dari aroma parfum yang tercium indera penciumannya.


"Anabelle!"


"T-uan Cazandro?"

__ADS_1


Tubuh Anabelle gemetaran. Ia merasakan tangan Flamini memeluk pinggangnya. Spontan Ana menautkan tangannya ke depan dada sebagai pembatas tubuhnya agar tidak begitu merapat ke tubuh Flamini.


Bertepatan dengan lampu di nakas hidup dengan sendirinya. Cahaya remang bukannya membuat Flamini melepaskan pelukannya ia semakin menekan tubuh Anabelle agar merapat padanya.


Tindakan Flamini itu semakin membuat Anabelle gugup. Ia berusaha menjauh namun tidak bisa. Flamini memeluknya sangat erat.


"T-uan...


Anabelle mengerjapkan kedua matanya, menatap sayu manik abu-abu Flamini yang berdiri tanpa jarak dengan nya.


"Ah Shitt. Aku tidak bisa menahannya lagi Ana. Maafkan aku!"


Flamini memajukan wajahnya, menyatukan bibirnya pada bibir Ana yang terbuka. Tentu saja perbuatan Flamini membuat gadis itu kaget. Ia berusaha mendorong dada Flamini. Dan terdengar suara mendesis dari mulut Anabelle. Namun Flamini sudah dikuasai perasaan begitu mendalam. Ia mencium Anabelle dengan penuh damba.


Walaupun Anabelle tidak membalasnya sama sekali, tak mengurangi rasa mendalam yang melingkupi tubuh laki-laki itu. Dengan perasaan membuncah Flamini me*umat bibir Anabelle yang terasa bergetar dan dingin.


Seketika Anabelle merasakan tubuhnya gemetaran. Keringat dingin seketika membasahi kening nya. Gadis itu merasakan panas di sekujur tubuhnya sekaligus merasa sedih. Perasaan nya campur aduk.


Cukup lama Flamini mencium bibir Anabelle yang tak membalasnya sekali pun, sesaat ia menghentikan ciumannya dan menatap lekat wajah Ana.


Anabelle pun menatap manik abu-abu Flamini. Kedua mata Anabelle berkabut. Manik bening itu memerah. Flamini melihat buliran-buliran bening menetes menyentuh wajahnya yang pucat pasi.


"Aku bukan wanita murahan tuan Cazandro! Aku bukan seperti wanita-wanita mu itu!"


Anabelle mendorong kuat dada Flamini dan berlari pergi meninggalkan laki-laki itu yang terdiam mematung di tempatnya berdiri.

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2