
Dengan mulut menganga, tubuh Anabelle tercekat, tepat ketika pintu itu terbuka.
Wanita cantik berambut pirang dan seksi menabrak tubuh Anabelle yang masih berdiri terdiam di depan pintu. Sekilas wanita itu menatap Anabelle. Kemudian kembali masuk ke dalam ruangan yang nampaknya seperti private room. Tanpa malu ia mencium mesra pria yang menatap tajam Anabelle yang berdiri di depan pintu. Tubuh laki-laki itu hanya dibalut bathrobe berwarna biru tua yang nampak berantakan.
Sekilas Anabelle menatapnya namun cepat-cepat ia memalingkan wajahnya. Dengan menunduk gadis itu kembali duduk di sofa tempatnya semula. Perasaan Anabelle tak menentu. Banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalanya.
"Siapa laki-laki itu? Apakah ia putra tuan Cazandro? ataukah asisten tuan Cazandro salah mengajak ku masuk keruangan ini?", ujar Anabelle dalam hati nya.
Anabelle masih diliputi rasa kaget karena suara yang di dengarnya tadi dan melihat wanita yang masih berada di dalam tanpa malu mencium mesra laki-laki di dalam sana meskipun ia melihat mereka.
Anabelle mengalihkan perhatiannya dengan membaca berkas-berkas namun sebenarnya ia tidak bisa fokus. Tangan nya hanya membolak-balik halaman berkas dengan tubuh masih bergidik tak karuan.
__ADS_1
Anabelle mendengar heels keluar dari private room, ia tahu milik siapa. Gadis itu pura-pura tidak mendengar dan melihat apapun. Anabelle menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak fokus. Sesaat ia mengatur nafasnya, membuat dirinya sesantai mungkin agar orang lain tidak bisa membaca isi hatinya.
"Honey siapa gadis ini kenapa ia ada diruang kerja mu? Apa dia office girl baru di perusahaan mu?"
Perkataan wanita itu membuat Anabelle mengangkat wajahnya menatap wanita yang mengatakan dirinya sebagai office girl di perusahaan tersebut. Namun Ana tidak mempersoalkannya. Ia tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Kau lancang sekali. Kenapa kau duduk di sofa, tempat mu bukannya di pantry membuatkan minuman atau beres-beres?", ketus wanita seksi itu menatap tajam Anabelle.
"Baiklah Flamini, aku pergi sekarang. Tapi... malam ini aku menunggu mu di apartemen ku, sayang", ucap wanita yang di panggil Nancy itu dengan suara terdengar manja. Wanita itu hendak kembali mencium bibir Flamini namun laki-laki itu menolaknya. Tangannya memegang lengan Nancy.
"Cukup. Sekarang aku akan bekerja! Pergilah! Aku yang akan menghubungi mu jika aku membutuhkan mu!", tegas Flamini dengan wajah dingin.
__ADS_1
"Oke sayang, aku akan pergi sekarang", jawab Nancy mengibaskan rambutnya dan membetulkan dress ketat dan sangat pendek yang membalut tubuh nya. Sembari membalikkan badannya gadis itu menatap tajam Anabelle yang masih tak bergeming dari tempatnya.
Setelah Nancy pergi, di ruangan itu hanya ada Flamini dan Anabelle saja.
Dari tadi Anabelle memalingkan wajahnya tidak mau menatap Flamini. Bagaimana mungkin laki-laki itu dengan cueknya hanya menggunakan bathrobe saja seperti itu menghadapi orang.
"Laki-laki ini tidak sopan sekali!". Anabelle menggerutu dalam hati nya. Sebenarnya perusahaan apa yang bekerjasama dengan nona Verline. Bisa-bisanya dari kemarin aku di hadapkan dengan persoalan tidak profesional seperti ini", umpat Anabelle kesal.
"Bukankah kau yang menabrak ku di rumah sakit waktu itu? Kenapa kau ada di ruangan ku sekarang?"
...***...
__ADS_1