
Anabelle mengusap air mata yang masih menetes di wajahnya yang nampak pucat. Pandangan matanya menatap jauh keluar jendela taksi yang ditumpanginya.
Ana tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Mulutnya mengeluarkan kata amarah. Namun tidak dengan tubuhnya maupun hatinya. Hingga kini tubuh itu merasa panas akibat ciuman Flamini beberapa saat yang lalu. Ana masih bisa merasakan lu*atan lembut bibir laki-laki itu. Flamini menciumnya seperti laki-laki yang sangat mencintai pasangannya. Namun justru karena itulah yang membuat Anabelle sedih.
"Tidak mungkin. Laki-laki seperti Flamini tidak akan memiliki perasaan pada wanita mana pun. Seperti yang sering di nasihatkan kakak pada ku. Laki-laki seperti itu hanya butuh wanita untuk menemani kesepian nya saja. Tidak lebih". Anabelle kembali mengusap air matanya.
Saat mereka menghabiskan waktu bersama. Acap kali Katty menasehati Anabelle yang tidak pernah menjalani hubungan dengan laki-laki manapun. Selama ini Anabelle sibuk belajar demi mengejar cita-citanya. Ia ingin cepat menyelesaikan kuliah agar bisa menggantikan tugas Katty yang selama ini mengurusi keluarga mereka apalagi sebentar lagi sang kakak memiliki keluarga baru. Ana tidak mau Katty masih sibuk memikirkan ia dan ayahnya. Ana merasa tugas Katty sudah cukup. Sekarang gantian ialah yang harus menghidupi diri nya dan Ethan. Ana tidak mau Katty terus-terusan memikirkan dirinya dan sang ayah mereka.
"Aku harus menjauh. Tidak baik jika kami sering bertemu. Aku tidak mau diriku terjebak dalam hubungan yang tak pasti. Sementara tuan Flamini biasa melakukan hal seperti itu", batin Anabelle berucap dalam hatinya dengan perasaan sedih.
Sejujurnya Ana merasa Flamini sangat baik pada nya. namun bukan berarti laki-laki itu menginginkan nya. "Mana mungkin laki-laki seperti Flamini Cazandro menyukai wanita seperti aku yang biasa-biasa saja. Tuan Flamini sangat cocok bersanding dengan wanita seperti nona Nancy yang glamor dan sangat cantik", ucap Anabelle pelan sambil mengusap air matanya. Gadis itu tertunduk sambil meremas jemari tangannya sendiri.
Anabelle merubah posisi duduknya. Ia menegakkan tubuhnya. "Tapi aku punya harga diri. Aku bukan wanita murahan yang biasa mencari kehangatan satu malam dengan laki-laki manapun. Aku terbiasa menjaga diriku hingga kini".
__ADS_1
*
Flamini merebahkan tubuhnya pada tempat tidur berukuran king size di private room milik nya yang di desain oleh Anabelle. Kamar itu tinggal tahap finishing saja. Memoles sebagian kecil cat yang belum rapi. Sementara furniture yang di pesan Anabelle sesuai keinginan Flamini ada juga yang belum datang. Tapi sebenarnya kamar itu sudah layak untuk di tempati.
Flamini menatap langit-langit kamar nya. Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, dimana ia mencium bibir Anabelle tanpa persetujuan gadis itu.
Sejak Anabelle pergi, Flamini masih berada di tempat yang sama. Ia semakin tampak uring-uringan memikirkan Anabelle. Flamini melihat dengan jelas gadis itu menitihkan air matanya.
"Apa yang sudah aku lakukan pada Ana. Aku sudah menyakiti nya", ucap Flamini sambil memijat keningnya.
"Huhh..."
"Maafkan aku Anabelle. Aku tidak bermaksud menyakiti mu, tapi aku tidak bisa menahan perasaan ini. Maafkan aku..."
__ADS_1
Flamini memejamkan matanya. Bahkan ia tidak berniat untuk pulang ke mansion nya. Kepalanya mendadak pusing.
Jemari Flamini meraba meja nakas hendak mematikan lampu. Tapi tangan nya menyentuh selembar kertas yang tertempel di tombol lampu.
Flamini duduk di tepi tempat tidur, membaca tulisan di note berwarna kuning.
"Masih dalam kebaikan".
Flamini tersenyum membaca tulisan Anabelle yang memberi tahu bahwa lampu masih dalam perbaikan. Wajar saja tadi lampu padam.
"Besok kita harus bicara Ana".
...***...
__ADS_1
To be continue