PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
IDE SEAN BIKIN TERSIKSA


__ADS_3



Massachusetts, USA


"Ana... biarkan saja. Nanti Sean dan Jermain membawa koper-koper mu itu ke atas", ujar Flamini saat ia dan Ana sudah sampai di gedung pencakar langit yang merupakan bangunan apartemen di mana salah satunya merupakan unit apartemen milik Flamini.


"Selamat malam tuan Flamini Cazandro", sapa wanita muda yang bertugas di meja resepsionis.


Flamini memberikan senyum tipis pada gadis itu. Flamini menggenggam jemari tangan Anabelle menuju lift khusus.


Saat di dalam lift pun genggaman tangan Flamini tak terlepas masih bertaut dengan jemari Anabelle.


Ana membaca arkilik bening, tertulis lift khusus penthouse.


Ting..


Tidak butuh waktu yang lama, pintu lift terbuka. Kedua netra Anabelle menatap sekitar. Anabelle berdecak kagum melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. Sebuah taman lengkap dengan air mancur di tengahnya.


Taman itu benar-benar menghipnotis Anabelle, ia melangkahkan kakinya. Melihat kolam ikan koi.


"Oh...indah sekali", ucap Anabelle kagum. Bahkan gadis itu tidak sungkan memasukan tangannya kedalam kolam ikan seakan-akan ingin menangkap ikan-ikan itu.


Flamini sedang berbicara dengan pelayan yang menyambut kedatangannya. Sekilas ia menatap Anabelle yang berjongkok dan membungkukkan badannya, sementara tangan kanannya masuk kedalam kolam. Ana tertawa bahagia.


Flamini menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu. "Ana... ayo masuk, apa kau tidak jetlag, setelah terbang lama?"


Seakan tidak mendengar perkataan Flamini, Anabelle asyik dengan aktivitasnya.


Flamini menggelengkan kepalanya. "Ana...ayo masuk! sampai kapan kau mau di sana, sekarang sudah tengah malam".


Anabelle masih tidak perduli. Bahkan ia berhasil menangkap satu ikan yang membuatnya semakin tertawa girang.

__ADS_1


"Ckck...Kau ini seperti anak kecil saja. Apa kau tidak lelah hah? Sekarang sudah malam, Ana".


"Kak ...lepaskan aku. Ihh aku baik-baik saja aku masih ingin melihat taman itu", teriak Anabelle sambil memukul pundak Flamini yang menggendongnya seperti karung beras.


"Kau itu gadis pembangkang Anabelle Patricia", seru Flamini menurunkan tubuh Ana setelah berada di dalam.


"Uhh...kakak sangat menyebalkan sekali!", balas Anabelle memukul lengan Flamini. Namun melihat ruangan mewah dan megah di depan matanya membulat kedua mata Anabelle membulat sempurna menatap tak percaya.


"Hm... aku akui selera kakak sangat berkelas. Pilihan warna dan barang-barangnya begitu elegan", ujar Anabelle sambil memangut-mangut menatap satu persatu furniture di ruangan luas dan bertingkat tersebut. Sementara dari tempatnya berdiri bisa melihat langsung keluar karena dindingnya dikelilingi kaca berdiameter tebal.


Anabelle mendekati dinding kaca dan melihat gedung-gedung pencakar langit lainnya yang tepat berdiri di hadapannya. Lampu-lampu berwarna warni pun nampak sangat menakjubkan.


"Tuan... kamar nona Ana sudah siap", ucap seorang pelayan dengan hormat.


"Antar kan Ana ke kamarnya sekarang, Lony!", perintah Flamini yang duduk di sofa sambil membaca email yang sudah masuk. Seharian ini ia mematikan handphone miliknya, ternyata sudah banyak sekali message masuk.


"Nona Ana, mari saya antar ke kamar nona", ucap Lony dengan sopan.


"Anabelle, sekarang sudah malam istirahat lah. Nanti kepala mu pusing", ujar Flamini sambil berdiri dari tempat duduknya. Dan menatap punggung Ana yang masih berdiri di depan kaca.


"Ana..."


Anabelle membalikkan badannya menghadap Flamini. "Aku belum mengantuk kak. Aku masih ingin melihat keluar. Kakak suka memaksa sekali", seru Anabelle kesal sambil mencebikkan bibirnya.


"Masuklah kamar mu, Lony. Biarkan saja. Ana gadis yang mandiri ia bisa mencari kamar nya sendiri", ucap Flamini yang di sambut anggukan kepala Lony.


Setelah Lony berlalu..


"Kamar mu ada di sebelah sana, yang paling pojok dekat pantry. Kamar ku ada di lantai atas kalau kau membutuhkan ku", ucap Flamini absurd sambil membalikkan badannya menuju tangga lengkung yang terdapat di tengah-tengah ruangan mewah tersebut.


Anabelle menatap punggung laki-laki itu dengan mulut terbuka. Namun ia tidak mengatakan sepatah katapun.


"Oh ya...aku ingatkan kepada mu selama aku berada di sini, sebaiknya kau jangan berkeliaran di tengah malam buta keluar kamar mu. Karena aku menyukai privacy...jadi jangan salahkan aku jika kau melihat ku telanjang di sini", Seloroh Flamini dengan cueknya sambil menaiki tangga.

__ADS_1


Ana menatap punggung Flamini dengan mata melotot, seakan tak percaya apa yang di dengarnya barusan.


"Argh... brengsek. Kalau dia suka privacy kenapa juga menyuruh ku tinggal di sini bersama nya. Uhh.."


Ana melangkahkan kakinya menuju ke kamar yang di maksud Flamini. Dan melihat tiga pintu. Ana membuka pintu yang paling pojok.


Ternyata sebuah kamar yang sangat luas dan nyaman. "Ohh akhirnya aku bisa memejamkan mataku juga. Saat di pesawat aku tidak bisa beristirahat, kak Flami selalu menggangguku", gumam Ana melompat ketempat tidur luas di kamar itu. Ana memejamkan matanya menikmati kedamaian malam di kota Massachusetts yang akan menjadi tempat tinggalnya beberapa waktu ke depan.


Tidak butuh waktu yang lama, Anabelle terlelap dengan pulas dengan nafas teratur. Ana tertidur begitu damai bahkan ia tidak menyadari keadaan sekitarnya lagi. Gadis itu bahkan tidak sempat membersihkan tubuhnya lagi.


"Semuanya sendiri saja. Sangat sembrono". Flamini melihat layar Mac book milik nya.


Laki-laki itu hanya menggunakan training panjang dan bertelanjang dada. Seperti kebiasaannya yang enggan menggunakan pakaian saat malam hari.


Flamini menekan tombol zoom. Ia memperhatikan wajah polos Anabelle yang begitu cantik berada di tengah-tengah tempat tidur luas itu.


Manik abu-abu Flamini tak berkedip menatap Anabelle yang begitu cantik, kontras dengan seprai bermotif bunga-bunga cerah.


Tiba-tiba tubuh Anabelle menggeliat bergerak mengakibatkan kancing kemeja ketat yang membalut tubuh nya terbuka dan memperlihatkan dada putih gadis itu.


"Ah...Shitt".


Flamini berdiri dari tempat tidur dan mengusap wajah tampannya dengan kasar.


"Brengsek. Kenapa juga aku menuruti ide gila Sean memasang CCTV di kamar itu. Akibatnya milik ku tersiksa begini".


"Huh...Sepertinya aku harus mandi air dingin sekarang. Aku terjebak sendiri begini..."



...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2